Sunday, September 7, 2008

Tiga Hari Bareng Aspire One, Kepincut deh...



Mumpung Eko, temanku, pulang kampung ke Jawa, dan meninggalkan Acer Aspire One-nya di kamar, aku menyempatkan menulis beberapa artikel dan postingan ke blog. Juga, mencoba mengetik 10 jari di keyboard yang mungil. Lumayanlah, tiga hari ini bisa ngrasain laptop berbodi putih bersih ini. Jumat kemarin Eko berangkat dari Gambir dan akan tiba di Ibukota pada Senin subuh.

Sepertinya asyik juga bekerja dan mengetik di laptop mungil ini. Aspire One sejajar dengna Asus Eee PC dan kemudian disusul laptop mini lansiran Dell. Kabarnya Acer memangkas harga dari US$ 420 menjadi US$ 360 alias Rp 3,24 jeti. Ehm, jadi pengen juga nih nenteng laptop ini. Apalagi diperutnya, kapasitas hardisk diupgrade hingga 120 gb, bandingan spek yang sebelumnya hanya 8 gb. Tentunya soal harga

dan spek perlu di konfirm lagi. Kapan nih Aspire One seri upgrade mejeng di etalase Ambasador atau Mangga Dua? Sabar... masih indent koq, hehehe. Lagian, jelang Lebaran, kantong makin kering sedangkan kebutuhan juga menggunung. First think first, moga segera sign kontrak di Tanjung Duren, kerjaan di Manggala beres dan cair sebelum lebaran (kemungkinannya sih fifty-fifty), terus pul-kamp ke Jogja bentar, balik lagi ke Jakarta. Laptop? Ntar dulu deh. Lha kalo nikah? Amien, wish we can make it!*

Kucing Garong Nyaris Dapet Tongkol

Layar kaca Sharp berkedip-kedip sejurus jemariku memencet remote control. Seorang kawan laki-laki melintas di ruang tengah dan bertanya basa-basi.

“Lagi santai nih?” tanyanya melambatkan langkahnya menuju ruang sebelah.

“Iya nih. Tapi acara TV-nya nggak ada yang menarik,” jawabku tanpa menoleh.

“Metro dong, presenternya cantik-cantik,” katanya menyentil seleraku.

“Lagi nggak cari yang cantik. Yang manis saja, kayak yang disini nih,” kataku merujuk pada gadis manis yang dari tadi membaca koran di samping depanku, membelakangi layar kaca, sama-sama duduk lesehan di ruang tv ini. Ia sekarang di desk ekonomi sedangkan aku di desk sosial budaya.

Kawan laki-lakiku segera berlalu setelah sebelumnya menyeru, halah! Aku terkekeh.

Si gadis manis mengangkat dagunya. Memandangku sejenak dan meruncingkan bibir seksinya seperti biasa jika ia akan mulai bicara. Cumipok, kata orang. Menggoda untuk dicium, kira-kira begitu artinya. Jangan coba mencari arti baku di kamus. Kalau primbon mungkin ada.

“Sudahlah Mas!” katanya. Matanya seperti menusuk lembut. Mau tak mau, tidak bisa tidak, aku memainkan sudut mata ke arahnya. Mulutku menyeringai siap membalasnya dengan godaan atau lebih tepatnya rayuan, seperti biasanya.

Rupanya ia lebih sigap dan mendahului gerakan bibirku.

“Sudahlah,” ulangnya lagi, “Enggak usah kucing-kucingan lagi!”

Aku tidak menanggapinya dengan verbal. Bibirku menyungging dengan sedikit menarik bibir bawah ke dalam yang membuat bibir atas terdorong maju sedikit. Memonyong, menirukan gerakan bibirnya tadi. Ia balas tersenyum. Seolah tak peduli, kembali membaca koran yang ia letakkan di karpet. Memberi kesempatan mata laki-lakiku mengelus rambut lebatnya yang berbando merah. Juga, menuntun bola mataku sekilas menelusuri belahan di balik kaosnya begitu ia menunduk. Tanpa mengangkat dagu, menegakkan punggungnya sebentar, dan seperti mampu membaca isi kepalaku, ia melirihkan suaranya, “Nggak ah. Kata ... (sekarang akuntan publik di Malang), kamu jalang. Cape deh!”

Aku terkekeh menutupi kaget campur gondok. Seperti kucing nemu tongkol keburu ketahuan empunya. Demikian AW, karibku berkisah ‘nasib malangnya’ jelang sahur tadi.***

Mesjidmu, hatimu


Begitu tertulis pada plakat di masjid Al Alam, Cilincing, Jakarta Utara yang oleh masyarakat sekitar disebut juga Masjid si Pitung. Konon, pahlawan-jawara di masa kolonial Belande sering sholat disitu. Maksud plakat itu, mungkin, kurang lebih mengingatkan kita agar turut memakmurkan masjid, tempat kita beribadat, menyapa Tuhan, memanjatkan doa dan juga gaul. Di masjid, yang tua bisa berbagi cerita atau malah diskusi. Yang muda boleh pula berkawan dan meluaskan pertemanan: antarkawan sekampung sesama jama'ah masjid maupun dengan kawan pegiat masjid dari masjid tetangga.

Pertautan hati jamak pula yang berawal dari masjid. Seperti cerita seorang teman padaku setelah sahur tadi. Masa kecilnya, kira-kira usia 4 SD, ia luangkan pula di masjid terutama saat puasa. Ia sebenarnya dari keluarga abangan, “Sholat bolong-bolong. Rajin sholat pun saat Ramadhan doang,” akunya. Toh, ia bersemangat ke masjid terutama ketika ta'jilan, buka puasa bersama. Di kampungnya, ta'jilan anak-anak dipisah dengan rombongan orang dewasa dan diisi dengan semacam pengajian/kultum yang dikemas interaktif untuk menarik anak-anak. Materinya berkisar tentang kisah nabi-nabi maupun sahabat nabi dan rasulullah. Ringan, edukatif nan menghibur. “Mas Afif, Dadang, Narto,” katanya mengenang mas-mas pengampu kultum ta'jilan.

Tampaknya, kemasan kultum yang bermateri kisah para nabi terbilang berhasil menarik perhatian anak-anak, pun temanku tadi. Ia tekun menyimak tuturan mas-mas dan mbak-mbak Remaja Masjid/Remas. “Aku rajin mengacung dan menjawab pertanyaan tentang cerita nabi,” katanya mengenang. “Misalnya, nama putra dan istri Nabi Ibrahim atau nama kota dan nama perang jaman Rasulullah,” tuturnya. Ketepatan jawabannya didukung oleh kegemarannya membaca buku-buku perpustakaan di sekolahnya. Sepintas otaknya tokcer. Tapi, “Jangan tanya soal bacaan ayat atau hadist sesederhana juz amma pun,” katanya sambil terkekeh. Sekolahnya di SD negeri dan terutama faktor didikan agama di keluarganya membuatnya kurang familiar dengan Al quran dan hadist.

Meskipun demikian, di mata teman sebayanya dan mas-mbak Remas pengampu kultum ta'jilan ia terhitung cerdas dan bersemangat. Ia pun menjadi salah satu anak emas. Acungan jarinya dirindukan jika ia tidak datang ke pengajian. Lantang suaranya yang tanpa malu-malu demi menjawab kuis dari ustad meramaikan tiap sore jelang berbuka.

Soal bacaan surat dan hadist yang terbata-bata, malah makin membuatnya menjadi perhatian. Pun dari seorang lawan jenis. Si teman perempuan sebaya dengannya, kelas 4 SD namun bersekolah di Muhammadiyah yang, tentu saja, telah lancar mengaji dan hapal luar kepala surat-surat Quran dan hadist. Kepada teman-temannya, si cewek bahkan bikin pengakuan soal temanku itu. ”Aku pengen jadi pacarnya. Kalau wis pacaran nanti aku akan ajari dia ngaji,” ujar temanku menirukan testimoni teman-temannya yang mengutip proklamasi cinta si cewek. Pengakuan itu beredar cepat di kalangan teman-teman. Tak ayal menjadi ledekan.

Dasar bocah, temanku cuek saja menanggapi cinta si cewek. Cuek bukan karena tak peduli tapi tidak begitu ngeh dengan ucapan seperti itu. “Pokoknya aku ngerasa senang saja karena tahu kalau diperhatikan. Soal cinta nggak tahulah,” katanya. “Mungkin juga karena bawah-sadar ngerasa minder karena bapaknya tokoh agama di kampung. Haji pula,” akunya lagi.

Konyolnya, meski tahu nama si cewek, ia malah belum mengenal benar sosok dan tampang cewek yang menaksirnya walau tiap sore berada di ruang yang sama. Katanya, “Aku kan main ke masjid ya baru saat itu. Dari lahir memang asing dengan masjid atau mushola.” Apalagi si cewek, menurutnya, berasal dari kampung sebelah meski kedua kampung bergiat di masjid yang sama. “Akrab dengan teman laki lain kampung ya pas puasa itu pula. Apalagi dengan teman cewek, blas nggak kenal sebelumnya,” tuturnya. Lantas tanyaku, mereka pacaran nggak akhirnya? Ia menggeleng, “Bapaknya haji. Kaya. Meski masih kecil tetapi aku sudah bisa merasa kalau ada yang tidak sepadan diantara kami.”*

Kabar dari Kawan yang Hilang


Seorang kawan yang menghilang 4 bulan dari peredaran kembali kutemukan. Ia lantas berkabar menjelang aku berangkat sholat Jumat pertama di bulan puasa ini. “Dalam waktu dekat. Sangat dekat!” katanya begitu menyangatkan di ujung telepon. “Setelah lebaran? Wah selamat ya!” sambutku, yakin dia akan berubah status setelah Ramadhan usai. “Emmm, sang...ngat dekat!” jawabnya dengan intonasi tertahan nan dalam. “Waks...baru kali ini mBak, aku mendengar ada orang nikah di bulan puasa,” kataku sambil terkekeh. “Congrats ya,” sekali lagi aku menyelamatinya. Dia terkekeh senang mendengar permintaanku agar tak lupa mengundangku menyaksikan pernikahannya.

Ehh...pertanyaan dimana, kapan dan dengan siapa si mBak bakal menuntaskan masa lajangnya malah terlewat oleh perbincangan ramai kami selanjutnya. Di dera bunyi tut tut pertanda HP low batt kami bertukar tentang kabar kami masing-masing, juga kabar kawan-kawan sekantor dulu di Cibubur.

Ia masih seperti dulu, berapi-api meletupkan semangat dan etos kerja profesional. “Aku di Bangka sekarang, dari Mampang ke arah Kemang,” katanya tentang kantor barunya di Jalan Bangka, Jakarta Selatan. Posisi redaktur di media cetak dan tengah sibuk bersiap kuliah jenjang S3 di UI menjadi kesehariannya sekarang. “Kemarin barusan wawancara Rachmat Witoelar di KLH trus tadi baru saja nge-mail revisi artikel untuk BSN,” jawabku begitu dia bertanya kerjaanku akhir-akhir ini. Obrolan hangat kami berakhir sejurus mataku mengerling ke jam dinding, 11.25, setengah jam lagi adzan sholat Jumat. “Keep in touch ya!” katanya. Siip!

Friday, September 5, 2008

Temanggung Pesta Tembakau, Sumbing Menyeru-nyeru


Masa panen tembakau di Tembakau tahun ini akan berlangsung lumayan lama, 2-3 bulan. Begitu Kompas Minggu menulis. Bukan soal tembakau sebenarnya yang membuatku teringat tentang Temanggung dengan tembakau yang konon terbaik di Tanah Air. Ya iyalah, kalau bukan terbaik enggak mungkin dua raksasa Gudang Garam dan Djarum membangun jaringan pasokan tembakau di sana.

Kali ini, aku menyebut kabupaten di eks karesidenan Kedu, Jawa Tengah itu karena setahun lalu, tepatnya bulan puasa tahun lalu, kakiku menjejak Gunung Sumbing disana. Bersama karibku, Teguh si anak Administrasi Negara UGM, kami mendaki melalui Parakan. Jalur yang kami pakai dari Pager Gunung dan melalui Cepit. Foto pertama diambil di basecamp kami, tampak di latar belakang adalah Sindoro (3150mdpl). Sindoro sering disebut saudara kembar Sumbing, sebagian kawasan mereka sama-sama masuk wilayah di Temanggung. Bedanya Sumbing lebih besar dan lebih tinggi. Sedangkan Sindoro lebing langsing.

Kami mendaki untuk meramaikan tradisi malem selikuran. Di malam hari menjelang hari ke-21 bulan puasa, masyarakat Temanggung mempunyai tradisi mendaki gunung Sumbing. Kami sih penggembira saja selain karena memang ingin menjajal terjalnya gunung berketinggian 3371 mdpl itu. Sumbing termasuk jenis gunung stratovolcano dan di posisi koordinat 7.384° LS 110.070°.

Kami berangkat dari Jogja pukul 16.30 naik motorku, si Kawasaki Kaze. Ketika tiba di Parakan, Casio-ku menunjuk angka 18.30 saat itu. Parakan sendiri satu kecamatan di Temanggung yang nyaris menjadi kota karena saking ramainya lalu lintas tembakau.

Kami kemudian menuju desa terakhir untuk menitipkan si Kaze ke rumah penduduk. Trek pendakian Sumbing dari jalur Parakan terbilang mudah dijabanin. Soal keterjalan seperti lazimnya gunung lainnya, melelahkan tapi tidak ekstrem. Mengasyikkan sih iya.

Setelah bermalam dan mendirikan tenda di atas kawasan yang disebut, kalau tak salah ingat, Watu Kasur, kami meneruskan pendakian pagi harinya. Setelah berkali-kali istirah

at karena kelelahan, kami akhirnya tiba di kaldera Sumbing pada pukul 09.00 dengan cuaca sangat cerah. Soal cuaca ini, kami sungguh beruntung karena salah satu kekhasan Sumbing adalah kadang kala ada badai besar yang menghadirkan angin yang berputar mengelilingi puncaknya. Kata beberapa pendaki, sering pula badai disertai kilat. Wuihh.... Memang ngeri tapi pemandangan juga sangat indah berupa awan yang berputar cepat, kata mereka. Aku jadi berpikir ulang, apakah sebenarnya kami memang beruntung karena tiada badai atau merugi karena tak sempat menikmati peristiwa alam dahsyat itu.


Kaldera itu lebih mirip lapangan bola bergaris tengah lebih setengah kilometer yang permukaannya berwarna putih keabu-abuan dan datar sedatar muka air. Hal ini karena kaldera Sumbing terbentuk dari kawah yang telah mati dan kemudian mengeras, tak heran jika permukaannya sangat datar. Kawasan kaldera memang luas dan disana terdapat beberapa puncak yang runcing. Menantang untuk didaki.

Di sisi timur kaldera, asap belerang masih terus mengepul dari kawah yang masih aktif. Saya sendiri tak yakin apakah sumber asap belerang itu bisa disebut kawah. Jika iya, maka Sumbing terbilang masih aktif meski tidak seaktif Merapi (2968 mdpl), mungkin Sumbing tengah tidur panjang. Di kawasan kaldera terdapat juga makam leluhur masyarakat Sumbing yaitu Ki Ageng Makukuhan. Disana ada beberapa gua, yang terbesar adalah Gua Jugil.

Puasa Ramadhan dan tulisan Kompas tentang tembakau Temanggung memang kemali mengingatkanku pada Sumbing. Keelokan, kekokohan, dan kepekatan debu kemarau di jalur trek menggodaku untuk mendakinya lagi. Aroma khas pucuk-pucuk tembakau di punggung Sumbing serasa menyeruku untuk kembali menyirami tanah vulkaniknya dengan peluh yang bercucur dan menjejakkan kaki di puncaknya.*

Hujan setahun lalu …


HUJAN sore di Agustus kemarau menyeruakkan aroma tanah yang khas tersiram curahan dari langit. Debu di genting rumah sebelah yang terletak hampir sejajar dengan jendela kamarku, terangkat dari permukaannya.

Sejenak menari ditingkahi deras hujan dan lantas menghilang seiring hembusan angin dari penjuru selatan Jakarta. Hawa dingin tiba-tiba menggantikan gerah yang seharian tadi menguasai ruang kamar.

Campuran aroma tanah, debu genting dan hembusan dingin membawa kembali memori saat aku masih di Jogja hampir setahun silam. Memang, aku sering mengalami suasana yang sepertinya pernah kurasakan pada suatu masa yang lampau.

Mungkin termasuk de javu. Bukan mengenai tempat tetapi lebih soal kesamaan rasa suasana. Saat hujan sesiang kemarin itu, ingatan kembali ketika sendirian di kantor Kelir, Nagan Lor tak jauh dari Kraton Jogja.

Tepatnya adalah saat membuka jendela dan pintu yang sebelumnya saya tutup rapat-rapat karena hujan turun sangat deras dan angin bertiup kencang. Keduanya datang begitu tiba-tiba karena sebelumnya cuaca di atas Nagan terhitung cerah siang itu.

Meski di sisi langit utara terlihat awan menggantung, aku tak menduga jika cuaca berubah cepat dan menghadirkan sedikit ngeri. Hujan benar-benar deras dan angin pun membanting-banting pintu dapur. Ketika itu bahkan boleh disebut badai, tamsil untuk hujan bagai tercurah dari tempayan rasanya tak berlebihan.

Ketika angin kira-kira tak lagi berhembus kencang, aku coba menengok ke luar jendela. Ternyata hujan masih sederas tadi. Air cucuran mengalir deras ke halaman yang lumayan lapang menuju ke drainase kanan kiri jalan yang membanjir, tak sanggup lagi menampung air hujan. Perbedaan suhu di dalam kantor dan luar membuat aliran udara serta merta menerobos begitu jendela kubuka.

Udara dingin menerpa wajah dan lantas menyisir kuping dan kulit kepala. Rasa sepi makin menusuk seiring aroma lembab tanah, denting genting tersiram hujan dan hembusan kencang hawa dingin. Sembribit, orang Jawa bilang.

Saya terpikir akan teman-teman kantor yang dari pagi keluar kantor. Ardian yang mengambil materi brosur di Kotabaru, Wawan yang tengah di percetakan, Iwan yang mengambil film separasi, Mas Timbul yang sedang di warnet mengirim proof desain poster lomba burung via email. Juga Mas Wiwin yang mungkin terkurung di Mazda merahnya berusaha menembus pekat hujan di jalan Magelang dan Nanang yang entah dimana.

Aku juga teringat dua keponakan Hana dan Ali serta almarhum Ibunda yang kasih sayangnya tak lekang dimakan jaman dan tak luntur terguyur air hujan. Nyesss….

Sunday, August 3, 2008

Otoritas

Seorang pemimpin umum media cetak skala nasional pernah meledek reporternya. Ledekan tersebut malah menjadi ironi bagi sang peledek. Ketika itu, awal 2008, berlangsung diskusi rubrikasi media tersebut.

Sang reporter mengutarakan beberapa informasi dan menggunakan istilah angle alias sudut pandang. Ia melafalkannya sesuai lafal yang tepat, ‘aeng:gel. Ndilalah, sang pemimpin umum spontan meledek plus menyalahkan pelafalan angle tersebut. “Keliru tuh, ngawur,” sergahnya. Beliau lantas mengkoreksi dengan pengucapan: ‘einjel. Uppsss, IMHO/In My Humble Opinion, pikir si reporter, lafal seperti itu sebenarnya untuk angel atawa malaikat.

Ndilalahnya lagi, peserta diskusi yang terdiri dari redaktur pelaksana dan beberapa reporter terdiam mendengar koreksi yang keliru tadi. Mungkin sungkan, mungkin malu atau bisa juga ragu kalau ternyata memang si reporter yang keliru. Si reporter juga terdiam, bukan karena malu atau tidak yakin dengan pelafalannya, melainkan kasihan: pelurusan kesalahan berbahasa, terjebak dalam rasa hormat pada pemegang otoritas. Memang ironi, meluruskan omongan seseorang yang terlebih dulu, dengan super PeDe, meledek pihak lain. Wuadhuh!*