Showing posts with label Jalan-jalan n Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan n Kuliner. Show all posts

Wednesday, December 11, 2013

Desa, Kampung Halaman dan Indonesia

Aceh
















JIKA menempuh perjalanan udara, favorit saya adalah kursi yang dekat jendela. Jika menggunakan Boeing atau Airbus yang jajaran kursi penumpangnya enam-enam, maka saya request kursi ..A di sisi kiri atau ..B untuk sisi kanan.

Melalui jendela, pandangan saya lempar jauh-jauh ke horison, mentari yang ranum atau matahari senja yang meredup.

Juga menatap kebawah, seolah mengukur sejengkal demi sejengkal apa saja di bawah sana.

Jika masih di atas daratan, ketika baru saja lepas landas, pemandangan masih sangat jelas. Detail alam bujur-bujur jalan, rumah, pucuk pepohonan, liuk sungai terpapar gamblang. Makin menanjak pesawat, terbentang lanskap daratan yang meluas-melebar.

Monday, December 9, 2013

45 Menit Pertama di Aceh: Gulai Kambing!





PERJALANAN keluar kota hari ini adalah ke Aceh. Dari Bandara Soetta jam 09.30, mendarat di Sultan Iskandar Muda jam 11.50. Cuaca cerah, take-off dan landingnya sama-sama mulus.

Bandara di Aceh kira-kira berjarak 20 menit naik mobil ke pusat kota. Dijemput teman, kami memutar di depan Masjid Raya Baiturrahman dan menuju tempat menginap di Hotel Oasis, Jalan Teuku Cik Ditiro.

Sebelum sampai hotel, mengisi perut kosong dulu di Rumah Makan Ridho Illahi seberang gedung pertemuan Gerdung Sosial, di Jalan Teuku Cik Ditiro, cuma dua menit dari Masjid Raya (itungan naik mobil ye)

Menu utamanya gulai kambing, selain ayam goreng kampung.

"Dagingnya empuk," kata kawan saya. Suapan pertama pun membuktikannya.

Sunday, December 1, 2013

Ambon Manise!

















MENUTUP bulan November, saya main ke Ambon. Trip kali ini terbilang istimewa lantara pertama kali ke ibukota Provinsi Maluku. Juga perjalanan saya paling timur dari sebelum-sebelumnya. Tinggal Papua dan Papua Barat yang belum saya sambangi.

Di sana, waktu kunjungan selama tiga hari dua malam. Tepatnya, berangkat dari Jakarta di Kamis subuh 28 November 2013, jam 05.15 WIB dan baru mendarat di Bandara Pattimura pada 16.30 WIT. Ingat, ada selisih dua jam antara Jakarta dan Ambon. Riilnya, setelah delay hingga 3 jam (take off jam 08.16 WIB) dan transit 30 menit di Makassar, perjalanan udara menggunakan Sriwijaya Air terhitung sekitar enam jam.

Lepas dari agenda inti pekerjaan yang berlangsung sepanjang Jumat dan berlanjut pada Sabtu pagi hingga siang, saya menyempatkan waktu luang dengan keluyuran ke sebagian kecil sudut-sudut Ambon di hari pertama. 

Makan malam di RM Raja Gurih yang kaya dengan menu sea food lalu jalan-jalan ke arah simpang empat Masjid Al Fatah. Nyangking oleh-oleh berupa kue kenari lalu kembali jalan kaki ke Hotel Amaris, tempat menginap.

Thursday, November 28, 2013

Trip luar kota: Yang saya sukai dan ndak saya sukai...


SUDAH empat bulan ini, frekuensi dinas luar kota saya menanjak. Pernah sampai dua kali seminggu di bulan September. Belakangan 3-4 kali sebulan, tiap jalan selama 3 hari.

Tugas yang saya lakukan sih masih soal peliputan dan saya tulis untuk kemudian dikirim ke kantor pusat di Jakarta dan ditayangkan di media massa. Sekalian juga memotret event/kegiatannya.

Nah, ada beberapa hal yang saya nikmati dan ada juga yang ndak saya sukai.

Biar endingnya enak, saya mulai yang ga asyik dulu:
1) Mengetik di mobil.
Entah di BB atau laptop, mengetik di kendaraan yang tengah melaju membuat saya pening minta ampun.

Saya hanya butuh 2 detik, bener-bener dua_detik, tiktoktiktok, sejak menunduk menatap layar gadget dan menjentikkan jari untuk segera didera pusing. Juga mual, perut diaduk-aduk.

Friday, July 23, 2010

Jogja yang Tak Habis-habis



English summary: I was born in Jogja (Yogyakarta, Java, Indonesia). This city give more than good education. My family and its people teach me honestly and how to live among different cultur.

I am living in Jakarta now. But my memories and life-tracks still there. Many best-friend make decision to have a job in this city. Make a family and call it a home. I'd wrote how we welcome to a visitor at Jogja Hospitality. Cheers... Home sweet home as Jogja :)
***

Trunojoyo, Jakarta.
Pembuluh Ibukota itu terbilang lengang kemarin malam. Aku berkuda besi tanpa sentakan gas maupun rem, jalanan memang begitu lapang bagi roda dua.

Melirik speedometer, jarum kecepatan mentok di angka 40, terpatok pada gigi persneling 2 dan 3. Wuihhh... laju sepelan ini bukanlah watak Jakarta. Dan aku menikmati alunnya tanpa terburu.

Saturday, July 17, 2010

Kuliner Enak, Tak Perlu Jauh-jauh



English summary: Often, we are too busy to find where to dinner-out. Stuck in busy world, make us not aware about surroundings. Even some interesting and friendly-budget hotspot is nearby, we go to other
place more faraway.

Sometime, we just need to close our eye for global food brand. Just enjoy lunch and dinner by ourself option. Freedom our taste and save our money :) 
***

Terjebak di dunia yang makin sibuk dan padat, kadang kita berpikir terlalu jauh. Pun dalam soal makan.

Istriku, sebelum kami menikah, ngekos di daerah Batusari hingga 2 tahun. Posisinya hanya satu tikungan dari kawasan sibuk kampus Binus. Juga masih satu jalur dari simpang tiga dekat Pasar Sentra Bunga Rawa
Belong, Jakarta Barat.

Orang bilang, tak sampai selemparan batu pula dari Palmerah, Jakarta
Pusat. Bilangan ini memang area perbatasan Jakpus, Jakbar bahkan
Jaksel (Kebayoran Lama).

Wednesday, January 6, 2010

Tikus Jakarta di Manado


"Di setiap kota yang aku sambangi, aku enggan bangun siang di pagi pertama"




Aku suka jalan-jalan. Termasuk dalam perjalanannya hingga sampai di tujuan dan pulangnya. Aku juga mengangguk jika orang bilang journey is the destination, perjalanan itulah yang menjadi tujuan. Jika sampai tujuan, perjalanan akan terus berlanjut.

Aku akan menyerusuk ke tempat-tempat menarik yang sering ditulis di majalah wisata atau buku panduan wisata. Atau malah mencoba tempat-tempat yang jarang dibicarakan oleh media arus utama. Dipandu oleh cerita dari mulut ke mulut atau hasil browsing di internet, mengintip postingan kawan blogger atau backpacker yang lebih dulu menemukan surga tersembunyi di suatu daerah.

Awal Desember tahun lalu, aku mendapat kesempatan ke Manado, nun di Sulawesi Utara. Tugas kantor liputan kongres sebuah organisasi profesi. Acaranya berlangsung Senin dan Selasa, menumpang Boeing 737-900ER-nya Lion Air aku telah mendarat di Sam Ratulangi pada Minggu petang.

Instruksi dari kantor, tempat acara di Novotel Manado. Tanpa dijelaskan di jalan apa dan berada di sisi mana dari Manado, apakah di tengah kota, di pantai atau malah lepas pantai, wuihhh. Okelah kalo beg-gitu, batinku. Untunglah, sebelum berangkat aku sempat menelpon kawan asal Manado yang tinggal di Jakarta untuk mendapat info soal akomodasi di kota pesisir itu. Soal hotel yang sesuai bujet yang dekat dengan tempat acara, moda transportasi serta posisi Novotel.

Fendry, kawanku itu bilang, Novotel di tengah kota tepatnya diapit jalan utama, Sam Ratulangi dan Boulevard. "Ada beberapa hotel di sekitar Novotel. Kau menginap di Wakeke saja. Di situ ada Hotel New Queen, dari situ ke Novotel bisa jalan kaki 3 tikungan 10 menitlah," terangnya. Ia fasih soal navigasi jalan-jalan di Manado karena meski lahir dan besar di luar kota Manado, Fendry bersekolah SMA tak jauh dari Wakeke. "Beradu punggung," katanya.

Berbekal informasi kelas A-1, info kelas wahid dari seseorang yang tahu seluk-beluk kota tujuan, langkahku mantap begitu sejak mendarat. "Ke Wakeke!" suaraku bulat setelah menerima tawaran sopir taksi bandara. "New Queen ya?" tanyanya menebak. Aku mengangguk mantap. Hari telah gelap, angka di arloji menunjuk angka delapan.

Sepanjang perjalanan, bak turis kegirangan, mataku jarang lurus ke depan. Lebih sering menyururi kanan-kiri. Suasana jelang natal begitu terasa, ABG sibuk bersiap konvoi dengan mobil. Misalnya di daerah Kairagi, deretan Avanza, Xenia dan Kijang berjejer di pinggir jalan. Pintu belakang sengaja dibuka mendongak lebar-lebar ke atas, mereka asik berdesakan di pantat mobil, menjuntaikan kaki mereka.

Hey ini Manado bung, pekik batinku. Sejurus dengan mayoritas warga pemeluk agama Katolik dan Kristen, sepanjang jalan ke arah janting kota, gereja-gereja berdiri anggun. Kalau di Jawa, ya masjid.

Ketika rumah-rumah mulai merapat pertanda mendekati tengah kota, aku baru ingat untuk menanyakan letak Hotel Novotel. Yogi, sopir taksi, menunjuk ke arah kanan depan. "Itu pak, Wakeke sebentar lagi," katanya, satu pertanyaan dijawab dua jawaban yang saling melengkapi. Dia tahu banget informasi yang dibutuhkan orang asing seperti aku.

Setelah memutar setir tiga kali, taksi perak memasuki halaman hotel New Queen. Hotel bintang tiga dengan halaman luas. Tiga mobil terparkir kaku disana. Bell boy menyambut ramah, disusul resepsionis setengah membungkuk riang. Tamu datang membawa rejeki, mungkin begitu batinnya.

Seperti kebiasaanku di setiap hotel yang aku tumpangi: bertanya ini-itu untuk lebih mengenal kota yang aku singgahi sebelum menghitung langkah menyusurinya. Pertanyaan pada sopir taksi tadi kuulangi lagi untuk resepsionis: di mana letak Novotel.

"Di situ kan, ujung Sam Ratulangi yang catnya kuning gading?" kataku yakin berbekal info dari Fendry dan dikuatkan sopir taksi.

"Bukan Pak!" jawabnya tak kalah yakin. "Dulu di situ, gedungnya tetap ada tapi diganti jadi Rits Hotel. Novotel sudah pindah ke arah bandara," sambungnya menyusul gelagat kagetku.

Aku tercekat, waduh salah hotel nih. Mestinya aku memilih hotel yang dekat dengan Novotel, kalau ada. Terbayang sudah, esok hari tidak bakal deh aku lenggang kangkung 3 tikungan 10 menit ke Novotel. Tergambar juga, senyum bahagia sopir taksi pagi-pagi mengantarku.

"Jauh ya?" tanyaku meringis garing, berharap ia akan menjawab, 'dekat kok'. Ia terdiam sebentar, mungkin menghitung dengan kira-kira. Waduh, batinku, kalau ia saja sampai harus menghitung-hitung, pasti jauh nih. Dan, benar saja.

"Jauh Pak. Lima belas kilo dari sini, ke arah bandara, memang di luar kota." Waksss, dia bilang 'jauh', tanpa embel-embel cukup jauh, lumayan jauh atau relatif jauh. Jauh ya jauh.

Memang. Karena aku harus menengok tempat acara, setelah mandi dan ganti baju, malam itu juga aku naik taksi ke Novotel. Di belokan tak jauh dari hotel, plang penunjuk arah bertuliskan: Bandara Sam Ratulangi 18 km. Ku tahu kemudian, Novotel berjarak cuma tiga kilometer sebelum bandara. Argometer taksi pun mengerling genit di angka Rp 53.500 begitu aku sampai gerbang Novotel.

Kutarik nafas dalam-dalam seolah tak mau rugi. Oksigen Manado harus banyak-banyak kuhirup lha wong bolak-balik New Quen-Novotel butuh Rp 100.000 je, batinku. Ndak usah pusing amat dah, aku udah sampai Manado, here I am! Sekian rencana esok hari untuk lebih intim dengan Manado berderet mengembang di senyumku. Tetep sumringah as always qe3


Belok Kiri: Bubur Manado









http://www.suaramanado.com/img_berita/Wakeke%20Tinutuan.jpg


Seperti ku bilang tadi, esok paginya aku sengaja bangun pagi-pagi. Olala, ternyata aku jendela kamarku menghadap ke ufuk timur. Langit memerah sebelum mentari mengintip. Selesai mandi air hangat di bath tube, aku langsung keluar hotel. Langkahku panjang memaksa paru-paru bekerja lebih untuk menghangatkan suhu badan, menepis dingin pagi.

Agenda yang telah terbayang, pagi-pagi akan kususuri jalanan utama Manado: Sam Ratulangi, Boulevard dan ku tengok Teluk Manado. Rencana itu buyar begitu aku belok kiri sekeluar halaman hotel.

Waaaa… ternyata New Queen bertetangga dengan Pinotuan Wakeke, rumah makan bubur Manado. Segera aku masuk kesitu, memilih duduk di sudut. Memesan menu bubur manado komplit dan bakwan plus membeli koran lokal: Tribun Manado, Manado Post, Komentar dan beberapa koran lainnya.

Sambil menekur menunggu pesananku datang, aku bersyukur 'salah' tempat menginap. Atau tepatnya, inilah kawasan yang bener kalau menginap di Manado. Tengah kota, sesuai bujet, tepat di kawasan jajan. Ibarat jalan Sabang di Jakarta.

Jauh dengan Novotel tak lagi ku pikirkan. Toh kulihat sendiri semalam, tidak ada hotel yang berdekatan dengan Novotel. Bahkan kanan-kiri hotel berbintang 5 itupun sawah dan ladang penduduk. Benar-benar di luar kota.

Meski Fendri juga belum tahu kalau Novotel telah pindah tapi ia tuan rumah yang baik dan memilihkan hotel untukku dengan tepat. Apalagi, setelah jalan kaki ke ujung jalan, di situ berdiri gapura mengucap salam: Selamat Datang di Sentra Wisata Kuliner Jalan Wakeke, Manado. Yihaaa… aku merasa jadi seekor tikus di gudang keju!

Breakfast Out

Selain rumah makan yang aku sambangi, masih ada tempat makan enak lain di sepanjang Wakeke. Di seberang New Queen, rumah makan Ikan Bakar menawarkan masakan laut. Kuperhatikan, sejak sebelum jam 6, parkiran telah penuh dengan mobil. Beberapa diantaranya plat merah dan plat hitam DB, pemiliknya berarti warga Manado dan sekitarnya. Busyet dah, orang sini memang doyan memanjakan lidah. Sarapan saja dibelain di luar rumah. Esok harinya, Selasa, giliran warung makan sebelah kanan hotel yang kucoba. Yummyy...

Hingga aku pulang pada Rabu sore, ku tahu persis Manado punya bejibun 'episentrum' kuliner yang mengguncang selera lidah, merentang di Samrat, Boulevard hingga sepanjang garis pantai Teluk Manado.

Benar juga sepotong lirik yang didendangkan saat pesta perpisahan penutup acara kongres di salah satu rumah makan di teluk Manado: … di Manado ku ingin hidup seribu tahun lagi, du-du-du-duuu…*

PS: trims buat Fendri Ponomban *maaf, ndak sempat nenteng saledo ke Manggarai :D*, Budi Susilo dan Dian Pangemanan 'Tribun Manado'.