Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Wednesday, December 11, 2019

Suka Road Trip? Ini Latihan Fisik Agar Prima Sepanjang Perjalanan

Saya suka jalan-jalan dengan mobil di akhir pekan. Apalagi sebagai warga Bogor, banyak tempat destinasi wisata untuk disambangi sekalian jadi ajang road trip saban weekend. Ada yang sudah lama eksis maupun lokasi anyar.

Pengalaman saya nih, jalan-jalan dengan kendaraan ternyata nggak cuma sekadar tinggal duduk dan pegang setir lalu berbaur dengan kendaraan lain di jalanan. Tapi selain itu, kondisi fisik kudu prima karena perjalanan kadang lama juga bolak-baliknya.

Sepertinya sih dekat-dekat saja, tapi tidak terasa ternyata juga tetap berjam-jam juga meskipun tidak berarti sehari-semalaman seperti jalan ke kampung halaman. Namun ya tetap 2-4 jam di jalan dengan posisi badan yang kurang banyak gerak.

So, saya coba sarikan latihan-latihan fisik yang sekiranya mendukung agar kita tetap sehat, prima, dan tidak gampang pegal. Eits, pastikan juga kendaraan juga prima dengan perawatan rutin mobil dari ganti oli mesin, transmisi, gardan dan cek rem.

Sebelum masuk ke jenis latihan fisiknya, yuk kita menelisik rasa tidak enak yang biasa dirasakan para pengendara atau driver atawa istilah kita-kita mah: pilot hehehe.

Pertama yang sering saya sendiri rasakan , pegal di lengan dan bahu karena posisi statis memegang setir kemudi. Kedua, pegal di pinggang terutama pinggang belakang hingga pantat atas. Ketiga, ialah paha dan betis.

Nah, latihan fisiknya pun berangkat dari 3 hal di atas yakni:

1. Penguat bahu dan lengang dengan PUSH UP

Push up









Sejatinya, yang dibutuhkan untuk penguatan otot bahu dan lengan ialah jenis-jenis latihan beban seperti mengangkat dumble. Hanya saja, saya sengaja memilihkan jenis latihan yang tanpa alat supaya simpel namun tetap efektif.

Latihan push up fokus menyasar otot bahu atas dan dada. Selain itu juga bermanfaat pula bagi lengan.  Push up juga baik bagi perbaikan postur dan penguatan core atau inti tubuh.

Bagi yang belum terbiasa push up, mulailah dengan 3 set masing-masing 5 repetisi atau lima hitungan turun naik. Jika sudah beradaptasi, tambahkan jumlah repetisi misalnya set pertama 7 reps; set 2 10 reps dan set 3 12 reps. Atau kita bisa kombinasikan jumlah repetisi lainnya.

Prinsipnya ialah lakukan push up dalam 3 set terpisah dan jangan sekaligus 1 set meskipun jumlah repetisinya jadi banyak.


2. Fleksibilitas pinggang, pantat/glute dengan SQUAT


Gerakan squat
Yang mudah dan efektif ialah lakukan squat (bisa ditambah dengan lunge). Latihan squat dan lunges bagus banget untuk paha depan, sedikti paha belakang dan pantat.

Sepengalaman saya, latihan penguatan pinggang dan pantat ini bikin posisi duduk lebih tahan lama dan sekaligus mendongkrak fleksibilitas. Yang paling dirasakan sih: tidak gampang pegal.


3. Penguatan paha dan betis

Sumber
Aktivitas nyetir juga banyak menggunakan kaki untuk gas, rem dan kopling. Bahkan pengguna mobil matic seperti saya, meski terbebas dari ngopling-mengopling, tetap butuh penguatan otot betis hehehe

Enaknya untuk penguatan paha ialah kita sudah mendapat benefitnya dari latihan squat dan lunges di atas. Tambahannya ialah a. berupa peregangan betis dan paha dengan gerakan mencium lutut dan b. gerakan jinjit di anak tangga.

Bagi kita-kita yang hobi lari, sebenarnya aktivitas positif tersebut sangat membantu stamina dan daya tahan ketika kita nge-road trip. Apalagi sebagai runner kita terbiasa melakukan strength circuit training yang beberapa gerakannya berupa push up dan squat.

Salam sehat dan jalan-jalan :)

Sunday, August 20, 2017

Manado, Klapertart dan Kangen

Kaplertart (inung gunarba)


Menengok isi hardisk laptop, mata saya segera terpaku pada folder 'Manado'. Isinya penuh dengan foto-foto plesiran dan kuliner ketika beberapa kali saya menyambangi kota cantik di Sulawesi Utara itu.

Di sana, saya menyambangi beberapa tempat wisata dan belanja. Tentu saja juga tempat makan. Manado memang kota tujuan wisata yang komplet. Banyak spot wisata alam dan ragam makanannya memanjakan lidah, dari masakan laut, makanan berbahan sayuran hingga kue, termasuk bubur manado.

Nah saya sungguh beruntung ke Manado menyempatkan diri menyantap kue ikonnya Manado: klapertart. Lidahnya saya segera mengecap gurihnya kelapa dan olahan terigu dan bahan lainnya.

Selain makan di tempat, satu kotak klapertart juga saya bawa pulang ke Jakarta, oleh-oleh untuk istri dan anak saya. Meski tidak ikut ke Manado, icip-icip kue enak jangan sampai terlewatkan :)

Untuk urusan makanan laut, tempat-tempat makan yang saya datangi juga istimewa. Meski lupa namanya, di antaranya ada di tepian laut dan di tengah kota.

Pada kesempatan yang lain, saya juga pergi ke kota lain di Sulut yaitu Tomohon dan Bitung. Masakan khasnya juga enak. Paling saya sukai adalah masakan olahan dari sayur, entah apa namanya. Lha wong saya tahunya enak dan enak banget :D

Tak terasa, hampir dua tahun saya tidak lagi jalan-jalan ke Manado. Melihat foto-foto perjalanan membuat saya teringat ramai kotanya, pemandangan teluk Manado dengan latar belakang Pulau Manado Tua dan Bunaken di kejauhan dan jajaran nyiur pohon kelapa di pesisirnya.

Kapan lagi ke Manado ya? :)

Wednesday, November 9, 2016

Tanah Air


Indonesia tengah malam.

Jika kebetulan mantengin siaran televisi seperti RCTI, iNews, Trans dan Metro dan pas sedang memutar video klip lagu kebangsaan, saya selalu terkesiap.

Menahan napas, menatap lekat-lekat wajah negeri ini di layar kaca, menyimak lirik 'Tanah Airku" nya Ibu Soed dan "Indonesia Pusaka" ciptaan Ismail Marzuki.

Sungguh saya berasa tersedot, ditarik ke setiap sudut Indonesia seperti terpampang di televisi.

Di sinilah saya di Indonesia.

Dan sungguh saya bersyukur lahir dan beruntung mengunjungi pelosok-pelosok negeri.

Pekerjaan saya yang keluyuran sebagai jurnalis, periset di kelompok usaha lumayan besar, sempat bertugas sebagai humas di lembaga publik, dan terakhir mendampingi salah satu 'pembantu Presiden' di bidang perindustrian :) ... memberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tanah kelahiran ini.

Alhamdulillah, oksigen dan pasir pantai ujung barat hingga timur, utara dan selatan pernah saya hirup dan jejaki.

Tak hanya sekali saya mbrebes mili, diam-diam berlinang air mata ketika pesawat yang saya tumpangi melayang rendah di atas persawahan Aceh, meliuk di perairan Bunaken dan merayapi pulau-pulau di ujung Sulawesi Utara.

Jika bukan soal mata, kali lain tarikan napas saya terasa berat ketika menapak dataran tinggi Papua dan melihat dari kejauhan salju Puncak Cartenz.

Di kepulauan Tual, Maluku Tenggara, saya selonjoran di Pantai Pasir Panjang/ Ngurbloat yang sering disebut salah satu berpasir terhalus di dunia dan paling halus di Asia :)

Tentu saja, seperti pelancong kebanyakan, saya banyak mengambil foto. Itu bentuk bersyukur juga lho... saya tunjukkan dan ceritakan tentang indahnya dan kayanya Indonesia pada anak kami.

Selain itu, rasa syukur juga saya tumpahkan dengan cara yang lebih personal he-he-he: lari pagi.

Yeahhh... Meski tidak berlari di setiap tempat yang saya kunjungi, tetap saja saya sangat beruntung pernah mengukur jarak dan memenuhi paru-paru dengan oksigen Banda Aceh, Tanjung Enim, Bangka, Pontianak, Manado, Bali, Ambon - Tual, Maluku, dan berlari pagi di bawah barisan nyiur di pantai cantik di tepi selatan Indonesia: Nemberala, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Sungguh. Negeri kita sungguh luas dan kaya pesona :)

* Foto-foto menyusul yak :)

Sunday, December 1, 2013

Ambon Manise!

















MENUTUP bulan November, saya main ke Ambon. Trip kali ini terbilang istimewa lantara pertama kali ke ibukota Provinsi Maluku. Juga perjalanan saya paling timur dari sebelum-sebelumnya. Tinggal Papua dan Papua Barat yang belum saya sambangi.

Di sana, waktu kunjungan selama tiga hari dua malam. Tepatnya, berangkat dari Jakarta di Kamis subuh 28 November 2013, jam 05.15 WIB dan baru mendarat di Bandara Pattimura pada 16.30 WIT. Ingat, ada selisih dua jam antara Jakarta dan Ambon. Riilnya, setelah delay hingga 3 jam (take off jam 08.16 WIB) dan transit 30 menit di Makassar, perjalanan udara menggunakan Sriwijaya Air terhitung sekitar enam jam.

Lepas dari agenda inti pekerjaan yang berlangsung sepanjang Jumat dan berlanjut pada Sabtu pagi hingga siang, saya menyempatkan waktu luang dengan keluyuran ke sebagian kecil sudut-sudut Ambon di hari pertama. 

Makan malam di RM Raja Gurih yang kaya dengan menu sea food lalu jalan-jalan ke arah simpang empat Masjid Al Fatah. Nyangking oleh-oleh berupa kue kenari lalu kembali jalan kaki ke Hotel Amaris, tempat menginap.

Thursday, November 28, 2013

Trip luar kota: Yang saya sukai dan ndak saya sukai...


SUDAH empat bulan ini, frekuensi dinas luar kota saya menanjak. Pernah sampai dua kali seminggu di bulan September. Belakangan 3-4 kali sebulan, tiap jalan selama 3 hari.

Tugas yang saya lakukan sih masih soal peliputan dan saya tulis untuk kemudian dikirim ke kantor pusat di Jakarta dan ditayangkan di media massa. Sekalian juga memotret event/kegiatannya.

Nah, ada beberapa hal yang saya nikmati dan ada juga yang ndak saya sukai.

Biar endingnya enak, saya mulai yang ga asyik dulu:
1) Mengetik di mobil.
Entah di BB atau laptop, mengetik di kendaraan yang tengah melaju membuat saya pening minta ampun.

Saya hanya butuh 2 detik, bener-bener dua_detik, tiktoktiktok, sejak menunduk menatap layar gadget dan menjentikkan jari untuk segera didera pusing. Juga mual, perut diaduk-aduk.

Wednesday, August 15, 2012

Mudik



Sabtu kemarin saya mengantar istri dan si kecil Kaka mudik ke Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Dengan Lion Air berangkat dari Cengkareng, Bandara Soekarno-Hatta tujuan Palembang, ini penerbangan pertama bagi mereka berdua. Ada kekhawatiran pada awalnya, juga antusiasme.

Sejatinya, kami ingin pulang kampung seminggu lebih awal. Lantaran mesti beberes rumah usai pindahan, akhirnya mundur satu pekan.

Persiapan kami bukan sekadar memesan tiket dan memastikan jemputan di bandara. Bukan teknis seperti itu. Malah kami, terutama Bundanya Kaka, sempat was-was bagaimana dengan Kaka yang masih setahun 8 bulan untuk terbang dengan pesawat.

Yang kami tahu dan dengar, mengajak anak kecil apalagi bayi mesti hati-hati. Pertama, kalau boleh mengurutkan, soal pengaruh tekanan udara di pesawat terhadap gendang telinganya. Tekanan udara yang berbeda, dikhawatirkan berdampak pada pendengaran si kecil.

Saturday, June 16, 2012

Pulang



Dari kegemaran saya soal travelling, perjalanan pulang tetaplah yang paling saya sukai.

Pulang bagi saya bukan lagi identik tentang satu kota tujuan. Sampai usia 30 tahun saya memang tinggal di kota kelahiran Jogja.

Lantas menikah dengan Bundanya Kaka yg berkampung halaman Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Kini, kami tinggal di Palmerah, Jakarta.

Perjalanan ke tiga kota itu saya anggap sebagai pulang. Dari Jakarta, saya menikmati perjalanan ke Jogja. Begitu juga ketika kembali ke Ibukota.

Deru derak roda kereta saya nikmati. Pula, keramaian di ruang tunggu bandara. Juga, hiruk pikuk di Merak dan aroma ruang-ruang kapal feri menuju Bakauheni ketika menyeberang ke Sumatera.

Monday, February 8, 2010

Bejo dari Driyarkara










Hari ini Omm Janu memanggil anak-anak lagi. Pesannya singkat: Manggala Wanabakti, Minggu, 5 Februari 1989, jam 7 malam. Standby jam 5.



"Jangan telat dan baju bersih," ujar Teguh mengingatkanku lisan.

Asyikkk... Batinku terpekik. Job jadi pelayan di acara resepsi minggu ini akhirnya terisi. Aku sempat khawatir karena sampai Jumat ini tidak ada kabar baik.

Apalagi, Manggala, gedung yang di kompleks Departemen Kehutanan itu, salah satu tempat favorit anak-anak. Bukan soal auditoriumnya yang luas dan fasilitasnya komplit. Itu mah urusannya si penyewa gedung.

Buat kami gedung seperti Manggala yang memiliki banyak sudut-sudut tersembunyi dan banyak ruangan lah yang masuk kriteria favorit.

Di tengah acara resepsi, kami sering atau sebut aja kadang kala, menghindar dari tanggung jawab: kabur ke teras masjid yang berjarak 2 unit gedung sambil mengunyah lemper atau menenteng nasi kuning plus ayam goreng garing sebelumnya.

Jangan tanya ayam crispy atau french fries karena waktu itu baru ada ayam tepung dan perkedel.

Kalau mau jujur, bolehlah disebut kami bandel. Cuma, kalau boleh pake alasan, yah gimana kami tidak 'iseng' kalau berangkat dari Ciputat perutku kosong dari pagi.

Atau, seperti Abduh yang tersuruk-suruk kelaparan dari Depok, lantas mengantar nasi, sayur sop sampai ice cream untuk tetamu. Si perut yang keroncongan, demi melihat sang tangan mengulurkan hidangan pasti berteriak soal keadilan.

Jadilah kami menunduk-nunduk mengunyah yang sempat kami embat di sekitar tempat acara.

Oh ya, kalau disebut kami meninggalkan tanggung jawab, sejatinya kami tetap melakukan kewajiban. Hari Minggu itu aku dan kawan-kawan sudah datang ke Manggala sejak jam setengah 4.

Okelah kalau dibilang rajin. Jujur saja, lebih karena awan mendung di atas Jakarta yang terlihat dari arah selatan. Prinsipnya, kami harus mendahului hujan. Kalaupun kehujanan, dengan datang lebih awal, kami bisa menyiasati kemacetan.

Juga, kami tahu persis kerepotan Omm Janu kalau air turun dari langit. Tempat menaruh makanan, perangkat piring dan gelas harus bergeser. Kalau sudah begini, tenda atau terpal mesti dipasang di bagian belakang gedung.

Meski tugas pokok cuma mengantar hidangan dan beberes alat makan, kami mesti berbuat lebih untuk orang sebaik Omm Janu.

Terpal biru pun kami bentangkan di celah-celah tembok belakang. Bukan cuma air hujan, tempias juga haram terpercik masuk ke kuali sop apalagi terkena kerupuk udang.

Setelah itu kami tetap solo-bandung alias standby.

Untunglah, Bu Munji memberi isyarat pada Antok. Tak perlu menunggu nanti malam, sore itu kami berlima belas makan nasi putih plus telur bumbu komplit dengan tempe dan sambal kering. Jangan bayangkan banyaknya melimpah.

Masing-masing 10 suapan nasi sudah lumayan buat mengganjal perut. Tak berpiring dan tanpa sendok, nasi digelar di 3 nampan besar. Makan keroyokan di selasar pun sama nikmatnya dengan di aula Manggala.

Jam 7 kurang seperempat kami sudah merapik an diri dan bersiap di pintu. Setelah itu semua berjalan begitu mekanis: hilir mudik mengantar 6 piring dan kembali ke belakang membawa hidangan untuk tamu yang lain.

Meski sore tadi sudah makan, tabiat kami malam itu tak juga berubah. Memang sih tidak terlalu lapar tapi, ah lagi-lagi pembelaan diri, menu kali ini super istimewa. Sayang kalau anak-anak tidak kecipratan enaknya.

Selain menu standar ala nasi sop, juga komplit dengan sate ayam dan kambing. Minumnya bukannya cuma sirup atau coke, tapi juga koktail. Ice creamnya bukan buatan rumahan tapi Tip Top Cipete.

Begitulah. Jam 9 kurang seperempat, menunggu tetamu menghabiskan menu terakhir, anak-anak sukses mengendap ke masjid Manggala. Di teras sebelah tempat wudlu yang remang-remang, aroma sate menguar diiringi cekikikan kami. "Hebring dah...," Desis Antok terkekeh.

Waktu kami cuma 20-an menit. Kalau kelamaan, Omm Janu pasti sudah kebingungan mencari kami untuk menyuruh beres-beres. Jangan sampai ia menyadari kalau anak-anak tidak ada di dapur.

Ceban
Jam sepuluh tugas kami selesai sudah. Upah yang kudapat sama dengan yang lain, seperti biasa, Rp 10.000. Duit segitu lumayan bagiku. Ongkos metromini Rp 100 alias cepek. Makan nasi telur cukup Rp 500 atau kalau mau sepotong daging ayam, cuma Rp 700.

Itulah kalkulator biaya hidupku.

Pulang dari Manggala, tubuh lelah kurebahkan sesampai Ciputat. Esok ada kuliah pagi-pagi di kampus IAIN Ciputat.

Untungnya, kelas Sejarah Dialektika Modern di Driyarkara hari ini jadi kelas diskusi. Artinya, aku tidak harus belajar khusus. Cukup datang, duduk, ikutin alur. Aman meski terkantuk-kantuk.

Aku memang kuliah di dua jurusan di dua kampus yang jaraknya tak terhitung kilometernya. Yang terbilang cuma waktu tempuh antara keduanya, naik Patas 65 Ciputat-Senen butuh waktu 1 sampai satu setengah jam.

Turun di Salemba, depan persis UI, lalu menyeberang ke ujung jalan Percetakan Negara, 15 menit jalan kaki bisalah sampai ke kampus yang bikin Ibuku geleng-geleng.

Pertama, filsafat itu apa. Kedua, bisa kerja apa. Ketiga, masih lebih jelas di IAIN: "Habis lulus, bisa kerja di Departemen Agama. Atau jadi guru di Madrasah Aliyah pamanmu di Cimahi," begitu beliau memetakan masa depanku.

Meski tak pernah bilang tidak merestui, toh ia diam saja aku kuliah filsafat. Uang kuliah dan transport ia penuhi. "Gak ada uang jajan!" Tegasnya sebelum aku bertanya. Nah dari job resepsian itulah aku bisa sedikit merasakan makan enak.

Imbas kampus istimewa
Keraguan Ibu ternyata membawa sinyal apes. Berkali-kali, kalau tidak salah ingat, aku kedapatan sial gara-gara menyandang status mahasiswa Driyarkara.

Satu, anak-anak sekitar rumah mencap aku sombong. Ini sejatinya konsekuensi kuliah double. Tapi memang aku jadi jarang nongkrong sejak wira-wiri Ciputat-Salemba.

Dua, teman kuliah salut padaku. Cuma, karena referensi yang berbeda maka obrolan dan diskusi di Ciputat sering mandeg. Aku sih easy going, tapi mereka lebih memilih terdiam dan pasif, tidak serulah kalau dialog bergeser jadi monolog.

Tiga, ini yang konyol. Pernah aku dikerjain kernet 65 sepulang dari Driyarkara. Saling kenal wajah, ia pun mahfum juga kalau aku kuliah di kampus filsafat. Mungkin ia bisa mengenali mana tampang UI, mana wajah Driyarkara. Hanya dia yang tahu rumusnya.

Kuliah malam hari Kamis yang kelar jam 8 membuatku terkantuk sejak Megaria. Begitu bis besar itu berbelok masuk ke Sudirman, bablaslah tertidur pulas.

Bangsat memang. Ketika sampai kampus IAIN bahkan pasar Ciputat tak juga ia membangunkanku. Kubayangkan ia pasti kongkalingkong dengan sopir bergigi ompong itu.

Aku akhirnya bangun ketika nyamuk berdenging dan menggigiti kakiku. Plak, plak, plak. Tanganku sibuk menabok dengan mata tak penuh membuka. Tak ada jejak darah di tanganku. Sableng.

Wakksss... Aku terpekik ketika merasakan tak ada getaran mesin bis yang gemetar. Pertama kali, kusangka bis mogok. Sedetik dua detik panik membayangkan masih berapa jauh dari Ciputat.

Lho, kok remang-remang dan hanya aku sendirian di dalam bis. Kutengok kaca jendela, mataku terpicing oleh lampu merkuri di kejauhan yang membentuk siluet deretan badan bis yang membeku.

Anjriiitttt... Aku di pool. Kernet-sopir gemblung itu mengerjaiku. Benar saja. Terhuyung-huyung turun dari bis karena gelap, mereka menyambutku dengan sahutan dari lapak pinggir pool.

"Hoi, profesor! Keterusan nglamun sampe pool yee...?" Ledek salah satu dari mereka sambil membanting kartu domino. "Sini aje Jang! Gabuuung!" sambung yang lain dengan tangan melambaikan botol pipih.

Huhhh!***

Friday, February 5, 2010

I was here, Makassar
















Makan ikan di dekat pasar Losari.

Nyaris setahun lalu, Maret 2009. Tiga hari di kota Anging Mamiri. Untung masih sempat ke Losari, Benteng Rotterdam dan bangga mendarat n terbang pulang ke Jakarta dari Bandara Hassanudin nan megah yang dibangun oleh para insinyur Ibu Pertiwi. Yihaaa...









Tuesday, January 19, 2010

Aceh, Majene dan Papua
















Hari ini aku sudah minum Kopi Brown keluaran Kopiko plus sebotol (isinya aja) Kratingdaeng, katanya biar melek dan ber-chemangat.

Maunya, biar aku segera beranjak ke Bandara untuk terbang estafet ke Aceh lalu besoknya ke Majene. Empat hari disana, sebelum ke Jayapura selama seminggu. Ujung ke ujung, kata orang.

Selintas kutengok langit dari jendela. Birunya bercampur silau matahari dari barat. Adzan ashar sudah 30 menit berlalu. Kini tak ada suara lagi, hening.

Suara alam lalu menguasai rumah ini: air kran menderas di permukaan wastafel dan denting gelas dan sendok beradu ketika ditiriskan di rak piring.

Di mushola rumah di lantai dua, samping kamar bapak, gordyn jendela sengaja kuseret sampai tepi. Sinar mentari sore ini begitu hangat menyirami sajadah yang terbentang.

Angin selatan menyusup lewat jendela, turut mengelus rambutku ketika sujud. Alhamdulillah!

*Cipaku, Selasa sore 16.03

Wednesday, January 6, 2010

Tikus Jakarta di Manado


"Di setiap kota yang aku sambangi, aku enggan bangun siang di pagi pertama"




Aku suka jalan-jalan. Termasuk dalam perjalanannya hingga sampai di tujuan dan pulangnya. Aku juga mengangguk jika orang bilang journey is the destination, perjalanan itulah yang menjadi tujuan. Jika sampai tujuan, perjalanan akan terus berlanjut.

Aku akan menyerusuk ke tempat-tempat menarik yang sering ditulis di majalah wisata atau buku panduan wisata. Atau malah mencoba tempat-tempat yang jarang dibicarakan oleh media arus utama. Dipandu oleh cerita dari mulut ke mulut atau hasil browsing di internet, mengintip postingan kawan blogger atau backpacker yang lebih dulu menemukan surga tersembunyi di suatu daerah.

Awal Desember tahun lalu, aku mendapat kesempatan ke Manado, nun di Sulawesi Utara. Tugas kantor liputan kongres sebuah organisasi profesi. Acaranya berlangsung Senin dan Selasa, menumpang Boeing 737-900ER-nya Lion Air aku telah mendarat di Sam Ratulangi pada Minggu petang.

Instruksi dari kantor, tempat acara di Novotel Manado. Tanpa dijelaskan di jalan apa dan berada di sisi mana dari Manado, apakah di tengah kota, di pantai atau malah lepas pantai, wuihhh. Okelah kalo beg-gitu, batinku. Untunglah, sebelum berangkat aku sempat menelpon kawan asal Manado yang tinggal di Jakarta untuk mendapat info soal akomodasi di kota pesisir itu. Soal hotel yang sesuai bujet yang dekat dengan tempat acara, moda transportasi serta posisi Novotel.

Fendry, kawanku itu bilang, Novotel di tengah kota tepatnya diapit jalan utama, Sam Ratulangi dan Boulevard. "Ada beberapa hotel di sekitar Novotel. Kau menginap di Wakeke saja. Di situ ada Hotel New Queen, dari situ ke Novotel bisa jalan kaki 3 tikungan 10 menitlah," terangnya. Ia fasih soal navigasi jalan-jalan di Manado karena meski lahir dan besar di luar kota Manado, Fendry bersekolah SMA tak jauh dari Wakeke. "Beradu punggung," katanya.

Berbekal informasi kelas A-1, info kelas wahid dari seseorang yang tahu seluk-beluk kota tujuan, langkahku mantap begitu sejak mendarat. "Ke Wakeke!" suaraku bulat setelah menerima tawaran sopir taksi bandara. "New Queen ya?" tanyanya menebak. Aku mengangguk mantap. Hari telah gelap, angka di arloji menunjuk angka delapan.

Sepanjang perjalanan, bak turis kegirangan, mataku jarang lurus ke depan. Lebih sering menyururi kanan-kiri. Suasana jelang natal begitu terasa, ABG sibuk bersiap konvoi dengan mobil. Misalnya di daerah Kairagi, deretan Avanza, Xenia dan Kijang berjejer di pinggir jalan. Pintu belakang sengaja dibuka mendongak lebar-lebar ke atas, mereka asik berdesakan di pantat mobil, menjuntaikan kaki mereka.

Hey ini Manado bung, pekik batinku. Sejurus dengan mayoritas warga pemeluk agama Katolik dan Kristen, sepanjang jalan ke arah janting kota, gereja-gereja berdiri anggun. Kalau di Jawa, ya masjid.

Ketika rumah-rumah mulai merapat pertanda mendekati tengah kota, aku baru ingat untuk menanyakan letak Hotel Novotel. Yogi, sopir taksi, menunjuk ke arah kanan depan. "Itu pak, Wakeke sebentar lagi," katanya, satu pertanyaan dijawab dua jawaban yang saling melengkapi. Dia tahu banget informasi yang dibutuhkan orang asing seperti aku.

Setelah memutar setir tiga kali, taksi perak memasuki halaman hotel New Queen. Hotel bintang tiga dengan halaman luas. Tiga mobil terparkir kaku disana. Bell boy menyambut ramah, disusul resepsionis setengah membungkuk riang. Tamu datang membawa rejeki, mungkin begitu batinnya.

Seperti kebiasaanku di setiap hotel yang aku tumpangi: bertanya ini-itu untuk lebih mengenal kota yang aku singgahi sebelum menghitung langkah menyusurinya. Pertanyaan pada sopir taksi tadi kuulangi lagi untuk resepsionis: di mana letak Novotel.

"Di situ kan, ujung Sam Ratulangi yang catnya kuning gading?" kataku yakin berbekal info dari Fendry dan dikuatkan sopir taksi.

"Bukan Pak!" jawabnya tak kalah yakin. "Dulu di situ, gedungnya tetap ada tapi diganti jadi Rits Hotel. Novotel sudah pindah ke arah bandara," sambungnya menyusul gelagat kagetku.

Aku tercekat, waduh salah hotel nih. Mestinya aku memilih hotel yang dekat dengan Novotel, kalau ada. Terbayang sudah, esok hari tidak bakal deh aku lenggang kangkung 3 tikungan 10 menit ke Novotel. Tergambar juga, senyum bahagia sopir taksi pagi-pagi mengantarku.

"Jauh ya?" tanyaku meringis garing, berharap ia akan menjawab, 'dekat kok'. Ia terdiam sebentar, mungkin menghitung dengan kira-kira. Waduh, batinku, kalau ia saja sampai harus menghitung-hitung, pasti jauh nih. Dan, benar saja.

"Jauh Pak. Lima belas kilo dari sini, ke arah bandara, memang di luar kota." Waksss, dia bilang 'jauh', tanpa embel-embel cukup jauh, lumayan jauh atau relatif jauh. Jauh ya jauh.

Memang. Karena aku harus menengok tempat acara, setelah mandi dan ganti baju, malam itu juga aku naik taksi ke Novotel. Di belokan tak jauh dari hotel, plang penunjuk arah bertuliskan: Bandara Sam Ratulangi 18 km. Ku tahu kemudian, Novotel berjarak cuma tiga kilometer sebelum bandara. Argometer taksi pun mengerling genit di angka Rp 53.500 begitu aku sampai gerbang Novotel.

Kutarik nafas dalam-dalam seolah tak mau rugi. Oksigen Manado harus banyak-banyak kuhirup lha wong bolak-balik New Quen-Novotel butuh Rp 100.000 je, batinku. Ndak usah pusing amat dah, aku udah sampai Manado, here I am! Sekian rencana esok hari untuk lebih intim dengan Manado berderet mengembang di senyumku. Tetep sumringah as always qe3


Belok Kiri: Bubur Manado









http://www.suaramanado.com/img_berita/Wakeke%20Tinutuan.jpg


Seperti ku bilang tadi, esok paginya aku sengaja bangun pagi-pagi. Olala, ternyata aku jendela kamarku menghadap ke ufuk timur. Langit memerah sebelum mentari mengintip. Selesai mandi air hangat di bath tube, aku langsung keluar hotel. Langkahku panjang memaksa paru-paru bekerja lebih untuk menghangatkan suhu badan, menepis dingin pagi.

Agenda yang telah terbayang, pagi-pagi akan kususuri jalanan utama Manado: Sam Ratulangi, Boulevard dan ku tengok Teluk Manado. Rencana itu buyar begitu aku belok kiri sekeluar halaman hotel.

Waaaa… ternyata New Queen bertetangga dengan Pinotuan Wakeke, rumah makan bubur Manado. Segera aku masuk kesitu, memilih duduk di sudut. Memesan menu bubur manado komplit dan bakwan plus membeli koran lokal: Tribun Manado, Manado Post, Komentar dan beberapa koran lainnya.

Sambil menekur menunggu pesananku datang, aku bersyukur 'salah' tempat menginap. Atau tepatnya, inilah kawasan yang bener kalau menginap di Manado. Tengah kota, sesuai bujet, tepat di kawasan jajan. Ibarat jalan Sabang di Jakarta.

Jauh dengan Novotel tak lagi ku pikirkan. Toh kulihat sendiri semalam, tidak ada hotel yang berdekatan dengan Novotel. Bahkan kanan-kiri hotel berbintang 5 itupun sawah dan ladang penduduk. Benar-benar di luar kota.

Meski Fendri juga belum tahu kalau Novotel telah pindah tapi ia tuan rumah yang baik dan memilihkan hotel untukku dengan tepat. Apalagi, setelah jalan kaki ke ujung jalan, di situ berdiri gapura mengucap salam: Selamat Datang di Sentra Wisata Kuliner Jalan Wakeke, Manado. Yihaaa… aku merasa jadi seekor tikus di gudang keju!

Breakfast Out

Selain rumah makan yang aku sambangi, masih ada tempat makan enak lain di sepanjang Wakeke. Di seberang New Queen, rumah makan Ikan Bakar menawarkan masakan laut. Kuperhatikan, sejak sebelum jam 6, parkiran telah penuh dengan mobil. Beberapa diantaranya plat merah dan plat hitam DB, pemiliknya berarti warga Manado dan sekitarnya. Busyet dah, orang sini memang doyan memanjakan lidah. Sarapan saja dibelain di luar rumah. Esok harinya, Selasa, giliran warung makan sebelah kanan hotel yang kucoba. Yummyy...

Hingga aku pulang pada Rabu sore, ku tahu persis Manado punya bejibun 'episentrum' kuliner yang mengguncang selera lidah, merentang di Samrat, Boulevard hingga sepanjang garis pantai Teluk Manado.

Benar juga sepotong lirik yang didendangkan saat pesta perpisahan penutup acara kongres di salah satu rumah makan di teluk Manado: … di Manado ku ingin hidup seribu tahun lagi, du-du-du-duuu…*

PS: trims buat Fendri Ponomban *maaf, ndak sempat nenteng saledo ke Manggarai :D*, Budi Susilo dan Dian Pangemanan 'Tribun Manado'.

Wednesday, August 12, 2009

Wijaya!!

Dah semingguan ini di Wijaya, antara Blok M n Mampang, 25 menit dari batusari. Pulang jg segitu juga via Ratu Plaza, belok kiri di fX, Hotel Mulia lurus *ga belok kanan ke Slipi, kejauhan bgt*

Tembus deh belakang Pasar Palmerah/Gramedia, ithik2... tekan Rawa Belong, Binus, lampu merah kekiri 300 m sampe Casa Goya *ga masuk situ :)*, n finish di Batusari.