Showing posts with label Manado. Show all posts
Showing posts with label Manado. Show all posts

Sunday, August 20, 2017

Manado, Klapertart dan Kangen

Kaplertart (inung gunarba)


Menengok isi hardisk laptop, mata saya segera terpaku pada folder 'Manado'. Isinya penuh dengan foto-foto plesiran dan kuliner ketika beberapa kali saya menyambangi kota cantik di Sulawesi Utara itu.

Di sana, saya menyambangi beberapa tempat wisata dan belanja. Tentu saja juga tempat makan. Manado memang kota tujuan wisata yang komplet. Banyak spot wisata alam dan ragam makanannya memanjakan lidah, dari masakan laut, makanan berbahan sayuran hingga kue, termasuk bubur manado.

Nah saya sungguh beruntung ke Manado menyempatkan diri menyantap kue ikonnya Manado: klapertart. Lidahnya saya segera mengecap gurihnya kelapa dan olahan terigu dan bahan lainnya.

Selain makan di tempat, satu kotak klapertart juga saya bawa pulang ke Jakarta, oleh-oleh untuk istri dan anak saya. Meski tidak ikut ke Manado, icip-icip kue enak jangan sampai terlewatkan :)

Untuk urusan makanan laut, tempat-tempat makan yang saya datangi juga istimewa. Meski lupa namanya, di antaranya ada di tepian laut dan di tengah kota.

Pada kesempatan yang lain, saya juga pergi ke kota lain di Sulut yaitu Tomohon dan Bitung. Masakan khasnya juga enak. Paling saya sukai adalah masakan olahan dari sayur, entah apa namanya. Lha wong saya tahunya enak dan enak banget :D

Tak terasa, hampir dua tahun saya tidak lagi jalan-jalan ke Manado. Melihat foto-foto perjalanan membuat saya teringat ramai kotanya, pemandangan teluk Manado dengan latar belakang Pulau Manado Tua dan Bunaken di kejauhan dan jajaran nyiur pohon kelapa di pesisirnya.

Kapan lagi ke Manado ya? :)

Wednesday, May 20, 2015

Selebrasi. Satu tahun bisa renang.



‎
























Mei ini, tepat satu tahun saya bisa berenang :)

Lokasi "selebrasi" pun cakep, pas tugas luar kota ke Manado.

Hotel tempat menginap di Sintesa Peninsula yang punya kolam renang dengan panjang sekitar 50 meter. Selain itu, view dari kamar saya yang di lantai 12 bisa lepas menatap lekat-lekat Gunung Manado Tua di lepas pantai, arah Bunaken, pegunungan, pelabuhan dan proyek jembatan Manado serta kota.

Berenang di luar kota seperti inilah yang turut menjadi motivasi saya ketika memantapkan niat belajar renang di Jakarta. Motivasi terkuat ialah demi bisa mengajari dan menemani anak saya, si kecil Kaka kelak jika dia beranjak besar.

Jumat pagi di pinggir kolam renang Manado ini pulalah, setelah 30 menit hilir mudik dengan gaya dada dan bebas, saya selonjoran memandang tenangnya permukaan air, bayangan langit biru. 

Saat itulah saya mensyukuri sudah bisa berenang. Tak lagi ada cerita saya cuma memandangi kolam renang, danau dan laut di pesisir Tanah Air, tanpa bisa nyebur :)

Dulu, tak terhitung berapa kali saya hanya bisa manyun melewati kolam renang dan hanya bisa melongo di pasir pantai ketika ada kesempatan keluar kota :| Mungkin Anda juga pernah mengalaminya heheheeee. #toss

Kini, 'kerja keras' (yaelah...) dan kegigihan saya terbayar. Saya jadi punya banyak pilihan melakukan aktivitas luar ruangan alias outdoor ketika merayapi sekujur Nusantara: jalan-jalan, hiking, susur pantai, lari dan renang. Oya, tentunya selain nguliner hahahaaa

Sepadan pula, keengganan saya untuk menyerah terutama di empat kali pertama sesi belajar renang di Manggala Wanabakti, samping DPR Senayan, Jakarta satu tahun lalu.

Di empat sesi latihan itu, dari total 10 kali pertemuan, saya meneriaki diri sendiri bahwa: "Gw harus bisa. ‎Mau kelelep kek, nelen air, gelagepan, dan himpitan rasa malu-malu ga bakal ada apa-apanya dibanding nikmatnya bisa berenang! Yakin bisa!"

Di ibukota Sulawesi Utara, di bibir Pasifik, 4 jam terbang dari Jakarta, di kolam renang di atas bukit ini, saya bersyukur. :)

‎- cerita kala saya belajar, les / kursus renang ada di sini, termasuk info lokasi, telepon dan HP guru renang : http://halamansamping.blogspot.com/2014/04/belajar-renang-di-jakarta.html





Wednesday, January 8, 2014

Aceh, Bali, Lombok, Ambon ... Ayo Lari Saat Travelling



SAYA merasa beruntung di tahun 2013 lalu. Antara bulan Juli hingga Desember, saya sering ditugaskan keluar kota dan rentang enam bulan itu saya sempatkan untuk menjajal lari di beberapa kota di Tanah Air.

Penugasan keluar kota pun lebih terasa sebagai kesempatan emas daripada semata-mata menunaikan kewajiban dari kantor. Alih-alih mengeluh, saya memilih dibawa senang saja.

Saya pun melakukan beberapa aktivitas yang saya sukai disela-sela kegiatan luar kota. Pada dasarnya aktivitas yang saya sukai adalah olahraga lari, selain jalan-jalan, plus makan :)

Oya, sebagai gambaran, pekerjaan inti yang mesti dilakukan ketika melalang buana itu adalah meliput serangkaian kegiatan kantor, menulis artikel/berita, dan memotret. Ini berlangsung dalam satu hari dari pagi hingga sore.

Setelah break pada petang hari, sekitar maghrib, lantas membantu atasan ketika sesi presentasi: jadi asrot alias asisten sorot. Itu loh, yang mengoperasikan power point di laptop untuk dipancarkan oleh proyektor. Ya asrot itu lah :)

Nah dengan time-schedule itu, saya bisa mengatur ketiga hobi saya itu. Pilih dan pilah waktunya. Olahraga lari saya maksimalkan H-1 dan H+1, satu hari sebelum acara dan sehari setelahnya.

Di antara beberapa kota yang disinggahi dan saya sempatkan lari disana, ada dua kota yang paling istimewa: Aceh dan Ambon.

Pertama karena letak geografis keduanya yang berada di kedua kawasan ujung Indonesia. Aceh sebagai serambi barat Indonesia, sedangkan Ambon termasuk kawasan timur bersama Papua Barat dan Papua.

Friday, November 15, 2013

Manado (lagi)!

















KAMIS-jumat, 14-15 November 2013 adalah perjalanan saya ke Manado, Sulawesi Utara yang ketiga.

Ini juga sejatinya perjalanan marathon karena sebelum ke Bumi Kawanua, saya ke Gorontalo dulu, provinsi tetangga Sulut. Malah, Gorontalo juga provinsi hasil pemekaran dari Sulut.

Tentu saja agenda kali ini tetaplah urusan kerja.

Jalan-jalan saya di Manado adalah ke Tumohon, sekitar 15-20 km dari Manado dengan jalan darat merayapi perbukitan.


Wednesday, January 6, 2010

Tikus Jakarta di Manado


"Di setiap kota yang aku sambangi, aku enggan bangun siang di pagi pertama"




Aku suka jalan-jalan. Termasuk dalam perjalanannya hingga sampai di tujuan dan pulangnya. Aku juga mengangguk jika orang bilang journey is the destination, perjalanan itulah yang menjadi tujuan. Jika sampai tujuan, perjalanan akan terus berlanjut.

Aku akan menyerusuk ke tempat-tempat menarik yang sering ditulis di majalah wisata atau buku panduan wisata. Atau malah mencoba tempat-tempat yang jarang dibicarakan oleh media arus utama. Dipandu oleh cerita dari mulut ke mulut atau hasil browsing di internet, mengintip postingan kawan blogger atau backpacker yang lebih dulu menemukan surga tersembunyi di suatu daerah.

Awal Desember tahun lalu, aku mendapat kesempatan ke Manado, nun di Sulawesi Utara. Tugas kantor liputan kongres sebuah organisasi profesi. Acaranya berlangsung Senin dan Selasa, menumpang Boeing 737-900ER-nya Lion Air aku telah mendarat di Sam Ratulangi pada Minggu petang.

Instruksi dari kantor, tempat acara di Novotel Manado. Tanpa dijelaskan di jalan apa dan berada di sisi mana dari Manado, apakah di tengah kota, di pantai atau malah lepas pantai, wuihhh. Okelah kalo beg-gitu, batinku. Untunglah, sebelum berangkat aku sempat menelpon kawan asal Manado yang tinggal di Jakarta untuk mendapat info soal akomodasi di kota pesisir itu. Soal hotel yang sesuai bujet yang dekat dengan tempat acara, moda transportasi serta posisi Novotel.

Fendry, kawanku itu bilang, Novotel di tengah kota tepatnya diapit jalan utama, Sam Ratulangi dan Boulevard. "Ada beberapa hotel di sekitar Novotel. Kau menginap di Wakeke saja. Di situ ada Hotel New Queen, dari situ ke Novotel bisa jalan kaki 3 tikungan 10 menitlah," terangnya. Ia fasih soal navigasi jalan-jalan di Manado karena meski lahir dan besar di luar kota Manado, Fendry bersekolah SMA tak jauh dari Wakeke. "Beradu punggung," katanya.

Berbekal informasi kelas A-1, info kelas wahid dari seseorang yang tahu seluk-beluk kota tujuan, langkahku mantap begitu sejak mendarat. "Ke Wakeke!" suaraku bulat setelah menerima tawaran sopir taksi bandara. "New Queen ya?" tanyanya menebak. Aku mengangguk mantap. Hari telah gelap, angka di arloji menunjuk angka delapan.

Sepanjang perjalanan, bak turis kegirangan, mataku jarang lurus ke depan. Lebih sering menyururi kanan-kiri. Suasana jelang natal begitu terasa, ABG sibuk bersiap konvoi dengan mobil. Misalnya di daerah Kairagi, deretan Avanza, Xenia dan Kijang berjejer di pinggir jalan. Pintu belakang sengaja dibuka mendongak lebar-lebar ke atas, mereka asik berdesakan di pantat mobil, menjuntaikan kaki mereka.

Hey ini Manado bung, pekik batinku. Sejurus dengan mayoritas warga pemeluk agama Katolik dan Kristen, sepanjang jalan ke arah janting kota, gereja-gereja berdiri anggun. Kalau di Jawa, ya masjid.

Ketika rumah-rumah mulai merapat pertanda mendekati tengah kota, aku baru ingat untuk menanyakan letak Hotel Novotel. Yogi, sopir taksi, menunjuk ke arah kanan depan. "Itu pak, Wakeke sebentar lagi," katanya, satu pertanyaan dijawab dua jawaban yang saling melengkapi. Dia tahu banget informasi yang dibutuhkan orang asing seperti aku.

Setelah memutar setir tiga kali, taksi perak memasuki halaman hotel New Queen. Hotel bintang tiga dengan halaman luas. Tiga mobil terparkir kaku disana. Bell boy menyambut ramah, disusul resepsionis setengah membungkuk riang. Tamu datang membawa rejeki, mungkin begitu batinnya.

Seperti kebiasaanku di setiap hotel yang aku tumpangi: bertanya ini-itu untuk lebih mengenal kota yang aku singgahi sebelum menghitung langkah menyusurinya. Pertanyaan pada sopir taksi tadi kuulangi lagi untuk resepsionis: di mana letak Novotel.

"Di situ kan, ujung Sam Ratulangi yang catnya kuning gading?" kataku yakin berbekal info dari Fendry dan dikuatkan sopir taksi.

"Bukan Pak!" jawabnya tak kalah yakin. "Dulu di situ, gedungnya tetap ada tapi diganti jadi Rits Hotel. Novotel sudah pindah ke arah bandara," sambungnya menyusul gelagat kagetku.

Aku tercekat, waduh salah hotel nih. Mestinya aku memilih hotel yang dekat dengan Novotel, kalau ada. Terbayang sudah, esok hari tidak bakal deh aku lenggang kangkung 3 tikungan 10 menit ke Novotel. Tergambar juga, senyum bahagia sopir taksi pagi-pagi mengantarku.

"Jauh ya?" tanyaku meringis garing, berharap ia akan menjawab, 'dekat kok'. Ia terdiam sebentar, mungkin menghitung dengan kira-kira. Waduh, batinku, kalau ia saja sampai harus menghitung-hitung, pasti jauh nih. Dan, benar saja.

"Jauh Pak. Lima belas kilo dari sini, ke arah bandara, memang di luar kota." Waksss, dia bilang 'jauh', tanpa embel-embel cukup jauh, lumayan jauh atau relatif jauh. Jauh ya jauh.

Memang. Karena aku harus menengok tempat acara, setelah mandi dan ganti baju, malam itu juga aku naik taksi ke Novotel. Di belokan tak jauh dari hotel, plang penunjuk arah bertuliskan: Bandara Sam Ratulangi 18 km. Ku tahu kemudian, Novotel berjarak cuma tiga kilometer sebelum bandara. Argometer taksi pun mengerling genit di angka Rp 53.500 begitu aku sampai gerbang Novotel.

Kutarik nafas dalam-dalam seolah tak mau rugi. Oksigen Manado harus banyak-banyak kuhirup lha wong bolak-balik New Quen-Novotel butuh Rp 100.000 je, batinku. Ndak usah pusing amat dah, aku udah sampai Manado, here I am! Sekian rencana esok hari untuk lebih intim dengan Manado berderet mengembang di senyumku. Tetep sumringah as always qe3


Belok Kiri: Bubur Manado









http://www.suaramanado.com/img_berita/Wakeke%20Tinutuan.jpg


Seperti ku bilang tadi, esok paginya aku sengaja bangun pagi-pagi. Olala, ternyata aku jendela kamarku menghadap ke ufuk timur. Langit memerah sebelum mentari mengintip. Selesai mandi air hangat di bath tube, aku langsung keluar hotel. Langkahku panjang memaksa paru-paru bekerja lebih untuk menghangatkan suhu badan, menepis dingin pagi.

Agenda yang telah terbayang, pagi-pagi akan kususuri jalanan utama Manado: Sam Ratulangi, Boulevard dan ku tengok Teluk Manado. Rencana itu buyar begitu aku belok kiri sekeluar halaman hotel.

Waaaa… ternyata New Queen bertetangga dengan Pinotuan Wakeke, rumah makan bubur Manado. Segera aku masuk kesitu, memilih duduk di sudut. Memesan menu bubur manado komplit dan bakwan plus membeli koran lokal: Tribun Manado, Manado Post, Komentar dan beberapa koran lainnya.

Sambil menekur menunggu pesananku datang, aku bersyukur 'salah' tempat menginap. Atau tepatnya, inilah kawasan yang bener kalau menginap di Manado. Tengah kota, sesuai bujet, tepat di kawasan jajan. Ibarat jalan Sabang di Jakarta.

Jauh dengan Novotel tak lagi ku pikirkan. Toh kulihat sendiri semalam, tidak ada hotel yang berdekatan dengan Novotel. Bahkan kanan-kiri hotel berbintang 5 itupun sawah dan ladang penduduk. Benar-benar di luar kota.

Meski Fendri juga belum tahu kalau Novotel telah pindah tapi ia tuan rumah yang baik dan memilihkan hotel untukku dengan tepat. Apalagi, setelah jalan kaki ke ujung jalan, di situ berdiri gapura mengucap salam: Selamat Datang di Sentra Wisata Kuliner Jalan Wakeke, Manado. Yihaaa… aku merasa jadi seekor tikus di gudang keju!

Breakfast Out

Selain rumah makan yang aku sambangi, masih ada tempat makan enak lain di sepanjang Wakeke. Di seberang New Queen, rumah makan Ikan Bakar menawarkan masakan laut. Kuperhatikan, sejak sebelum jam 6, parkiran telah penuh dengan mobil. Beberapa diantaranya plat merah dan plat hitam DB, pemiliknya berarti warga Manado dan sekitarnya. Busyet dah, orang sini memang doyan memanjakan lidah. Sarapan saja dibelain di luar rumah. Esok harinya, Selasa, giliran warung makan sebelah kanan hotel yang kucoba. Yummyy...

Hingga aku pulang pada Rabu sore, ku tahu persis Manado punya bejibun 'episentrum' kuliner yang mengguncang selera lidah, merentang di Samrat, Boulevard hingga sepanjang garis pantai Teluk Manado.

Benar juga sepotong lirik yang didendangkan saat pesta perpisahan penutup acara kongres di salah satu rumah makan di teluk Manado: … di Manado ku ingin hidup seribu tahun lagi, du-du-du-duuu…*

PS: trims buat Fendri Ponomban *maaf, ndak sempat nenteng saledo ke Manggarai :D*, Budi Susilo dan Dian Pangemanan 'Tribun Manado'.