Wednesday, February 4, 2009

Obrolan Ranjang

Setelah mematikan lampu kamar Omi, anak kami yang sulung, istriku masuk kamar dan beberes berkas-berkas yang bakal dibawanya ke rumah sakit besok. Seperti biasa, dia cuek aja mondar-mandir menghalangi pandanganku ke arah tv kamar.

Jangan sekali-kali memasang tampang sebal atau mengeluh ‘eh-eh’ sambil memiring-miringkan badan ketika dia melintas di depan layar kaca 21 inchi itu. Gondok juga sih apalagi kalau pas ada kemelut di depan gawang Chelsea atau atau dialog kunci di saluran HBO.

Nggak usah mengeluh pun kalau ia menangkap lirikan mataku ke arahnya, hmm sudah pasti ia akan cemberut. Baginya memasang tv di kamar adalah ide terburuk di rumah kami. “Berisik!” katanya waktu menolak usulku meski aslinya dia gampang tertidur dan tahan dengan macem-macem gangguan suara.

Alasan sebenarnya, “Bikin nggak asik ngobrol,” cetusnya mengingatkanku kesukaan dia mengobrol berdua malam-malam tentang apa saja. Kadang setelah bangun tidurpun di Sabtu pagi usai subuh pun kami mengobrol. Lain ceritanya kalau Minggu, aku malah baru membangunkannya setelah aku bersiap mengantar anak-anak ke kolam renang Gelanggang Remaja Bulungan, pagi-pagi.

Kelar menutup restleting tas kerja, ia berbaring di sebelahku. Matanya berkedip-kedip ke arah TV, bigmatch Chelsea versus Liverpool. Daripada tayangan film dan dokumenter, ia lebih kompromi jika aku memilih channel olahraga. Katanya sih karna bisa di-mute dan ia juga bisa ehmm tubuh atletis berbalur keringat, salah satu alasannya menerima rayuan gombal jadi pacarku, duluuu. “Wii, seksi,” celetuknya lirih suatu ketika aku selesai joging di Senayan, sambil memperhatikan leleran keringat di leher dan kaos basahku. Sejak saat itu aku hapal ‘kode etik’: tidak melap keringat kalau ia menemaniku olahraga atau ketika ehm, bercinta.

“Mas,” katanya sambil menendang-nendang selimut dari dalam mencari posisi yang pas buat kakinya.
“Yap,” sahutku sambil mengangkat selimut buat memudahkannya mendapatkan posisi wuenak. Oya, serta merta juga aku tidak memperhatikan tv sejenak dan mengalihkan perhatian padanya.

“Kapan itu, aku ngobrol sama mbak Tanti, ibunya Maya temennya TK Omi.”
“Ohh, trus?” mataku melirik tv sekilas, masih 0-0.
“Dia crita, bukannya ngadu lho, kalau Maya sama Putri lagi berantem gara-gara anakmu tuh.”
“We-e-e-e, koq bisa?” perhatiannku sekarang 100% buatnya.

“Juga gara-gara Mas juga. Tahu kan, Omi udah bisa origami dari buku yang Mas belikan bulan kemarin. Inget to? Lha ya itu, waktu pelajaran bebas di kelasnya, Omi bikin origami burung, ayam, naga, kucing, macem-macem lah…”
“Yee, cerita berantemnya dimana?” tanyaku tidak sabar. Menyela ceritanya sebenarnya sebuah pantangan, untungnya ia hanya memonyongkan bibirnya dan menahan gerutu.

“Temen-temennya yang lihat langsung merubungnya. Putri yang liat pertama kali tapi Maya duluan yang minta diajarin. Ya gitu deh, rebutan.”
“Ooo, namanya anak kecil ngeliat lipatan-lipatan kertas ya pasti pengen,” komentarku sambil kembali memperhatikan tv. Drogba bikin gol, 1-0 buat klub London itu.

“Heeh, dengerin dulu ah!” suaranya ketus pertanda cemburu pada tv.
“Berantemnya sih biasa yang bikin geleng-geleng gurunya dan mbak Tanti yang nungguin tuh waktu Putri ngomel dan bilang kalo dia lebih berhak diajarin Omi karna sebelumnya Putri lebih dulu naksir ketimbang Maya dan temen-temen yang lain!”

Aku ketawa tertahan sambil memutar badanku menghadap ke istriku, menepuk-nepuk pinggangnya. Kata ibunya Omi ini lagi, sekarang dua bocah yang rumahnya berseberangan itu lagi diem-dieman dan ogah berjalan beriringan sepulang dari TK, salah satu dari mereka akan menunggu ‘rivalnya’ berjalan duluan dan sekarang keduanya malas bermain di halaman rumah masing-masing. “Jijay kalo liat Maya!” istriku mengutip mbak Tanti yang menirukan kejengkelan Putri.

“Tapi kan ada bagusnya, Omi yang dulu kayaknya pemalu sekarang malah gampang akrab sama temen-temen sebayanya. Direbutin lagi,” ujarku menarik premis.
“Anakmu tuh!” sahut istriku yang jemarinya memainkan kancing piyamaku. Bibirnya dimonyongkan sedikit.

“He-he-he, sama gantengnya to?!”
“Itu mah lebay. Tapi soal Omi dikerubutin cewek itu kan turunan dari kamu! Ya khan?” sekarang jarinya menarik piyamaku yang kancing sudah terbuka satu. Kalau sudah begini, biasanya aku cuma mengejapkan mataku ke langit-langit kamar yang berpendar oleh monitor tv sambil mesam-mesem menunggu terlepasnya semua kancing.

***

Dulu, masalah begini pernah bikin istriku meradang. Aku menikahinya setelah mengenalnya tidak lebih dari setahun di Jakarta dan dia juga bukan dari lingkaran pergaulan teman-teman Jogja yang bekerja di ibu kota. Benar-benar kenalan baru, ia mengenalku sebagai lelaki 31 tahun, asal Jogja, dan awalnya ia mengira aku pendiam. “Tampang nipuuu, cuma butuh 10 hari buat keluar aslinya. Bahaya deh!” tulisnya di wall FaceBook-ku suatu waktu setelah ikrar pacaran.

Aku mengenalnya juga baru setelah pindah ke sini, seorang perempuan dokter gigi yang kalau lagi serius lupa tersenyum, berwajah bulat dan malas berolahraga. Hal yang sama lainnya adalah kami buta tentang masa lalu masing-masing terutama siapa pacar-pacar sebelumnya dan lingkungan pergaulan kami. Tidak ada temanku yang jadi temannya dan begitu pula sebaliknya.

Berbeda sekali dengan cewk-cewekku sebelumnya di Jogja yang lingkaran sosialnya erat. Meski awalnya tidak kenal tapi ternyata, misalnya, dia adalah temannya kawan pacar sobatku. Atau, satu kos dengan kakak angkatan. Bisa dibilang tidak ada yang bisa berserita tentang aku padanya, ya semata-mata karena tidak teman lamaku yang menjadi kawannya.

Sebulan setelah menikah, dia meradang karena celetukan Akbar temen sekampusku waktu berkunjung bareng istrinya, Sinta yang juga teman se-organisasi pers kampusku. Dua orang suami-istri ini memang jodoh terutama soal kontrol mulut keduanya yang bisa membuka ‘aib’ orang semudah membuka kran air dan airnya pun menyembur merembes kemana-mana.

Sebagai pengantin baru, istriku digodain udah ngapain aja selama pacaran denganku. Sinta menimpali sok akademis, “Kamu tuh sebagai individu tunggal, pasti lurus-lurus aja. Tapi kalau ngeliat tampang mesum pangeranmu ini… hmm pasti deh- paaasti’ deh!”

Aku sendiri sih cengengesan dari dalam rumah usai sholat Ashar. Giliran Akbar bikin panas kuping, “Eh kamu dulu terkesima ya waktu Itong keliatannya doyan sholat? Dia tuh pake peci komplit baju koko pun tetep aja kayak siapa tuh… bintang film Mandarin yang selalu kebagian peran kriminal-cabul-pemerkosa. Jamannya film-film The Girl from Kanton atau Peng Tan, he-he-he.”

Biasanya kalau teman-temanku mengerjaiku, aku dan istriku cuma senyum-senyum tapi di sela-sela percakapan hangat kami berempat hari Minggu itu sinar mata istriku sekilas seperti memvisualisasikan omongan dua provokator itu. Bergantian Akbar dan Sinta menirukan gaya najis bapaknya Omi ini kalau lagi gombal dengan cewek:

“Met pagi Bela!”
“Eh mas, pagi juga”
“Udah denger kabar pagi ini?”
“Haa, kabar apa emang mas?” (Akbar bilang, kalau sudah begini biasanya si cewek merhatitin omongan dan penasaran)
“Pagi ini… kamu muanis bangetttthhhh!”
“Halaah! #%$^&(*@!”

Atau, Sinta mengutip curhatan temen ceweknya yang siang sebelumnya merasa kelepek-kelepek:

“Dulu itu kita kenalannya disini atau di fakultas sih?”
“Wah dah lupa Mas, kayaknya disini deh kan kita lain fakultas.” (Kami tergelak merujuk rayuanku yang sama sekali jayus, lha wong nggak sefakultas kok bisa berasumsi kenalan di fakultas)
“Oh iya ya, waktu kenal pertama dulu kan kayaknya kamu sebel banget sama aku karena ngira aku merebut pesanan mie ayammu yang ternyata hanya tersisa satu mangkok terakhir. Aku was-was banget lho liat tampang cemberutmu hi-hi-hi.”
“Hiks-hiks-hiks, kok kamu masih inget to mas, jadi malu!”
“Aku sih nggak nginget-inget tapi emang dasar nggak bisa ngelupain!”
“Arggghhhhh… ! %$&*9()@#!$”

Sampai tamu istimewa kami itu pamit pulang sepertinya istriku biasa saja, terbahak ketika waktunya ngakak, tersenyum nyengir saat merasa malu-malu kering. Pindah ke dapur untuk mencuci gelas dan piring kotor bareng di dapur pun, ia hanya diam. Radangannya baru keluar setelah ia mematikan lampu kamar, menyalakan lampu kecil, menarik selimut dan berbaring miring menatapku lekat-lekat.

”Jangan tidur!” ketusnya mulai bermetamorfosis jadi super galak. “Ayo! Ceritain yang belum dibilang sama mereka tadi soal kamu dulu… bla-bla-bla!!!”

Nah, gini deh kalau istriku sudah memanggilku dengan ‘kamu’ dan bukannya ‘mas’ atau ‘ayah’, tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya itupun tidak semua bisa aku ingat karena sudah bertahun-tahun lalu. Tidak terhitung tarikan nafasnya yang kemudian berhembus di mukaku, tatapan matanya lekat-lekat menerka-nerka seberapa jujurku padanya. Hembusan panjang nafasnya yang terakhir berujung dengan memutar badan tidur memunggungiku dan menepis tanganku yang biasanya memeluk pinggang rampingnya.*

Thursday, January 29, 2009

Panas Bumi: Solusi Saling Silang

Sempat tarik ulur harga jual yang tak berujung kata sepakat, pemerintah akhirnya mematok harga tertinggi 9,7 sen dolar AS. Pengembang sedikit lega meski lebih rendah dibanding negara tetangga.

Patokan harga yang diteken pemerintah lewat Permen no 32 tahun 2009 jelang pergantian tahun, membuat pengembang pembangkit listrik panas bumi kembali bergairah. Sebelumnya, negosiasi harga dengan PT PLN sebagai pembeli berjalan sangat lambat.

Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Panasbumi Indonesia pernah menghitung harga keekonomian geothermal sebesar 8-9 sen dolar AS per kwh. API menghitung angka ideal itu berdasar capital dan operating cost serta mempertimbangkan risiko yang tinggi. Sementara itu, return-nya minimun 16 persen.

Di sisi pembeli, PLN sempat menawar harga listrik dari pembangkit panas bumi berkisar 7-8 sen per dolar AS per kWh. BUMN setrum itu memiliki perbandingan harga listrik dari pembangkit batubara antara 5,8-7 sen sen per dolar AS, sedangkan untuk pembangkit bertenaga air tanpa bendungan antara 5-6 sen dolar AS per kWh.

PLN juga mengakui, akselerasi pengembangan listrik panas bumi tidak seperti yang diharapkan. Penyebabnya, risiko investasi yang tinggi dan harga jual listriknya tidak memberikan daya tarik bagi investor terutama investor baru.

Setiap pengeboran ada peluang terjadinya kegagalan sebesar 50 persen bahkan tidak ada sama sekali. Padahal investasi yang dibutuhkan dalam satu sumur bisa mencapai US$ 5 juta atau dari sisi investasinya. Dengan begitu setidaknya membutuhkan US$ 2 juta per MW sedangkan harga jualnya hanya 4 sampai 5 sen dollar per kwh. Tambah lagi, setiap lapangan memiliki karakteristik masing-masing sehingga nilai keekonomiannya berbeda.

Untunglah, silang pendapat harga jual itu berujung kepastian. Pada 4 Desember 2009 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh mengeluarkan Peraturan Menteri tentang Harga Patokan Pembelian Tenaga Listrik oleh PT PLN (Persero) dari Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP).

Harga patokan ditetapkan maksimal senilai 9,7 sen dollar AS (sekitar Rp 900) per kwh. Harga ini terbilang menarik dibanding harga tawaran PLN sebelumnya bahkan tidak mendekati harga 9 sen dolar AS. Harga ini menjadi harga dasar dalam lelang wilayah kerja pertambangan (WKP) panasbumi. Permen ini juga sekaligus menegaskan kewajiban PLN membeli listrik dari pembangkit listrik panas bumi.

Harga riil sesuai lelang
Sesuai beleid ini yang menetapkan harga untuk pelelangan maka kesepakatan akhir tergantung hasil lelang atau negosiasi antara produsen panas bumi dengan pembeli yaitu PLN. “Yang berani menawar lebih rendah, dia yang akan menang” ujar Dirjen Listrik dan Pengembangan Energi Departemen ESDM J Purwono. Bagi negara, lanjutnya, harga tersebut menguntungkan karena baru berlaku saat pembangkit listrik panas bumi beroperasi dalam 4-5 tahun mendatang.

Untuk pembangkit geothermal yang sudah beroperasi, harga patokan tersebut tidak berlaku. Ini mengacu pada pasal 3 Permen tersebut. “Harga pembangkit panas bumi yang sudah beroperasi sesuai kontrak yang sudah ditandatangani,” ujarnya. Patokan itu, menurutnya, merupakan usulan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) yang berpengalaman di bidang hulu energi terbarukan tersebut.

Purwono berharap kepastian harga bakal mendorong bisnis panas bumi lebih berkembang. Apalagi Purwono memastikan PLN sebagai pembeli listrik panas bumi tidak mempermasalahkan berapapun tarif listrik panas bumi yang ditetapkan. Pemerintah akan menutup selisih pendapatan PLN dari pembayaran listrik masyarakat dibandingkan biaya beli listrik panas bumi dengan subsidi. "Jadi tidak ada masalah, berapapun harga jualnya, PLN akan beli," tegas Purwono.

Batas bawah
Hanya saja, permen ini hanya mengatur harga jual tertinggi alias ceiling price sedangkan batas bawah atau floor price tidak ditegaskan. Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy Abadi Poernomo menilai, pemerintah perlu mengatur keduanya karena mempermudah proses negosiasi antara pengembang, termasuk Pertamina GE dengan PLN.

Abadi berharap, harga jual listrik panas bumi tidak di bawah US$ 8,7 sen per kwh, karena setiap lapangan memiliki tingkat risiko dan investasi yang mempengaruhi keekonomian pengembangan panas bumi di proyek itu.

Di sisi lain, Ketua Umum API Suryadharma optimis beleid ini mendongkrak semangat pengembang. Apalagi, harga tersebut sudah mempertimbangkan risiko investasi yang besar dalam pengeboran sumur panas bumi. “Kebutuhan dana untuk menghasilkan satu MW dari panas bumi bisa lebih dari tiga juta dolar AS,” katanya.

Hitungan Suryadharma, harga sebesar itu membuka peluang bagi pemerintah untuk menghemat subsidi kalau dibandingkan memakai BBM yang mahal dan harganya tidak stabil. Karena, katanya, karakter harga listrik panas bumi relatif konstan dalam 30 tahun.

Meski berharap positif, Surya mengakui harga 9,7 sen per kWh cukup rendah dibandingkan Philipina yang mencapai 11 sen dolar AS, El Salvador 15 sen dan Jerman yang mencapai 30 sen dolar per kWh.
Paling tidak, kebijakan patokan harga batas atas ini bakal mempercepat tambahan produksi listrik 10.000 MW jilid dua. Dari total kapasitas itu, ditargetkan 4.733 MW akan menggunakan geotermal dan diharapkan tuntas pada 2014 nanti. Meski potensi panasbumi di Tanah Air diklaim terbesar di dunia, mencapai 27.000 MW, namun realisasinya baru 4 persen atau 1.196 MW. * Nur Iman Gunarba

Blank


Dahlan Iskan: Sampai PLN Untung Terus!

Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan lebih memilih tampil kasual daripada formal. Paling kentara, ia lebih suka bersepatu jogging.

Saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi Energi DPR RI (25/1), mantan wartawan ini lenggang kangkung dengan sepatu jogging coklat. Tak canggung pula, ia berbincang sejenak dengan beberapa anggota DPR sebelum acara di mulai.

Rupanya, pilihan Dahlan itu bukan sekedar karena kenyamanan semata. “Sampai PLN untung terus!” katanya mantap. Ketika ditanya apakah tekad itu sudah menjadi nadzarnya, ia hanya tersenyum. “Doakan ya,” ujarnya ramah sambil meneruskan menyapa para wakil rakyat. Di antaranya Sutan Bhatoegana, Azwir Dainy Tara, Isma Yatun dan Dewi Aryani Hilman.

Ia pun mengaku tak susah memilih pakaian sehari-hari. Selain dipilihkan istri, anaknya pun tak jarang menunjuk baju dan sepatu yang pas untuk sang ayah. Sejatinya, sebelum menjadi orang nomer satu di PLN, kelahiran Magetan pada 17 Agustus 1951 ini memang lebih suka tampil sederhana.

Bedanya, kalau dulu ia beralasan soal kenyamanan, kini penampilannya ia hubungkan dengan target kinerja keuangan BUMN produsen setrum itu. Tahun ini, PLN di bawah komando Dahlan Iskan berancang-ancang meraih laba bersih mencapai Rp 12 triliun, jauh meningkat dari pencapaian 2009 sebesar Rp 7 triliun. Sebelumnya, tahun 2008 merugi hingga Rp 12,3 triliun. *Nur Iman

Tuesday, December 2, 2008

SemaNgat!!!

Abis jalan-jalan biar gape nulis cepat ke http://www.rayakultura.net punyanya mbak Naning Pranoto. Wuaahhhhhh...Lets Go!!!

Thursday, November 27, 2008

Pengen!

Minggu ini pengen :
-sembuh dari flu berat yg udah 5 hari, hidung mampet kayak tenggelam & batuk2 sampe malu ama temen2 kantor hiks3
-mulai jogging (lagi) minimal 30 menit seminggu 2x, sukur 3 kali
-punya flashdisk 2/4 gb
-beli Bola Vaganza ed November buat referensi kerjaan
-nyuci buanyak banget
-punya stok artikel biar minggu besoknya nyantai
-ke Bogor atau Ancol (?)
-ampir lupe, cetak kartu nama!