Olah raga lari telah menjadi kegiatan yang saya sukai. Secara umum, sudah jelas manfaatnya bagi kesehatan, pun begitu untuk menyegarkan pikiran dan mood alias suasana hati.
Dengan kata lain, lari menjadi salah satu sarana rekreasi saya. Selain makan dan jalan-jalan.
Saat berlari, saya menyukai melihat pemandangan di jalur lelarian. Tidak hanya alam tapi juga apapun yang ada di kanan kiri trek.
Meskipun yang saya sukai adalah pepohonan namun saya juga melihat di sisi jalur. Apapun itu.
Kucing yang lagi mandi matahari, ayam jantan yang nangkring di pagar, emak-emak (muda) yang lagi menyuapi baby, bapak-bapak yang lagi nyuci mobil dan lain-lain. Dan tentunya juga langit biru.
Indera dengar juga saya manjakan dengan memasang earphone tersambung ke HP. Lagu-lagu terbarunya Ed Sheeran, Rihanna, Ariana Grande menjadi favorit saya.
Jika butuh selingan, misalnya pada menit ke-30an, kadang saya sengaja melepas eaephone untuk mendengarkan suara alam. Desiran angin dan nyanyian daun-daun rumpum bambu.
Kala berlari, saya juga suka menyesap aroma khas pagi hari. Segarnya uap pagi, daun dan tanah basah sehabis hujan semalam.
Di lintasan yang dihimpit rumput tinggi atau cemara, saya juga sering iseng menyentuh daun dan batang muda pepohonan.
Juga aroma nasi uduk dan bakaran batok kelapa uda pemilik nasi padang bersiap membakar ikan atau ayam dagangannya. Maklum, jalur lari saya bukan stadion tapi trek kampung :)
Ketika jogging baik pagi maupun sore, saya juga suka sengaja menyapa sesama pelari meskipun belum atau bahkan tidak kenal.
Sekadar mengucap, 'mari Pak' atau 'lari omm?' menjadi ikhtiar untuk tetap menjadi manusia sosial dan waras yang bersilaturahmi, dan bukan pelari yang mengasingkan diri dari lingkungannya.
:)
Sunday, March 11, 2018
Wednesday, March 7, 2018
Buku dan blog
"Suka menulis di blog, ojo lali membaca buku."
Itu pesan untuk saya sendiri siang ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dari Bogor, naik kereta.
Begitu juga, sering browsing dan keluyuran di wall Facebook kala membunuh waktu, sempatkan pula membaca buku.
Hari ini saya memilih buku berwarna putih berjudul "Mengenal Ilmu Politik" karya Ikhsan Darmawan.
Buku, bagi saya, ketika banjir informasi seperti sekarang ini - dari internet, media sosial, grup WA - menjadi wahana untuk menyegarkan pikiran.
Sekaligus pula, memperluas sudut pandang dan tentunya memperdalam ilmu.
Membaca buku juga ikhtiar tetap menjadi manusia :)
Monday, March 5, 2018
Bogor
Dulu, saya mengenal kata "Bogor" sebagai sebuah kota di Jawa Barat yang identik dengan hujan, kebun raya dan asinan.
Itu saya ketahui ya hanya dari buku pelajaran geografi dan pengetahuan umum. Di luar itu, kota itu identik dengan Istana Bogor.
Sejurus dengan informasi yang makin marak di zaman internet, hal-hal lain terkait Bogor semakin memperkaya saya. Bogor adalah ujung dari jaringan kereta commuter line dari Jakarta, Depok, Citayam, Cilebut dan berakhir di kota tersebut.
Soal kuliner juga makin banyak yang saya tahu. Selain asinan, koleksi makanan Bogor juga bejibun: karedok, bakso, cemilan dan lain-lain. Soal bakso misalnya, sepertinya sama dengan bakso dari daerah lain namun menurut saya tetap beda lantaran hawa yang lebih sejuk dibanding daerah lain. Meskipun kala terik, Bogor ya bisa berasa panas hehehe
Kini, setelah saya pindah ke Bogor, tepatnya sih di Cilebut yang masuk di Kabupaten Bogor, semakin banyak pula "knowledge" saya tentang daerah tempat tinggal saya.
Satu tempat yang saya susuri ialah sentra tanaman hias, kebun bibit buah dan tanaman taman lainnya.
Akhir pekan pertama, saya ngeluyur ke arah Taman Bilabong hingga Jalan Kemang atau Jalan Baru yang tembus ke Jalan Raya Parung-Bogor. Mampir di toko bibit, saya pulang dengan menenteng pohon jambu kristal yang buahnya tanpa biji.
Di rumah, bibit setinggi 30an cm itu menemani empat pucuk bibit pohon pucuk merah yang saya boyong dari sentra tanaman hias di Rawabelong, Jakarta Barat. Jauh ye hehehe, itu saya beli pas pindahan bulan lalu.
Harga bibit pohon jambu Rp 30 ribu (saya tawar dari harga semula Rp 35ribu), sedangkan pucuk merah @ Rp20 ribu.
Bogor juga banyak terdapat tukang kayu yang menerima pesanan kusen, pintu, meja, kursi, kitchen set dan perabotan lainnya. Di sini banyak pula bengkel las besi, ini mungkin seiring semakin banyaknya perumahan di Bogor Raya: Kota dan Kabupaten Bogor.
Jangan tanya soal mal dan pusat perbelanjaan, di Kota Hujan ini berderet mal-mal baru. Paling ikonik tentu Botani Square, juga Lippo Mal. Juga BTM yang dekat dengan pintu utama Kebun Raya.
Sedangkan di Cibinong - ibukota Kabupaten Bogor, terdapat Cibinong City Mall dan lain-lain.
Satu jenis spot wisata incaran saya - dan yang saya sukai - adalah spot wisata alam. Untuk yang ini, Bogor punya koleksi buanyak. Sejurus empat penjuru angin, Bogor punya beragam wisata natural. Puncak dan Taman Safari adalah ikon utama, lalu Jungle Land dan beragam waterpark seantero Bogor Raya. Juga Pasar AhPoong di Sentul City.
Paling gampang, mencari alternatif wisata alam adalah dengan googling atau mengintip ke web wisata dan travelling :)
Saya sendiri, juga mulai mengincar beberapa spot wisata alam yang bakal saya dan keluarga mau sambangi. Meskipun belum bikin list, sepertinya incaran pertama adalah Pasar AhPoong, waterpark dan playground.
Satu lagi, jejalanan di Bogor terutama dekat rumah, juga pas menjadi trek lari pagi atau sore :)
Itu saya ketahui ya hanya dari buku pelajaran geografi dan pengetahuan umum. Di luar itu, kota itu identik dengan Istana Bogor.
Sejurus dengan informasi yang makin marak di zaman internet, hal-hal lain terkait Bogor semakin memperkaya saya. Bogor adalah ujung dari jaringan kereta commuter line dari Jakarta, Depok, Citayam, Cilebut dan berakhir di kota tersebut.
Soal kuliner juga makin banyak yang saya tahu. Selain asinan, koleksi makanan Bogor juga bejibun: karedok, bakso, cemilan dan lain-lain. Soal bakso misalnya, sepertinya sama dengan bakso dari daerah lain namun menurut saya tetap beda lantaran hawa yang lebih sejuk dibanding daerah lain. Meskipun kala terik, Bogor ya bisa berasa panas hehehe
Kini, setelah saya pindah ke Bogor, tepatnya sih di Cilebut yang masuk di Kabupaten Bogor, semakin banyak pula "knowledge" saya tentang daerah tempat tinggal saya.
Satu tempat yang saya susuri ialah sentra tanaman hias, kebun bibit buah dan tanaman taman lainnya.
Akhir pekan pertama, saya ngeluyur ke arah Taman Bilabong hingga Jalan Kemang atau Jalan Baru yang tembus ke Jalan Raya Parung-Bogor. Mampir di toko bibit, saya pulang dengan menenteng pohon jambu kristal yang buahnya tanpa biji.
Di rumah, bibit setinggi 30an cm itu menemani empat pucuk bibit pohon pucuk merah yang saya boyong dari sentra tanaman hias di Rawabelong, Jakarta Barat. Jauh ye hehehe, itu saya beli pas pindahan bulan lalu.
Harga bibit pohon jambu Rp 30 ribu (saya tawar dari harga semula Rp 35ribu), sedangkan pucuk merah @ Rp20 ribu.
Bogor juga banyak terdapat tukang kayu yang menerima pesanan kusen, pintu, meja, kursi, kitchen set dan perabotan lainnya. Di sini banyak pula bengkel las besi, ini mungkin seiring semakin banyaknya perumahan di Bogor Raya: Kota dan Kabupaten Bogor.
Jangan tanya soal mal dan pusat perbelanjaan, di Kota Hujan ini berderet mal-mal baru. Paling ikonik tentu Botani Square, juga Lippo Mal. Juga BTM yang dekat dengan pintu utama Kebun Raya.
Sedangkan di Cibinong - ibukota Kabupaten Bogor, terdapat Cibinong City Mall dan lain-lain.
Satu jenis spot wisata incaran saya - dan yang saya sukai - adalah spot wisata alam. Untuk yang ini, Bogor punya koleksi buanyak. Sejurus empat penjuru angin, Bogor punya beragam wisata natural. Puncak dan Taman Safari adalah ikon utama, lalu Jungle Land dan beragam waterpark seantero Bogor Raya. Juga Pasar AhPoong di Sentul City.
Paling gampang, mencari alternatif wisata alam adalah dengan googling atau mengintip ke web wisata dan travelling :)
Saya sendiri, juga mulai mengincar beberapa spot wisata alam yang bakal saya dan keluarga mau sambangi. Meskipun belum bikin list, sepertinya incaran pertama adalah Pasar AhPoong, waterpark dan playground.
Satu lagi, jejalanan di Bogor terutama dekat rumah, juga pas menjadi trek lari pagi atau sore :)
Saturday, February 17, 2018
Tembakau
Yang segera melintas di ingatan saya tentang tembakau adalah kokohnya Gunung Sumbing di Temanggung.
Di hamparan daratan dari kaki dan punggungnya, tanaman tembakau dibudidayakan para petani.
Pemandangan tanaman tembakau, dedaunan hijaunya dan aroma pupuk menyergap ingatan saya. Ya, ingatan tentang tembakai memang tertanam sejak saya belia, sejak usia SD ketika sering diajak Ibunda menengok nenek di Temanggung.
Dari pinggiran desa Jampirejo, dari pematang sawah, dari tepi selokan, saya suka menyapu hamparan kebun tembakau dari hadapan saya hingga nun jauh di punggung gunung.
Pandangan saya berujung di puncak Sumbing yang kadang kala tertutup kabut dan jika beruntung terlihat puncak yang agung di ketinggian sana.
Ketika jalan-jalan di jalur-jalur persawahan, saya kadang meraba permukaan daun tembakau. Ada perasaan tenang di hati, mungkin mencoba menyesap ketelatenan para petani menanam emas hijau ini.
Begitu juga ketika bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2007, saya mendaki Sumbing bersama kawan kuliah, kembali saya menikmati lekat-lekat hamparan tanaman tembakau. Meskipun bukan perokok super aktif, saya merasakan bagaimana ribuan bahkan jutaan saudara-saudara petani Temanggung mengharapkan berkahNya dari tanaman ini.
:)
Di hamparan daratan dari kaki dan punggungnya, tanaman tembakau dibudidayakan para petani.
Pemandangan tanaman tembakau, dedaunan hijaunya dan aroma pupuk menyergap ingatan saya. Ya, ingatan tentang tembakai memang tertanam sejak saya belia, sejak usia SD ketika sering diajak Ibunda menengok nenek di Temanggung.
Dari pinggiran desa Jampirejo, dari pematang sawah, dari tepi selokan, saya suka menyapu hamparan kebun tembakau dari hadapan saya hingga nun jauh di punggung gunung.
Pandangan saya berujung di puncak Sumbing yang kadang kala tertutup kabut dan jika beruntung terlihat puncak yang agung di ketinggian sana.
Ketika jalan-jalan di jalur-jalur persawahan, saya kadang meraba permukaan daun tembakau. Ada perasaan tenang di hati, mungkin mencoba menyesap ketelatenan para petani menanam emas hijau ini.
Begitu juga ketika bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2007, saya mendaki Sumbing bersama kawan kuliah, kembali saya menikmati lekat-lekat hamparan tanaman tembakau. Meskipun bukan perokok super aktif, saya merasakan bagaimana ribuan bahkan jutaan saudara-saudara petani Temanggung mengharapkan berkahNya dari tanaman ini.
:)
Sunday, February 4, 2018
Belanja Online
Belakangan ini, tepatnya sudah sekira setahun ini, saya semakin sering membeli barang dari secara online.
Dimulai dari membeli jam tangan dari 'Jual-Beli' di Kaskus, berlanjut hingga di zaman now yang makin marak dengan beragamnya marketplace.
Hingga kini, saya baru berbelanja dari dua marketplace: kalau nggak Tokopedia ya Bukalapak.
Soal harga adalah pertimbangan utama saya untuk membeli barang dari layanan ini. Pengalaman nih, saya pernah mendapatkan jam tangan Casio (spek biasalah, bukan G-Shock dkk) seharga Rp260an ribu ketika banderol di toko riil masih mencapai Rp 400 ribu.
Begitu juga dengan jemuran baju, di toko beneran saya dikasih harga Rp 350-450ribu dan ketika menengok ke Tokopedia, barang yang sama seharga Rp 265ribu. Ditambah ongkos kirim pun, harga total Rp 285 ribu, diantar sampai rumah hehehe. Ya pasti saya milih yang murah lah.
Namun tidak semua barang saya beli dari marketplace. Prinsip saya: barang yang wearable seperti pakaian dan sepatu, anti bagi saya untuk beli dari MP.
Ini karena standar ukuran bisa macem-macem je, apalagi sudah banyak cerita kawan yang beli dari MP ternyata kecewa karena size-nya nggak tepat.
Satu lagi, meskipun sejatinya jarang belanja dari MP, keberadaan aplikasi Tokopedia dll juga menjadi sarana 'hiburan' buat saya. Apa itu? ya menjadi wahana window shopping.
Pas nunggu kereta atau kerjaan, lihat-lihat barang di marketplace. Apakah ujung-ujungnya beli, lebih sering nggak. Sekadar tahu saja, oh ada ya barang kek gini. :)
Sunday, January 28, 2018
Silaturahmi
Ketemuan tanpa urusan.
Tinggal di Jakarta, menurut saya sih, menyimpan potensi risiko terasing dari sekitar. Kehidupan (bisa jadi) hanya berkutat di ranah pekerjaan. Hubungan personal yang berputar dengan rekan kerja yang sehari-harinya sudah menyoal pekerjaan.
Ini saya sadari dengan hati-hati. Saya sendiri bertekad saya kudu punya atau menjalin kehidupan sosial yang sehat. Sehat dalam arti wajar, atau seperti halnya kehidupan sehari-hari di Jogja atau pada umumnya lah. Yakni: silaturahmi dan berbincang-bincang tentang apapun.
Ketika tinggal di Rawabelong, Jakarta Barat, saya usahakan untuk menyambangi tetangga di akhir pekan untuk ngobrol rada lama. Segelas teh dan kopi menjadi teman berbincang.
Atau, pagi sebelum berangkat maupun petang sepulang kerja sekadar menyapa, 'piye kabare?' atau 'ngopi dulu lah'. Apapun bisa diobrolin meskipun saya sendiri berusaha untuk tidak (terlalu) banyak membicarakan orang alian nggosip. Maunya sih hahahahaaaaa.
Ketika tinggal di Cilebut, Bogor - saya pindahan akhir Januari ini - saya juga bertekad untuk menyempatkan mengunjungi kawan-kawan yang tinggal di seputaran Bogor. Silaturahmi, menanyakan kabar, ngobrol tentang yang kemarin, kini dan esok #ealahhh
Semangat 'ketemuan tanpa urusan' menjadi pendorong saya untuk menyapa tetangga dan kawan-kawan. Ini karena, saya pikir, silaturahmi adalah hal yang sehat dan perlu serta bahkan dibutuhkan.
Saya sendiri dan kita sebaiknya tidak perlu untuk menunggu adanya momentum urusan tertentu dan keperluan spesifik untuk bersilaturahmi. Just do it saja, demi menjaga kodrat sebagai manusia dan mahluk sosial hehehe
Salam :)
Tinggal di Jakarta, menurut saya sih, menyimpan potensi risiko terasing dari sekitar. Kehidupan (bisa jadi) hanya berkutat di ranah pekerjaan. Hubungan personal yang berputar dengan rekan kerja yang sehari-harinya sudah menyoal pekerjaan.
Ini saya sadari dengan hati-hati. Saya sendiri bertekad saya kudu punya atau menjalin kehidupan sosial yang sehat. Sehat dalam arti wajar, atau seperti halnya kehidupan sehari-hari di Jogja atau pada umumnya lah. Yakni: silaturahmi dan berbincang-bincang tentang apapun.
Ketika tinggal di Rawabelong, Jakarta Barat, saya usahakan untuk menyambangi tetangga di akhir pekan untuk ngobrol rada lama. Segelas teh dan kopi menjadi teman berbincang.
Atau, pagi sebelum berangkat maupun petang sepulang kerja sekadar menyapa, 'piye kabare?' atau 'ngopi dulu lah'. Apapun bisa diobrolin meskipun saya sendiri berusaha untuk tidak (terlalu) banyak membicarakan orang alian nggosip. Maunya sih hahahahaaaaa.
Ketika tinggal di Cilebut, Bogor - saya pindahan akhir Januari ini - saya juga bertekad untuk menyempatkan mengunjungi kawan-kawan yang tinggal di seputaran Bogor. Silaturahmi, menanyakan kabar, ngobrol tentang yang kemarin, kini dan esok #ealahhh
Semangat 'ketemuan tanpa urusan' menjadi pendorong saya untuk menyapa tetangga dan kawan-kawan. Ini karena, saya pikir, silaturahmi adalah hal yang sehat dan perlu serta bahkan dibutuhkan.
Saya sendiri dan kita sebaiknya tidak perlu untuk menunggu adanya momentum urusan tertentu dan keperluan spesifik untuk bersilaturahmi. Just do it saja, demi menjaga kodrat sebagai manusia dan mahluk sosial hehehe
Salam :)
Wednesday, January 3, 2018
Perjalanan
Sudah lama saya tidak meniti perjalanan keluar kota. Berganti pekerjaan membuat saya tidak lagi berkesempatan ngeluyur ke lipatan-lipatan Indonesia.
Alih-alih ingin bepergian, hal ini justru mendorong saya untuk menggarap 'PR' yang belum saya garap. Yakni, menulis catatan dari tiap perjalanan yang saya susuri kemarin-kemarin.
Sayang rasanya jika pengalaman kesana kemari hanya diparkir di status Facebook dan Instagram, yang lebih untuk pamer #eh. Kok keliatan jujur banget yak hahahaaaa
Mulai dari mana ya? Saya bakal mulai dari yang ringan-ringan saja (lha emang ada jalan-jalan yang berat? ealah)
Sejatinya, sebagian besar perjalanan kemarin adalah perjalanan dinas tapi nantinya saya akan mengolahnya dengan ringan saja. Ditambah tentunya dengan unggahan foto-foto terkait agar lebih hidup.
Salam menulis dan blogging :)
Alih-alih ingin bepergian, hal ini justru mendorong saya untuk menggarap 'PR' yang belum saya garap. Yakni, menulis catatan dari tiap perjalanan yang saya susuri kemarin-kemarin.
Sayang rasanya jika pengalaman kesana kemari hanya diparkir di status Facebook dan Instagram, yang lebih untuk pamer #eh. Kok keliatan jujur banget yak hahahaaaa
Mulai dari mana ya? Saya bakal mulai dari yang ringan-ringan saja (lha emang ada jalan-jalan yang berat? ealah)
Sejatinya, sebagian besar perjalanan kemarin adalah perjalanan dinas tapi nantinya saya akan mengolahnya dengan ringan saja. Ditambah tentunya dengan unggahan foto-foto terkait agar lebih hidup.
Salam menulis dan blogging :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
