Wednesday, May 20, 2015

Selebrasi. Satu tahun bisa renang.




























Mei ini, tepat satu tahun saya bisa berenang :)

Lokasi "selebrasi" pun cakep, pas tugas luar kota ke Manado.

Hotel tempat menginap di Sintesa Peninsula yang punya kolam renang dengan panjang sekitar 50 meter. Selain itu, view dari kamar saya yang di lantai 12 bisa lepas menatap lekat-lekat Gunung Manado Tua di lepas pantai, arah Bunaken, pegunungan, pelabuhan dan proyek jembatan Manado serta kota.

Berenang di luar kota seperti inilah yang turut menjadi motivasi saya ketika memantapkan niat belajar renang di Jakarta. Motivasi terkuat ialah demi bisa mengajari dan menemani anak saya, si kecil Kaka kelak jika dia beranjak besar.

Jumat pagi di pinggir kolam renang Manado ini pulalah, setelah 30 menit hilir mudik dengan gaya dada dan bebas, saya selonjoran memandang tenangnya permukaan air, bayangan langit biru. 

Saat itulah saya mensyukuri sudah bisa berenang. Tak lagi ada cerita saya cuma memandangi kolam renang, danau dan laut di pesisir Tanah Air, tanpa bisa nyebur :)

Dulu, tak terhitung berapa kali saya hanya bisa manyun melewati kolam renang dan hanya bisa melongo di pasir pantai ketika ada kesempatan keluar kota :| Mungkin Anda juga pernah mengalaminya heheheeee. #toss

Kini, 'kerja keras' (yaelah...) dan kegigihan saya terbayar. Saya jadi punya banyak pilihan melakukan aktivitas luar ruangan alias outdoor ketika merayapi sekujur Nusantara: jalan-jalan, hiking, susur pantai, lari dan renang. Oya, tentunya selain nguliner hahahaaa

Sepadan pula, keengganan saya untuk menyerah terutama di empat kali pertama sesi belajar renang di Manggala Wanabakti, samping DPR Senayan, Jakarta satu tahun lalu.

Di empat sesi latihan itu, dari total 10 kali pertemuan, saya meneriaki diri sendiri bahwa: "Gw harus bisa. ‎Mau kelelep kek, nelen air, gelagepan, dan himpitan rasa malu-malu ga bakal ada apa-apanya dibanding nikmatnya bisa berenang! Yakin bisa!"

Di ibukota Sulawesi Utara, di bibir Pasifik, 4 jam terbang dari Jakarta, di kolam renang di atas bukit ini, saya bersyukur. :)

‎- cerita kala saya belajar, les / kursus renang ada di sini, termasuk info lokasi, telepon dan HP guru renang : http://halamansamping.blogspot.com/2014/04/belajar-renang-di-jakarta.html





Thursday, April 23, 2015

Biaya kursus stir mobil, harga Jakarta :)

‎Kemarin lihat-lihat kursus stir mobil. Ada dua yang dekat rumah di seputaran Palmerah, Jakarta.

Kali-kali buat referensi, ini brosur "Cahaya Baru". Sekalian bisa untuk perbandingan. :) 

Semoga bermanfaat. Eh btw, saya bukan owner atau kerja di Cahaya Baru. Just info, sekalian bantu orang punya usaha mandiri :)

Tanya-tanya, ke telepon mereka langsung: 021-963-43-121, 0812 8577 9488, 0838 1587 4423.

Ada satu lagi, namanya "Persemija", tapi saya nggak punya brosurnya. Telpon di 021-5363 534, 021-5322289, 021-5307517.

Btw, beda kursus stir, Cahaya Baru, Persemija dan lain-lain harganya beda-beda lho. ‎Salam.



Saturday, April 18, 2015

Bareng wartawan Surabaya :)


‎Pas kunjungan ke pabrik PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik, Jawa Timur, Pak Menteri Perindustrin Saleh Husin nyempetin foto bareng wartawan peliput dari media-media di Surabaya.

Nah, karena saya nggak sempat kenalan dan nanya nomer kontak atau email, saya posting fotonya di sini. 

Kali-kali om-om di pict itu butuh filenya, feel free, monggo, download aja fotonya langsung dari blog ini. Atau kontak saya untuk file foto, FB saya: inung gunarba

:) salam. Kapan2 dolan Surabaya lagi :)


Inung Gunarba | Dikirim dari BlackBerry Q10 saya.

Thursday, April 2, 2015

Just do it.


Seingetku, belasan tahun lalu, ketika meliat kawan lari, otakku sibuk menerka-nerka alasan dia melakukannya 1-2-3 kali seminggu. "Oh mungkin dia ingin kurus, kali-kali buat persiapan naik gunung, travelling, atau terapi fisik kah...? dll dst...." 

Aku sendiri, pada tahun-tahun pertama menjejak trek parkir barat GSP UGM, memang membuktikan: lari bikin daya tahan lebih baik, dari gampang flu dan pusing (aku selalu punya bekal obat sakit kepala di tas). Flu bisa menerjang tiap 3 bulan, tiap kena perlu 10hari- 2 minggu untuk sembuh. 

Setelah lari, flu 'hanya' mampir 6 -8 bulan sekali, dan pulih total dalam 4-7 hari. Ini untuk flu berat, kalau ringan hanya 2-3 hari. 

Lari juga membuat pendakian ke Gunung Merbabu (3067mdpl) di usia 30 tahun, terasa menyenangkan. Tanpa tusukan nyeri di betis, paha dan punggung pasca pendakian. 

Cerita dari kawan juga senada. Divonis dokter sebagai pengidap bronchitis + sesak nafas di usia 20 tahun, mengonsumsi obat setiap usai makan hingga umur 35 tahun, dia lantas mencoba lari. 

Tiga tahun pertama butuh kerja keras karena dihimpit fisik yang lemah dan ditambah, istilah dia, tanpa ada keyakinan sedikitpun apakah lari bakal berdampak atau tidak. 

Dan... sejak umur 40 tahun, tiga tahun lalu, dokter sudah menghentikan memberinya resep obat. :) #well done. "Yang gw sesali, kenapa nggak dari umur 25-30 ya? Tapi gw tetep senang. Anak bini juga hepi, papanya ini sehat, gemukan, nggak cungkring lagi hehehe.." ... 

Dari itu semua, kini dan esok, aku tidak lagi butuh alasan apapun. Just do it! Salam #marilari "

Don't ask why i run, ask yourself why you don't"  

Inung Gunarba | Dikirim dari BlackBerry Q10 saya.

Monday, March 30, 2015

Helikopter :)


‎Hari jumat lalu, 28 Maret 2015 jadi kesempatan pertama saya bergoyang-goyang naik helikopter :)

Yeah ini memang pertama kalinya naik moda transportasi yang baling-balingnya ada di bagian atas.

Rutenya dari helipad sebuah pabrik rokok kondang di Kediri ke Surabaya :)

Jika menggunakan mobil, jarak kedua kota sejauh 124 km itu mesti ditempuh selama 3-3,5 jam‎.

Nah dengan helikopter, cukup 30 menit saja :)

Salam pecel Kediri +_+

Inung Gunarba | Dikirim dari BlackBerry Q10 saya.

Saturday, March 21, 2015

Cara darurat sepatu basah kehujanan



Cara darurat sepatu basah kehujanan, abis ngetrel dll

Sebelumnya yg biasa saya lakukan adalah mengeringkan dengan meniriskan sepatu basah, disenderkan di tembok agar rembesan air turun dan menjemur/mengangin-anginkan.

Lha lantas gimana kalau lari sore trus kehujanan? Mau menjemur gimana? Atau pas di luar rumah dan di hotel/tempat menginap saat traveling atau kerja luar kota. Sedangkan esok harinya pengen lanjut lari menyambut sunrise :) he3

Kita bisa memanfaatkan koran bekas yang "diuntel-untel" jd bulatan kecil.

Lho kok koran yg notabene dr kertas? Karena, kita memanfaatkan daya serapnya thd air.

Jika hanya meniriskan, kita hanya mengandalkan pada grativasi. padahal sepatu lari berbahan kain atau sepatu formal berbahan kulit sekalipun, sudah punya sifat dasar 'menyimpan air' .

Jadi, ga bakal deh sepatu cukup nyaman untuk dipakai beberapa jam kemudian atau di pagi hari.

Nah, khusus utk ujung sepatu, buat buntalan lebih kecil agar bisa menjangkau ujung sepatu. Tiap sepatu kira-kira butuh 2-4 lembar halaman, silakan buntalannya disesuaikan. Seperti di foto ye.

Untuk sepatu yg basah banget, ganti kertas koran setelah 1-2 jam pertama. Kita akan rasain sendiri kertas koran menjadi sangat basah yg artinya air di badan sepatu telah terserap.