Wednesday, September 4, 2019

Bikin sendiri kursi teras dari kayu bekas palet


Beberapa bulan lalu saya mosting soal tutorial membuat kursi kayu yang disarikan dari channel youtube-nya teteh Empo. Lalu kemarin beneran bikin dibantu tetangga.

Bahan utama kursi ini adalah kayu papan bekas palet. Biasanya bongkaran dari palet atau tatakan barang yang dikirim melalui peti kemas.

Untuk mencari bahan kayunya, terbilang mudah karena toko kayu spesialis bekas palet makin banyak. Setahu saya, kebanyakan penjualnya dari Madura. Langganan saya di Cilebut, Bogor.

Untuk proyek kursi terbaru ini, yang saya suka dari hasil jadinya antara lain:

  • Gampang, antiribet. Proses pembuatannya terutama join antar kayu tidak memerlukan pasak. Hanya sekrup gipsum ditambah plat siku L untuk menahan beban. 
  • Spek kursi santai ini pas buat orang kita yang tingginya 160-170cm. 
  • Cucok ditaruh di teras dan bisa di ruang tamu. 
  • Kaki-kakinya ceper sehingga ketika kita duduk berasa nyelonjor. Dapat dah feel lagi nyantai di lounge :D. Kan arti dan asal muasal 'lounge' memang bersantai-santai, begitu sih yang saya pernah dengar CMIIW. 
  • Tinggi alas dari lantai yakni 30 cm. Ini pas buat saya. Bisa juga mematok tinggi 33-35cm. Saran saya, jangan lebih dari 35cm ya karena nanti kaki kita berasa menggantung sehingga tidak berasa nyantai lagi.
  • Begitu juga dengan sandaran tangan. Pas dan nyaman untuk menopang tangan ketika pegang HP, balesin chat WA grup, twitwar eh main FB di laptop dan mabar main bareng PUBG, ML dan malah main PS4 :)

Gimana proses dan cara pengerjaannya? Setelah pada sore belanja kayu bekas palet jati belanda di Cilebut, Bogor, langsung lanjut eksekusi malamnya bakda isya. Total dibutuhkan waktu 3 jam hehehe, maklum newbie. 

Mengikuti tutorialnya, bahan dan ukuran kayu yang dibutuhkan adalah:
  1. Papan kayu janda eh jati belanda sebanyak 8 lembar, ukuran (minimal)  panjang 90cm, lebar 14cm dan tebal 2cm. Kalau dapatnya ukuran kayu dengan panjang dan lebarnya lebih dari itu, gapapa, nanti tinggal potong. Harga di Bogor Rp17ribu sudah diserut atau ketam, jadi sudah bersih tinggal pakai. 
  2. Sekrup gipsum (di kemasannya tertulis 'sekrup drywall')  ukuran 4cm minimal 50pcs dan ukuran 2 atau 2.5cm sebanyak 20pcs. Di toko material, ada yang dijual per kotak Rp 70an ribu isi 300pcs. Kebetulan saya dapat yang diecerkan Rp10ribu isi 50 pcs, pas banget lah.
  3. Plat siku L sebanyak 8pcs harganya Rp2000 - 5000 tergantung tebal tipisnya. 
Total belanja sekira Rp170an ribu. Di luar mampir ke ayam geprek ya. 

Sedangkan peralatan alias tools utamanya cukup bor dan gergaji listrik (jig saw). Alat yang lain mah standar seperti penggaris siku, meteran,  waterpas, pensil dll. 

Bagaimana dengan finishing? Saya ntar minta pelitur dan cat glossy Propan seri 05 ke tetangga yang kemarin juga bebikinan meja dari kayu palet :)

Selain opsi finishing yang sederhana tadi, bisa juga nanti finishing yang lebih cakep kali ya. Misalnya  didahului dengan membalurnya lebih dulu dengan di-sanding sealer memakai Impra NC, ini untuk menutup pori-pori. Lanjut dikuasin atau kalau ada semprot Woodstain Impra Walnut Brown, dan biar kinclong di-clear memakai Dana Gloss PU X2.

Soal cara step by step, bisa disimak di link artikel di atas ya. Di sini, langsung deretan foto penampakan ganteng ya he-he-he 


Belum difinishing


Si Lenov sudah nangkring

Friday, August 30, 2019

Bogor Jalan-jalan (7): Toge Goreng Pak Abung di Cihideung



Jalan-jalan lagi, makan-makan lagi. Ini cerita ngeluyur di Bogor yang paling anyar. Di ujung Agustus, saya main ke salah satu vila garapan kawan di Cigombong, tepatnya di kaki gunung Salak lereng timur. Nah pulangnya, mampir ke toge goreng di Cihideung yang penomenal eh fenomenal: toge goreng Pak Abung.

Buat saya yang jagoan kuliner eh tahunya hanya ada 2 jenis makanan 'enak' dan 'enak banget', toge goreng pakai ketupat ini yang berada di pinggir jalan Cihideung arah ke Cijeruk ini emang muasin selera.

Apalagi cuaca sejuk, maklum lokasinya masih di ketinggian 550an meter di atas permukaan laut (mdpl). Barengan dua tetangga komplek, kami mampir setelah pelesiran dari Cijeruk diantar si semok Avanza matic item manis :)

Di belakang saung tempat kita makan, bisa pula terlihat lansekap kota Bogor di kejauhan. Angin kemarau bulan delapan juga makin bikin adem suasana. Ya tentu saja rasa lapar juga bikin makin enak si masakan racikan bapak hehehe

Jika suatu waktu makan ke sini, don't worry untuk menunggu lama. Pak Abung dan dua asistennya lincah meracik pesanan kita. Sat-set kayak silat lah :)




Kebetulan juga pas kami datang lagi nggak ada antrean. Malahan, belum sempat saya duduk, sepiring masakan khas Bogor ini sudah terhidang di lantai saung. Memang sudah tepat banget tempat makan ini dibuatkan saung jadi kita bisa selonjoran apalagi beratap rumbia. Eksotekkkk banget lah :D

Harga seporsi berapa sih? Terus terang saya nggak tahu karena waktu itu keburu dibayarin kawan saya. Kenyang dan dompet masih tebel. Indahnya dunia, alhamdulillah.





Kita bisa makan di tempat atau bawa pulang untuk oleh-oleh keluarga di rumah. Awalnya saya kira makanan ini kurang pas kalau di makan berselang beberapa jam. Yah kali-kali rasanya jadi asam karena pengaruh tauconya.

Eh ternyata dugaan saya nggak bener. Toge goreng tetep enak di makan sore atau malah pagi hari keesokannya lagi. Oleh si bapak, kuahnya sudah dipisah dan kita tinggal manasin di wajan.

Rasanya juga segar dengan aroma yang sama-sama segar. Sepertinya aroma masakan terjaga oleh daun patat yang digunakan sebagai pembungkusnya. Jadi, uniknya toge goreng ini, pembungkusnya bukan memakai daun pisang melainkan daun patat tadi.



Nah posisi di google map ini ya, tinggal kita ikutin di https://bit.ly/32oW2FZ , ancer-ancernya seberangnya ada Masjid/Musala Nurul Huda dan toge goreng Pak Abung ada di semacam area kulineran bareng ama sate maranggi, bakso dll yang parkirannya luas.
Ada pula pohon mangga rindang di halamannya. Jadi, salah satu tempat kuliner di Bogor ini pas banget buat rest area, bisa makan dan salat. Oya nomor HP pak Abung seperti tertera di plang saung ialah 081382416643.


Selamat makan toger sambil menyesap hawa sejuk Bogor :)

Monday, August 5, 2019

Merangsang bunga portulaca: do less, get more

Barisan krokot alias portulaca di Rumah Bogor

Salah satu pot koleksi tanaman hias portulaca atau krokot di rumah Bogor sempat lama tidak berbunga. Padahal, pot-pot tanaman yang sama lainnya sudah berbunga. 

Nah pot yang satu ini kok berdaun banyak dan dilihat-lihat sih tanamannya sehat wal afiat tapi belum juga memamerkan kecantekannya hehehe. Dan juga malah sudah muncul kelopak atau bakal bunga tapi nggak juga mekar-mekar. Kayak ngambek gitu.

Bersama jenis lainnya, krokot termasuk jajaran belasan tanaman hias yang mudah banget ditanam, diperbanyak dan  ajin berbunga. Cukup dengan memotong batangnya, lalu tancap kna di tanah gembur maka beberapa hari berselang sudah keluar akar.

Setelah keluyuran di internet, baik googling dan ke grup Facebook, akhirnya dapat ide untuk mencoba cara pruning. Tips ini, pada dasarnya ialah penjarangan daun dan cabang yang dilakukan dengan memangkas sebagian daun dan cabang untuk merangsang dan memacu munculnya bunga.

Pada umumnya, pruning biasa dilakukan untuk tanaman hias, tanaman bunga hingga tanaman buah seperti mangga, jambu, tin, pepaya, durian, kelengkeng dan kawan-kawannya. Jadi prinsip kerennya bagaimana kita mengurangi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Do less and get more, katanya simbah saya yang di Jerman :D 

Alhamdulillah, hanya berselang 6 hari alias kurang dari seminggu, bunga krokot atau disebut juga bunga pukul sembilan atau moss rose, mekar juga. Warnanya merah dan ada juga kombinasi merah-putih, pas banget buat menyambut 17 Agustusan hehehe.

Perbandingan krokot yang sudah mekar
dan yang belum padahal daunnya lebat.
Dari pengalaman kemarin, berikut tips yang kiranya bisa bermanfaat:
  1. Pilih dan pilang cabang mana saja yang kita pertahankan dan kita buang.
  2. Cara memilahnya, kita tentukan 1 cabang yang mau dipertahankan. Lalu, cabang sebelahnya kita potong. Begitu seterusnya.
  3. Jika memang sudah ada bakal bunga atau kelopak, nah cabang yang sudah ada kelopaknya ini kita pertahankan walau nggak semua.
  4. Rumusnya, 1 cabang = hanya 1 kelopak bunga
  5. Maka jika ada 1 cabang punya 2-3 bahkan 4 bakal bunga, maka yang lainnya buang saja.
  6. Wah sayang dong. Ya memang kudu tega bro dan sista. 
Godaannya memang sering kali kita nggak tegaan membuang cabang, apalagi sudah ada kelopaknya. Tapi memang begitu caranya kalau mau memacu mekarnya bunga portulaca.

Apa sih yang mendorong bunga bermekaran dari langkah pruning ini? Dengan pruning maka nutrisi yang sebelumnya 'diperebutkan' oleh banyak cabang dan banyak bakal bunga, maka bisa fokus untuk cabang dan bunga yang lebih sedikit.

Salam berbunga dari Bogor :)


Searah jarum jam, before & after pruning 



Monday, July 29, 2019

Bogor Jalan-jalan (6): berburu pisau dapur dan golok berkualitas

Toko Pak Mis Jaya

Menjelang Hari Raya Kurban atau Idul Adha, kemarin saya dan om-om se-kompleks jalan-jalan berburu pisau daging. Dasar bapak-bapak, begitu nemu toko peralatan akhirnya pulang nyangking tambahan seperti pisau dapur, golok dan gergaji.

Nah, buat yang di Bogor atau lagi di Kota Hujan dan sedang mencari aneka pisau, golok, gergaji dan alat potong lainnya, salah satu kios di Pasar Bogor ini bisa banget buat jujukan. Di Toko Mis Jaya ini, ada juga pisau untuk menyembelih hewan kurban.

Nama pemilik tokonya adalah Pak Mis, orang Kudus yang sudah jadi Urang Sunda sejak belia. Bahasanya Sunda alus pisan hehehe

Pak Mis juga berbagi pengetahuan dan informasi produk pisau yang berkualitas. Termasuk kisi-kisi memilih pisau sesuai peruntukan dan dana di kantong.

Misalnya untuk pisau dapur yang juga dibutuhkan untuk mengiris daging, baik untuk ibu-ibu di dapur maupun untuk nanti pas Hari Raya Kurban. Beliau memilihkan antara Tramontina (produk asala Brazil made in China) dan Tanica (yang ini dari Korea). Beliau prefer yang Tramontina.

Aneka pisau daging, golok dll

Ketika memilihkan pisau daging dan golok, Pak Mis juga berbagi informasi. Pilihlah yang berbahan per baja dan bukan yang sekadar besi. Berat dan kualitas serta realibiliti per baja jauh di atas besi. Nggak gampang grumpil. Dengan harga yang selisih dikit, golok besi Rp 70 ribu, golok per baja Rp 80 ribu maka saya pun memilih golok per baja.

Begitu juga dengan pisau daging yang biasa dipakai pedagang daging ayam dan sapi, pilih sekalian saja pisau daging dari per baja. Harganya Rp 60-70 ribu.

Oya, kami mendapat rekomendasi tempat ini dari para pedagang daging di Pasar Anyar yang ketika kami tanya, mereka menunjukkan tempat belanja peralatan pisau dkk ke Pasar Bogor ini yang lokasinya persis di seberang Pintu Masuk Kebun Raya Bogor.

Menuju ke titik toko ini, paling mudah kita masuk ke gerbang atau lawang Surya Kencana. Dari ujung sentra kuliner ini, tidak jauh menyeberang dari Ramayana, kita jalan kaki 100 an meter lalu masuk ke Jalan Pedati. Di ruas jalan yang penuh aktivitas jual-beli ini, setidaknya ada 2 toko pisau yaitu Toko Mis Jaya dan toko milik Pak Sholeh.

Link google mapnya bisa di-klik di https://bit.ly/2GOJXkZ . Adapun toko Pak Mis, berada di belakang los pedagang baju dan daging ayam, nomer HPnya  0895348184811 dan 085782322382 . Jadi, selain mengandalkan map, baiknya juga mencermati dengan seksama dan juga bertanya ke pedagang, sekalian merasakan hangatnya tegur sapa Bogor :)

Salam berburu pisau dan aneka peralatan Idul Adha dari Bogor.


Pisau daging dari besi

Pisau daging dari per baja


Pisau daging per baja.
Perhatikan ketebalannya, inilah yang membuat beratnya ideal
untuk membelah dan memotong daging ayam, sapi dan kambing

Sedangkan ketebalan pisau besi biasa, lebih tipis daripada pisau per baja





Aneka pisau tramontina, pisau rekomendasi pedang daging





Pisau daging dan dapur, Tanica

Pisau untuk menyembelih hewan kurban, bahan per baja.
Berkualitas euy, sesuai harganya Rp 200an ribu

Thursday, July 18, 2019

Terima kasih Pak Rudy


Nun bertahun lalu, Pak Rudy nyamperin kami. Menemani nyantai di sela acara perusahaan TV berlangganan paling keren se-Indonesia yang saat itu dipimpin beliau.

"Ngomong-omong, habis berapa bungkus rokok sehari?"

+ "Sebungkus. Ada yang dua bungkus."

"Oke, anggap saja 1 bungkus sehari. Berapa rata-rata harganya?"

"(saat itu) 12ribuan. Ada yang sampai 18ribu"

"Anggap saja 15ribu ya. Coba bayangkan, tiap hari setiap kita ingin beli rokok, kita alihkan dan cemplungin duit segitu ke kotak atau wadah lain. Tiap hari, setiap hari. Berapa duit terkumpul setelah 30 hari, setelah sebulan?"

+ "450an ribu"

"Kalau itu dilakukan mulai besok, berarti akhir bulan kalian bertambah kaya 450 ribu. Tul?

Setahun lebih dari 5 juta. Going simple. Dari awal kita bikin simpel ya. Saya dari tadi tidak mengajak berhenti beli 'permen' ya, karena saya juga kadang cheating apalagi kalau dikasih temen he-he-he.

Kuncinya di caranya, tiap mau beli rokok, taruh duit senilai harganya. Begitu tiap hari, begitu terus setiap saat. Mungkin sehari dua hari, belum kerasa. Setelah 7 hari, nah kita lihat seberapa tambah asset kita, cash kita, kekayaan kita he-he-he. Gimana kalau sebulan, setahun.

Kita bisa taruh di bawah kasur. Boleh saja. Taruh di tabungan, lebih bagus. Atau masukin ke reksa dana tiap bulan. Nantinya kan bisa untuk semesteran sekolah anak, hadiah istri, benerin motor mobil yang maintenance-nya pasti periodik kan. Bisa buat bantu bayar pajak. Jika ada agenda yang terencana seperti ganti HP, upgrade laptop, bisa juga. Gapapa untuk konsumsi, untuk yang produktif juga oke.

Ingat, sedari tadi saya ga nyebut satu kata pun soal saran berhenti ini itu, kurangi ini itu. Kita dari tadi ngobrolin soal duit. Mau duit kan?

+ "Mau lah Pak he-he-he"

Nah pertimbangkan ya.

...

Matur nuwun Pak Rudy.
Berkat tips njenengan, saya sudah markir reksa dana di Sucor Invest, Bareksa, bayar pajak tahunan jadi jauhhhh berasa ringan, dan bantu banget ketika kami perlu dana untuk mengurus KPR. Dan, sekalian ikhtiar menjadi lebih sehat. Aamiin.

*Foto hanya pemanis :)

Thursday, July 11, 2019

Lari lagi

Minggu ini saya kembali berlari usai puasa ramadan kemarin. Lha kok 'cuti' larinya lama banget, kan lebarannya sudah sebulanan lebih? 

Untuk yang beginian, saya memilih menghibur diri dengan memasukkan diri sendiri ke kategori grup tinimbang alias daripada ga sama sekali lari lebih baik telat kan ye :D

Begitulah. Seperti pagi tadi dengan ditemani angin sejuk Bogor, saya lari sejauh 5 kilometer selama 42 menit. Tiga hari sebelumnya, jarak tempuh saja sekira 4 kilometer yang dilahap dengan waktu juga 40an menit. Artinya kemarin saya berlari lebih lambat.

Berikutnya, rencana yang dibayangin adalah besok berlari lagi dengan pola interval running alias IR. Rinciannya, saya lari berselang-seling antara lari cepat 100 meter (setara 30 detik atau pace 5.30) dan lari pelan 300 meter (sekira 2:30 menit, pace 8).

Durasi totalnya cukup 30 menit. Interval running ini bermanfaat untuk mendongkrak endurance dan berlatih speed serta menguatkan kemampuan kardio. Aspek utama yang memberi tiga manfaat dari IR adalah aspek siklus perulangan lari cepat - lari lambat.

Sebelum dan sesuah lari, tentu saja saya melakukan pemanasan, peregangan dan pendinginan.

Keleluasaan saya berlari IR juga dimudahkan dengan lingkungan tempat tinggal yang memiliki beberapa jalur lurus 100an meter. Kawasan rumah-rumah memang diatur seperti kotak-kotak kue bolu talas ubi khas Bogor hehehe

Salam lari dari kaki Gunung Salak :)

Wednesday, June 26, 2019

Proyek Tanaman Hias Gantung

Setelah lebaran kemarin, saya kembali pengen bikin proyek pertamanan yang anyar lagi berupa tanaman bunga gantung. Kalau kemarin kan sudah menanam pohon mangga chokanan yang kini sudah berbunga dan muncul bakal buah, maka sembari menunggu 'panen' (aamiinnnn...), saya mau lagi memperbanyak beberapa koleksi tanaman bunga.

Setelah ngaduk-aduk Google, grup bertaman dan berkebun dan nanya-nanya tetangga, terkumpullah 7 tanaman hias yang bakal saya perbanyak dan nantinya akan dipadu padan. Ada yang saya beli, ada pula yang bonusan alias gratisan dan minta ke rumah sebelah hehehe (makanya gaul dong ama tetangga xaxaxa...).

Alih-alih memilih jenis bunga berdasar kecantekannya doang, saya lebih memilih bunga yang ga genit-genit amat alias mencari berdasar kategori seperti ini:
a. gampang tumbuh
b. nggak rewel nuntut pupuk aneh-aneh
c. berbunga (kalau bisa) banyak
d. mudah dibudidaya dan diperbanyak sendiri (supaya nggak bolak-balik beli lagi demi ngirit duit)
e. tahan panas matahari, nggak perlu terlalu sering disiram.

Berbekal syarat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat di atas, maka bunga yang lolos audisi untuk digantung di taman mungil rumah Bogor adalah sebagai berikut:

1. Tapak dara / vinca vinca gantung

src
Tips: tempatkan di luar ruang. Tanaman ini emang doyan dan tahan panas makanya suka pancaran dan mendapat sinar matahari sepanjang hari. Bahkan kalau mau bunganya cantek dan bahenol, pastikan kena sinar pagi siang sore.

Penyiraman ga butuh banyak-banyak. Sirami hanya ketika tanahnya kering. Jika musim hujan, tidak perlu dipindah ke tempat teduh. Cuman, pastikan saja air hujan yang di tanahnya tidak tergenang supaya akar dan batang nggak busuk.

Pokoknya, ini emang bandel dan anti rewel.

Jenisnyapun ada dua. Supaya gampang, saya menyebutnya ada vinca tegak dan vinca gantung. Budidaya atau cara memperbanyaknya bisa dengan semai biji dan stek batang. Nah untuk stek batang, kita bisa mencelupkan batangnya duluan ke cairan zat penumbuh akar seperti Rooton F dan Atonik.

2. Portulaka / krokot / moss rose


src
Dari segi jenis atau bentuk bunga, tentu macem-macem ye kan. Tapi untuk gampangnya, ada dua jenis jika dipilah dari bentuk daun dan ini terkait dengan beda perlakuan.

Singkatnya, portulaka yang daunnya runcing: taruh di tempat yang dapat matahari langsung, ini memang tahan panas, tahan cuaca. Kalau hujan, asalkan air tidak tergenang, gapapa. Bunganya bertumpuk dan gemuk.

Adapun saudaranya yang daunnya oval atau lebih bulat, tidak tahan panas dan maunya dapat air yang sedang aja. Ogah terlalu kering, ogah basah banget. Jujur, jenis ini memang lebih rewel. Maka, taruh di tempat naungan alias ga banyak kena matahari langsung. Bunganya ga bertumpuk, hanya selapis.

Saya sendiri punya dua jenis portulaka di atas, yah untuk ngomplitin koleksi bunga yang juga disebut bunga pukul sembilan ini.

3. Petunia
src
Bunga ini bisa diperbanyak dengan biji maupun stek batang. Catatan pentingnya, dia butuh air tapi jangan sampai menyiram air sampai kena batang dan daunnya. Jadi saat ngocorin, langsung ke permukaan media tanam.

Idealnya, pakai sekam bakar campur cocopeat, dan media tanam yang banyak dijual di toko pertanian.

4. Geranium
src
Untuk memperbanyaknya, bisa pakai stek batang dan biji. Jika mau bunganya banyak, rajinlah memotong cabang yang sudah panjang.

Doi juga tahan panas meskipun baiknya ada naungan seperti di teras atau di gantung yang kena matahari ga rada keras sinar dan panasnya.

Media tanamnya yakni cocopeat dan sekam bakar. Pupuknya NPK atau pupuk yang unsur P-nya lebih banyak untuk merangsang pembungaan.

5. Torenia
src
Lagi-lagi ini bunga tahan panas. Sukanya media tanam yang basah tapi jangan becek dan tergenang. Ini terbilang ga rewel, bisa pakai dominan sekam mentah, tambahkan sekam bakar dan pupuk yang unsur P-nya lebih banyak seperti menanam begonia.

Budidayanya bisa dengan biji dan stek. Banyakan pakai biji sih karena batangnya lumayan lunak, rada ringkih keknya kalau ditancepin ke media tanam. Biji-biji didapatkan dari kantung di bawah bunga yang sudah mengering.

Enaknya lagi, dia juga beranakpinak karena biji yang jatuh akan muncul tunas. Tunggu sampai rada gede atau ada 4 daun, baru pindah ke pot lain.

6. Sirih gading
hlmsmpg
Tanaman penyerap polutan dan racun ini mudah banget ditanam. Tinggal tancepin dan berdoa :)

Media tanamnya simpel. Bisa sekam bakar, tanah biasa yang ditambah kompos.

Sirih gading bisa ditaruh di dalam ruangan, di luar, gantung, maupun di bawah. Malah banyak yang memakai tanaman rambat ini sebagai penutup tanah atau ground cover.

7. Spider plant
hlmsmpg
Seperti sirih gading, spider plant mampu menyerap polutan, bisa di indoor, teras, tahan kering alias hemat air.

Catatannya, sirami hanya ketika media tanamnya sudah tampak kering. Kalau terlalu basah, dia akan menguning, daun serta akar membusuk, dan akhirnya mati. Sedangkan jika kekeringan, daunnya merunduk dan layu.

Idealnya, media tanam ialah paling bawah cocopeat tipis saja, disusul media tanam biasa yang dicampur sekam mentah.

+++

Sebagian foto bunga-bunga tadi saya comot dari dunia maya. Nanti jika sudah sakses diperbanyak, bakalan saya update artikel ini. Sejauh ini, bunga yang sudah berhasil saya budidayakan adalah portulaka, sirih gading dan spider plant.

Selain mereka, tanaman yang sudah duluan bergabung yakni zinnia, melati jepang, brokoli hias, bambu air, lidah mertua atau sansivera, kastuba, bunga kancing, vinca tegak alias tapak dara dan peace lily. Tentu saja wajib me-mensyien si penguasa taman yaitu hamparan 1 hektare 2m x 2m rumput gajah mini yang nggak bawel, tahan cuaca dan irit perawatan.

Satu lagi, dari berburu kemarin, saya baru tahu kalau ada dua jenis vinca jika dilihat dari fisiknya. Ada vinca tegak yang lebih untuk herbal dan berkhasiat dan ada pula vinca hias atau sering disebut hibrida atawa vinca gantung, namun kandungan khasiat herbalnya kurang. Dua-duanya berbunga cakep kok.

Menurut saya mah, duo vinca yang berbeda ini nunjukin kuasa Allah SWT yang menciptakan mahluk hidup dengan aneka ragam dan saling melengkapi. Ada yang lebih untuk estetika serta keindahan dan ada yang diciptakan untuk memberi manfaat bagi umat manusia hehehe. Subhanallah :)

Salam bertaman dari Bogor :)