Hidup sering kali bergerak ke arah yang tidak kita sangka. Ada kalanya, jalan yang kini kita jalani justru merupakan jalan yang dulu kita hindari.
Seakan ada paradoks dalam pilihan manusia: yang dulu kita anggap mustahil, kelak bisa menjadi kenyataan yang kita jalani dengan penuh kesadaran.
Tokoh-tokoh besar dunia pernah mengalami hal yang sama. Nelson Mandela, misalnya, pernah bersumpah untuk tidak bekerja sama dengan lawan politiknya.
Namun setelah puluhan tahun dipenjara, ia justru memilih jalan rekonsiliasi, berdamai dengan mereka yang dahulu menindasnya. Keputusan yang mungkin mustahil ia bayangkan di masa mudanya, justru menjadi warisan terbesarnya.
Di Indonesia, kisah serupa bisa kita lihat pada perjalanan politik dari era sebelum kemerdekaan, merdeka, reformasi hingga kini.
Mengapa hal ini terjadi? Dari sudut pandang psikologi sosial, manusia terus berkembang. Pandangan yang kita anggap absolut di masa lalu, sering kali luluh oleh pengalaman hidup.
Realitas lebih kompleks daripada idealisme. Dalam proses itulah, jalan yang dulunya kita jauhi, tiba-tiba menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal.
Di sisi lain, perubahan sikap bukan selalu tanda kemunafikan. Kadang itu bentuk kedewasaan. Seseorang yang dulu bersikeras tidak akan pernah terlibat politik, bisa jadi berubah pikiran setelah melihat bagaimana keputusan politik memengaruhi kehidupan banyak orang.
Yang dulu sulit membayangkan diri menjadi tentara, mungkin akhirnya masuk militer karena merasakan panggilan tanggung jawab dan pengabdian pada Tanah Air. Yang pernah ogah makan makanan laut, eh lha kok jadi chef spesialis sea food.
Yang dulu anti Jokowi, belakangan masuk istana dan jadi staf khusus. Sebaliknya pula, yang pernah getol narasi sosmednya menyerang Prabowo, lantas kini tegap berdiri menjadi pembela: pasang badan dan bak agensi PR :)
Hidup, pada akhirnya, adalah dialog panjang antara prinsip dan kenyataan. Dan di tengah dialog itu, manusia sering kali menemukan dirinya di jalan yang tak pernah ia bayangkan.
Maka, alih-alih menertawakan atau menghakimi orang yang berubah arah, mungkin lebih bijak jika kita merenung: bisa jadi suatu saat kita pun akan melintasi jalan yang dulu pernah kita hindari.
Karena hidup, bagaimanapun, selalu punya cara membuat kita belajar.
No comments:
Post a Comment