Wednesday, October 21, 2009

Mbak Arni dan Omm-omm Kos

Kami yang ngekos di rumah itu, kalo ngikutin lazim sebutan, bakal
disebut anak-anak kos. Bedanya, kami lebih sering dan akhirnya jadi
kebiasaan dipanggil sebagai 'omm'.

Itu bukan kami orangnya sepuh-sepuh, katakanlah dah berumur. Tepatnya
karena mengikuti panggilan anak-anak induk semang kami, mbak Arni dan
mas Aldi, yg berjumlah tiga. Nah, orang tua dan saudara-saudara mereka
lantas ikutan memanggil kami: 'halo omm Inung, omm Veen, omm Iko...'
Gitu deh.

Kecuali sebagian kecil dari kami yang telah kepala tiga, termasuk aku,
omm-omm kos masih terbilang muda, paling muda omm Eri, 23 tahun dan
diatasnya omm Veen yang 28 tahun. Yang lain di kisaran antara
keduanya.

Funding
Kondisi rumah tangga induk semang juga membentuk hubungan omm-omm kos
dengan mbak Arni dan Mas Aldi. Bukan affair loh. Tapi transaksional.
Weleh-weleh, istilahnya koq sok banget. Malksudnya sih ya hubungan
utang-piutang.

Eitss jangan salah kira lho, kalau kami sering dikejar-kejar oleh mbak
Arni soal duit bulanan kos. Sebaliknya malah induk semang kami kadang
kala (baca: sebulan sekali) meminjam uang dari kami. Katanya, "Buat
belanja," atau kali lain, "Buat uang sekolah anak-anak."

Okelah, toh buat kami mungkin itulah yang bisa dilakukan buat membantu
mereka. Nah daripada berhitung-hitung, mending aku ingat-ingat pola
omm-omm kos menanggapi permintaan pinjaman.

1. Omm Veen: Jawa tulen, ndak tegaan, seorang staf IT, lulusan UGM.
Segera merogoh kantong atau mengambil dompet begitu mbak Arni
presentasi permintaan pinjaman. Tanpa menanyakan bakal dikembalikan
kapan toh bisa langsung dipotong uang kos bulan depan. Kenyataannya
sih, pas pembayaran uang kos, tidak serta merta dipotong sejumlah uang
pinjaman itu. Nyicil.

2. Aku: Jawa juga, sealmamater dengan Veen. Bedanya dia sukses pake
toga, sedangkan aku cabut dari bangku kuliah di tahun keempat dengan
jumlah SKS tak lebih dari 58. Ndak tegaan juga untuk menolak pengajuan
kredit dari mbak Arni. Bedanya dengan Veen pada soal jumlah dan
frekuensi.

Kredit yang dikucurkan Veen sampai 200 ribu sedangkan aku hanya
puluhan ribu. Rasio frekuensi antara aku dan Veen, 1:3.

Omm yg lain: "Wah lagi ndak bawa uang cash!" Atau malah, "Ndak punya
mbak!" Jawaban efektif dan efisien. Alhasil, Veen-lah penyandang dana
alias funding reguler qe3.*


Next: Job Hunter and Anger Management

--
Dikirim dari perangkat seluler saya

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails