Wednesday, May 24, 2017

Lagi: ga semua pelari harus jadi marathoner :)

Ini satu lagi artikel bagus tentang lari. 

Sumpah, ini memang artikel copas. Sumber atau link tersemat di bawah.

Soal copasan, bukan itu intinya. Sebelumnya bahkan saya kumpulkan artikel tentang hal-ihwal tentang mengikuti marathon.

Saya posting di blog karena ini penting bagi saya sebagai pengingat, sebagai inspirasi, sebagai lecutan...

Lecutan penyemangat berlatih lari? Bukan! Justru lecutan untuk menahan ego, menahan ambisi. Sehingga ketika berlatih tetap pakai perencanaan matang.

Kata kawan: berlatih dengan "3 ter-" yaitu terencana, terukur dan teratur.

Saya ogah mengikuti, misalnya marathon 42 km hanya bermodal beberapa kali pernah lari 10 km. Itu nekat dan ngawur. Sontoloyo :D

Dari banyak sumber referensi baik artikel maupun tuturan atlet/pelatih/pehobi, persiapan mengikuti marathon yang jaraknya membentang 42 km ialah minimal 4 bulan. Itupun sebelumnya telah memiliki kemampuan lari yang cukup. 

Misalnya rutin dan mampu lari 3 kali tiap pekan, sudah bisa berlari 5 atau 10 km tanpa kepayahan... Nah selanjutnya ingin 'naik kelas' ke half marathon 21 km atau full marathon FM 42K maka kemudian menjalani program yang 4 bulan itu dengan minimal total mileage jarak lari sepanjang 1 pekan adalah 30 km. Nah!

Maka, berlatih dengan baik, benar serta memperbanyak referensi dengan membaca dan nonton youtube, menjadi kuncian. Ingat pula, jangan hanya nonton youtube tapi simak substansinya dan banyak membaca. Salam lari :)

...

SCKLM 2017: 
Maraton itu Enggak Gampang!

Sejak Minggu (21/5) lalu, Facebook, IG, Path atau media sosial lainnya riuh rendah dengan postingan foto-foto mereka yang ikut Standartd Chattered Kuala Lumpur Marathon (SCKLM) 2017. 

Foto-foto cerita di sepanjang perjalanan, garis finish, lengkap dengan kostum jersey penamat (finisher) atau medali penamat bertebaran di mana-mana. Foto selfie n welfie dengan wajah-wajah semringah itu mengabarkan keberhasilan mereka yang telah menyelesaikan lari sejauh 42,195 kilometer alias full marathon (FM).

Peserta SCKLM 2017 tercatat 35.000 pelari dari 63 negara, dengan 8.000 pelari di antaranya mengambil kategori FM. Indonesia mengirim peserta asing terbanyak yaitu 325 pelari dari berbagai komunitas – terbanyak dari Run for Indonesia (RFI) sejumlah 97 kawan lari—disusul pelari dari Inggris (146) dan India (132). Walaupun tidak banyak tim hore (spectators) di pinggir jalan karena lintasan lebih banyak di jalan tol, SCKLM 2017 terselenggara rapi dengan dukungan marshal, water station (pos hidrasi), marka penunjuk arah, tempat sholat subuh lengkap dan membuat peserta nyaman berlari.

Banyak di antara pelari Indonesia itu melepaskan keperawanan maratonnya (virgin marathon) dalam hajatan di Negeri Jiran tersebut. Antusiasme pelari Indonesia di berbagai event race memang luar biasa sejalan dengan tren dan gaya hidup olah raga lari sejak beberapa tahun terakhir. 

Para pelari Indonesia yang umumnya awam, banyak yang ingin "naik kelas" dari sekedar lari 5 kilometer, 10 kilometer meningkat ke kategori half marathon (HM) sejauh 21 kilometer. Setelah itu, mereka penasaran untuk mencoba lari maraton penuh atau full marathon sejauh 42,195 kilometer!

Tidak melulu karena ambisi pribadi, tetapi banyak juga diantaranya karena terkena "racun" bahwa seolah-olah semua pelari harus merasakan lari maraton. Apalagi mereka yang telah menyelesaikan lari FM bisa dengan bangga ngecap "We are marathoner, not a jogger!" 

Belum lagi imimg-iming dari mereka yang pernah maraton seringkali mengatakan: semua orang bisa berlari maraton asal mau; maraton itu enggak sulit; jalan kaki pun bisa dan seterusnya. Banyak di antara newbie atau pelari baru penasaran untuk mencoba berlari di kategori maraton.

Hasilnya? Tidak semua pelari virgin marathon itu berakhir dengan cerita sukses keberhasilan mereka menyelesaikan lomba lari marathon pertama kalinya. Tidak seperti foto-foto kegembiraan para pelari yang berhasil finis di bawah waktu COT (cut off time) di media sosial. Banyak di antara para pelari peserta FM itu babak belur, sengsara, kesakitan, muntah, kleyengan pusing tujuh keliling, kraam, kaki mengunci tak bisa digerakan hingga berakhir di tenda medis.

"Lutut gue sakit banget,  Bah Ngunci sakiit banget,!"
"Tadi aku mual di kilometer 12,"
"Si Anu tadi muntah-muntah akhirnya DNF (Did Not Finished)"
"Aku juga tadi sesak napas dan pusing".
"Semalem saya enggak bisa tidur"

Laporan" dari sejumlah para pelari seperti itu terdengar seusai finis. Ketika sejumlah pelari asyik berfoto-foto merayakan keberhasilan finis, sejumlah pelari lain meringis karena untuk menggerakan kaki saja sulit dan sakit.

***
Yup! Berlari maraton itu tidak gampang! 
Saya sendiri selalu mengistilahkan, berlari maraton itu ibarat "body torturing" alias penyiksaan tubuh. Tubuh kita dipaksa untuk suatu keadaan yang tidak biasa. Berlari atau power walk sejauh 42,195 kilometer dalam waktu lebih dari 4-7 jam (untuk pelari hobby) membutuhkan stamina fisik dan kondisi tubuh yang prima.

Belum lagi jika kondisi cuaca yang tidak biasa: panas, kelembaban tinggi  bahkan hujanakan memerlukan kondisi lebih ekstra lagi. Tidak heran jikat banyak penelitan membuktikan, berlari maraton itu "merusak" tubuh pada tahap tertentu. 
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Kidney Diseases misalnya, menemukan jika pada para pelari maraton yang mereka teliti ditemukan bukti tahap 1 mereka cedera ginjal akut setelah maraton. Para peneliti mengambil sampel darah dan urin dari 22 orang yang mengikuti 2015 Hartford Marathon. Cedera seperti yang ditemukan pada 82 persen dari pelari maraton  yang diteliti itu memang  hanya berlangsung sebentar. Walaupun ginjal mereka kembali normal dalam waktu 24 hingga 48 jam, penelitian itu menggambarkan risiko berlari maraton.

Kondisi tubuh mereka yang baru menyelesaikan maraton itu disebutkan tidak berbeda dengan mereka yang baru menjalani operasi jantung atau mereka yang berada di ruang ICU (intensive care unit). Memerlukan waktu setidaknya dua hari untuk mengembalikan kondisi tubuh kembali normal.

Tidak betul jika untuk menyelesaikan lomba maraton itu, para pelari hanya membutuhkan mental dan tekad yang kuat untuk menyelesaikan misinya. Saya banyak bertemu dengan para pelari yang bermodal nekat untuk mencoba berlari maraton karena merasa mental mereka sudah siap. Tetapi banyak di antara mereka, berakhir di tenda medis atau DNF.

Saat SCKLM 2017, Minggu kemarin pun ratusan orang diangkut bus-bus pengakut karena mereka yang tidak mampu melanjutkan lomba karena kepayahan. Penyelenggaran SCKLM 2017 mengatur setiap pelari untuk menyelesaikan jarak tertentu dengan waktu tertentu. Mengambil waktu start pukul 04.00 subuh di Dataran Merdeka para pelari harus menyelesaikan lari sejauh 14 kilometer pertama selama 2 jam 35 menit atau pada pukul 6:35 pagi. Selanjutnya pelari juga diberi batasan waktu pukul 7:35 untuk jarak 20 kilometer, jarak 30 kilometer harus selesai pukul 9:15 dan jarak 36 kilometer harus selesai pukul 10:15. Maklum jalan tol yang mereka gunakan sebagai lintasan maraton harus dibuka kembali lalu lintasnya.

Di setiap batasan jarak dan waktu yang ditentukan, sejumlah bus dengan mesin dihidupkan telah siap mengangkut mereka yang rempong atau tak mampu meneruskan lomba. Hal itu menjadi teror tersendiri bagi para pelari "pemula maraton" di SCKLM. "Stress banget gue ama bus-bus jahanam itu. Jangan sampai gue digaruk," kata seorang pelari.

Jamaah DNF itu kemudian diturunkan di lokasi dekat dengan race central. Saat mereka turun dari bus tampak sekali bukan saja wajah-wajah putus asa penuh penyesalan, tetapi juga juga wajah-wajah kesakitan dan kepayahan menyertai mereka.

Emangnya maraton, gampang !?

***
Untuk mereka yang sudah berpengalaman, seringkali ikut maraton atau long run setiap akhir pekan, FM asal finis mungkin bukan masalah. Tetapi buat para para newbie yang akan mencoba virgin marathon, menyelesaikan misi di lintasan aspal, penuh tanjakan, panas dan membosankan butuh persiapan diri yang mumpuni.

Mental baja atau mind set untuk menyelesaikan maraton memang sangat dibutuhkan. Akan tetapi niat, tekad saja tidak cukup jika badan atau fisik kita tidak siap. Tubuh kita harus disiapkan dengan berbagai menu latihan untuk mengikuti ajang maraton. 

Sejumlah referensi menyebutkan, persiapan untuk mengikuti sebuah lomba maraton membutuhkan waktu latihan dan persiapan setidaknya 4 bulan! 

Selama empat bulan itu, para calon peserta maraton harus menyiapkan diri baik fisik maupun mental. Sejumlah menu latihan, baik latihan ketahanan/stamina (endurance), kekuatan (strength) maupun kelenturan tubuh (fleksibelitas) harus dijalani. 

"Kita bukan atlet, kita berlari untuk sehat dan bugar. Jadi yang sebaiknya kita utamakan adalah berlari dengan benar dan nyaman sehingga bisa menyelesaikan lomba tanpa cedera," kata Eduardus Nabunome, pemegang rekor lari maraton Indonesia yang kini melatih sejumlah pelari hobi. Bahwa di antara mereka nanti ada yang berhasil mencatatkan personal best (waktu terbaik diri) merupakan bonus dari program latihan dimaksud.

Memang banyak aplikasi latihan maraton yang gampang ditemui di internet atau gawai untuk kita unduh dan ikuti.Tetapi akan lebih baik jika kita mengikuti latihan persiapan maraton itu didampingi oleh pelatih atau mereka yang berpengalaman. Bergabung dengan komunitas lari lebih baik. Kehadiran kawan lari (running buddy) akan menjadi penyemangat kita untuk mencapai target.Banyak bertanya kepada marathoner akan membantu dan menambah ilmu. Tetapi tetap waspada dan hati-hati mendapat masukan dari para pelari "senior" yang terkadang bisa menyesatkan.

Menjelang Maybank Bali Marathon 2017, akhir Agustus mendatang sejumlah komunitas lari kini mengadakan program latihan bersama untuk pelarinya. Komunitas Run for Indonesia (RFI) misalnya mengadakan program RFI Training Camp to MBM 2017 dengan pelatih atau pendamping Eduardus Nabunome yang berlatih rutin setiap pekan. Begitu pula dengan komunitas-komunitas lari lainnya jauh-jauh hari juga sudah menyiapkan program-program serupa. 

Sejumlah pelari melakukan "secret training" dengan menyewa pelatih-pelatih privat, yang tentu saja memerlukan isi dompet lebih banyak.

Latihan-latihan fisik dengan berbagai menu itu juga harus dibarengi dengan asupan nutrisi yang cukup. Ibarat kendaraan, secangih dan sekuat apa pun itu tanpa bahan bakar hanya akan menjadi perangkat tidak berguna. 

Selain itu, manajemen tenaga dan asupan energi, serta hidrasi sepanjang lintasan maraton harus menjadi pengetahuan wajib. Jangan ibarat orang dengan penutup mata berlari tanpa tahu apa yang akan terjadi di sepanjang jalan. Banyak membaca, menonton video (Youtube) mengenai lari, maraton dan segala persiapannya akan memperkaya wawasan kita dan menambah kepercayaan diri.

Mereka yang disipilin mengikuti program yang disiapkan selama kurang lebih dari empat bulan hampir dipastikan bisa menyelesaikan misi maratonnya dengan baik. Untuk mereka yang sudah bekerja keras berlatih, bisa mengatakan "maraton itu tidak sulit" selepas garis finis. Tetapi bagi mereka yang hanya bermodal tekad, latihan pas-pasan, buta ilmu bersiap-siaplah untuk babak belur karena diri akan merasa tersiksa, dan berakhir DNF atau digaruk bus penyapu.

Namun satu hal yang perlu diingat, tidaklah perlu semua orang menjadi marathoner. Bagi mereka yang bukan atlet, belari lebih untuk menjaga kebugaran dan kesehatan.
Ingat: bukan seberapa jauh Anda berlari, yang terpenting adalah seberapa bahagia Anda berlari.

(Agus Hermawan, pesepeda dan marathoner)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails