“Tau ndak Mas?”
“Ndak je jeng!”
“Aku kie arep crito je!”
“Hehehe, lha piye to?”
“Aku ketemu meneh… sama bangsat satu kae hihihi…”
“Katamu ‘bangsat’, koq malah cekikikan? Ngumpatnya gak tulus!”
“Sik to… pancene ngono je arek-e. Rasah sok cemburu, gak ilok!”
Lola, pastinya bukan nama paspor, lantas bercericit sepanjang lunch-break pas acara diskusi panel tadi siang. Ia sendiri bekerja di government affair (GA- bukan general affair lho) di perusahaan asing produsen makanan di bilangan TB Simatupang.
Kemarin pagi, waktu acara Press-Con, ia ketemu dengan lelaki dari masa lalunya. Sepanjang ia bercerita, umpatan jawa-timurannya pun meletup-letup hampir di setiap penggal kalimat yang keluar dari bibir mungil ber-lipgloss. Tarikan nafasnya turun naik mengikuti bangun rasa hatinya yang (kembali) kasmaran. Tisu makan yang telah kucel terus saja ia kremes-kremes, saking gemesnya pada subyek curhatannya.
Katanya sih, si Bangsat-Cute, demikian ia menjulukinya *aq baru tahu ada begundal yg manis qe3* aslinya bernama Bangkit … … . Sekarang ia berkarir di Jakarta, sama-sama GA, di perusahaan asing kondang spesialis pakan ternak.
Pertemuan mereka setelah 3 tahun tak bersua itu bergulir mengalir, saling tanya kabar dan tukeran kartu nama. Standar lah. Tukeran nomer HP ndak, tanyaku iseng. “Gak, wong nomere isih sama kok. Paling-paling ngeluarin HP masing-masing buat nunjukin aktualisasi qe3,” katanya tanpa bermaksud nyindir diriku yang berHP jadul, Motorola C381.
Jebolan HI UGM ini lalu lebih banyak berbusa-busa soal kelakuan dia dan Bangkit duluuu… yang membuatnya sebel gimana gitu. Lola masih ingat betul bahasa tubuh mereka berdua. Ia haqul yaqin mereka saling tertarik meski masing-masing udah punya pacar. “Chemistry kita udah deket lho. Tenan!” klaimnya sambil menggigit bibir. Ia akui kalau selalu jaim sedangkan dimatanya, Bangkit cenderung jelalatan.
“Beda sama pacarku yang adem, cool. Ganteng sih tapi aku kan pengennya dibandelin juga qe3,” ceplos Lola. Aku menelan ludah, weleh-weleh bocah iki!
Sayangnya, mereka toh tetap bersama pasangan masing-masing. Patah hati dong, ledekku. Ia hanya mengangkat bahu. Usai kuliah kelar, semua bubar jalan. Lola dan pacarnya masih di Jogja, Bangkit menyeberang ke Balikpapan.
“Bener-bener lost contact. Tapi emang gak ada alasan buat komunikasi. Lha wong gak pernah ngobrol beneran. Paling-paling dia yang nggombal, curi-curi pandang. Kalo aku ya sok gak sengaja nyenggol tangannya hihihi,” Lola kembali terkikik.
“Pacarmu?”
“Gak pernah marah tuh.”
“Emang pernah ngeliat kelakuanmu?”
“Ya gak lah. Curiga sih sempet hehehe tapi bukan Lola kalo ga pinter ngerih-erih (nenangin).”
Acara makan siang hampir selesai dan aku belum sholat dhuhur, juga Lola. Sambil berjalan sepanjang koridor menuju mushola, kutanya bagaimana perasaannya setelah ketemu dengan Bangkit kemarin itu. Ia menjawab runtut.
“I’m free now. Pacarku teges-teges gak iso ninggalin Jogja. Aku mau gimana sama Bangkit, cuma persoalan ujung jari,” katanya sambil memperlihatkan nomer seluler Bangkit di layar Nokia E71-nya.*
Jumat, Juli 03, 2009
Rabu, Juli 01, 2009
Kos Kalimalang (1)
Jakarta dini hari, jarum panjang jam dinding baru bergeser seperempat lingkaran dari pukul nol nol. Kulirik kalender di depan monitor PC, sekarang terhitung hari Selasa, 30 Juni 2009. Dalam hitungan hari kedepan aku siap-siap pindah dari kosku ini, di daerah Kalimalang Halim, berganti tempat ke Batusari, ngekos juga.
Waktu cuci muka tadi, sempat kurayapi mendung tipis tepat di atas atap. Gelap tanpa bintang dan tanpa kehadiran rembulan. Tiba-tiba terkesiap, menghitung dan mengingat apa saja yang hidupku telah lewati selama disini.
Aku menguap. Pertama karena ngantuk. Kedua, teringat besok ada liputan pagi-pagi ke Menara Kadin. Ketiga, realistis aja, nggak bakal cukup waktu hingga sunrise buat bertutur tentang ngekos di rumah no 16 RT 03 RW 11, jalan Pancawarga XIII, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur ini.* TbC, 2 b Cont’d
Waktu cuci muka tadi, sempat kurayapi mendung tipis tepat di atas atap. Gelap tanpa bintang dan tanpa kehadiran rembulan. Tiba-tiba terkesiap, menghitung dan mengingat apa saja yang hidupku telah lewati selama disini.
Aku menguap. Pertama karena ngantuk. Kedua, teringat besok ada liputan pagi-pagi ke Menara Kadin. Ketiga, realistis aja, nggak bakal cukup waktu hingga sunrise buat bertutur tentang ngekos di rumah no 16 RT 03 RW 11, jalan Pancawarga XIII, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur ini.* TbC, 2 b Cont’d
Pahlawan!
Jujur, pertama sih pengen ngasih judul ‘hero’. Sepertinya lebih mantaf, pelafalan gampang, singkat dan jelas-jelas bahasanya mas Beckham. Setelah miringin kepala ke kanan kiri, ‘pahlawan’ juga tetap bahkan lebih kuat, segar dan membumi.
Selebihnya, cuma persoalan kebiasaan. Juga, terus terang sambil malu-malu, sebagian isi hati ini, koq berasa bangga bisa ngingris-inggris. Latah nih! Paling jauh sebenarnya perasaan bangga juga cuma sugesti.
Ah, ngomongin soal pahlawan juga karena sisi nasionalisku baru saja tersentil. Atau malah tepatnya tersentak (lagi). Jumat malam kemarin, barusan nonton King bareng hanih. Ini film terbaru rilisan Alenia Production. Film bagus yang bertutur tentang keteguhan hati atlit cilik badminton. Perjuangan meraih cita-cita sealigus obsesi seorang orang tua tunggal menjadikan anak semata wayangnya jadi bintang olahraga populer itu.
Tejo, sang ayah (Mamiek Prakoso) pun menamai anaknya sama dengan nama lokal sang legenda Lim Swie King, yaitu Guntur (Rangga Raditya). Belia, masih anak SD. Ia anak desa pelosok di kaki kawah Wijen. Malah, saking pelosoknya hanya mobil Mitsubishi L300 dan Land Rover double cabin yang mampu menapaki jalan berbatu dan merayapi tanjakan menuju desa itu.
Bagi sebuah desa yang senantiasa berselimut kabut, badminton menjadi satu-satunya hiburan. Selain buat tontonan juga untuk salah cara efektif menghangatkan badan. Tak pelak, selain tayangan tv, pertandingan antar warga jadi tontonan mengasyikan. Nama-nama yang malang melintang di arena badminton akrab mereka dengar dan perbincangkan sebagai idola, panutan dan hero eh pahlawan.
Ayah Guntur juga memiliki pahlawan di hatinya. Ia berhak memilih King sebagai panutan dan idola, bukannya memilih seorang Soeharto atau Soedirman. Malah, Tejo pun memimpikan prestasi Lim Swie King menitis pada Guntur. Pun orang lain, berhak juga menggadang-gadang seseorang sebagai yang dipuja dan diharap-harap prestasinya.
Raden (Lucky Marten), sobat kental Guntur, juga memiliki pahlawannya sendiri. Nggak lain ya Guntur itu. Teriakan Raden paling melengking setiap Guntur bertanding di lapangan desa, melawan Ranio seorang staf kelurahan yang jauh lebih dewasa ataupun teman sebaya Guntur pada pertandingan antar sekolah. Sosok Raden tak berjarak dengan para tifosi Liga Italia atau hooligan Liga Inggris dan Belanda. Ia bolelah dibilang sefanatik bebotoh Persib atau semilitan Jak Mania. Semua untuk Guntur, berkali-kali perbuatan dosa pun ia jalani demi raket untuk pahlawannya. Toh kalau ketahuan, Guntur lah yang jadi pesakitan: squat jump 100 kali dan lari 50 putaran.
Menyimak bahasa visual dan dialog King, plus soundtrack menghentak dari Ipang soal perjuangan dan nasionalisme membela harga diri bangsa, aku sempat terpaku. Seperti waktu nonton Laskar Pelangi. Terpapar jelas langkah-langkah anak bangsa bahu membahu menyokong sehabatnya. Dengan caranya sendiri dan bahasanya sendiri yang kadang atau sering ditangkap lain oleh karibnya sendiri.
Guntur sah-sah saja bilang kalau Raden hanya berteori selama ia mendampingi Guntur berlatih atau terlalu banyak berharap ia begitu tangguh. Guntur juga bisa merasa terbebani oleh obsesi bapaknya agar anaknya selalu menang dan menang. Nah kalau dilihat dari sisi Raden dan bapaknya, juga orang-orang sedesa, justru mereka menitipkan mimpi setinggi langit atau paling nggak setinggi lompatan smash karena Guntur satu-satunya pahlawan desa pelosok itu.*
Selebihnya, cuma persoalan kebiasaan. Juga, terus terang sambil malu-malu, sebagian isi hati ini, koq berasa bangga bisa ngingris-inggris. Latah nih! Paling jauh sebenarnya perasaan bangga juga cuma sugesti.
Ah, ngomongin soal pahlawan juga karena sisi nasionalisku baru saja tersentil. Atau malah tepatnya tersentak (lagi). Jumat malam kemarin, barusan nonton King bareng hanih. Ini film terbaru rilisan Alenia Production. Film bagus yang bertutur tentang keteguhan hati atlit cilik badminton. Perjuangan meraih cita-cita sealigus obsesi seorang orang tua tunggal menjadikan anak semata wayangnya jadi bintang olahraga populer itu.
Tejo, sang ayah (Mamiek Prakoso) pun menamai anaknya sama dengan nama lokal sang legenda Lim Swie King, yaitu Guntur (Rangga Raditya). Belia, masih anak SD. Ia anak desa pelosok di kaki kawah Wijen. Malah, saking pelosoknya hanya mobil Mitsubishi L300 dan Land Rover double cabin yang mampu menapaki jalan berbatu dan merayapi tanjakan menuju desa itu.
Bagi sebuah desa yang senantiasa berselimut kabut, badminton menjadi satu-satunya hiburan. Selain buat tontonan juga untuk salah cara efektif menghangatkan badan. Tak pelak, selain tayangan tv, pertandingan antar warga jadi tontonan mengasyikan. Nama-nama yang malang melintang di arena badminton akrab mereka dengar dan perbincangkan sebagai idola, panutan dan hero eh pahlawan.
Ayah Guntur juga memiliki pahlawan di hatinya. Ia berhak memilih King sebagai panutan dan idola, bukannya memilih seorang Soeharto atau Soedirman. Malah, Tejo pun memimpikan prestasi Lim Swie King menitis pada Guntur. Pun orang lain, berhak juga menggadang-gadang seseorang sebagai yang dipuja dan diharap-harap prestasinya.
Raden (Lucky Marten), sobat kental Guntur, juga memiliki pahlawannya sendiri. Nggak lain ya Guntur itu. Teriakan Raden paling melengking setiap Guntur bertanding di lapangan desa, melawan Ranio seorang staf kelurahan yang jauh lebih dewasa ataupun teman sebaya Guntur pada pertandingan antar sekolah. Sosok Raden tak berjarak dengan para tifosi Liga Italia atau hooligan Liga Inggris dan Belanda. Ia bolelah dibilang sefanatik bebotoh Persib atau semilitan Jak Mania. Semua untuk Guntur, berkali-kali perbuatan dosa pun ia jalani demi raket untuk pahlawannya. Toh kalau ketahuan, Guntur lah yang jadi pesakitan: squat jump 100 kali dan lari 50 putaran.
Menyimak bahasa visual dan dialog King, plus soundtrack menghentak dari Ipang soal perjuangan dan nasionalisme membela harga diri bangsa, aku sempat terpaku. Seperti waktu nonton Laskar Pelangi. Terpapar jelas langkah-langkah anak bangsa bahu membahu menyokong sehabatnya. Dengan caranya sendiri dan bahasanya sendiri yang kadang atau sering ditangkap lain oleh karibnya sendiri.
Guntur sah-sah saja bilang kalau Raden hanya berteori selama ia mendampingi Guntur berlatih atau terlalu banyak berharap ia begitu tangguh. Guntur juga bisa merasa terbebani oleh obsesi bapaknya agar anaknya selalu menang dan menang. Nah kalau dilihat dari sisi Raden dan bapaknya, juga orang-orang sedesa, justru mereka menitipkan mimpi setinggi langit atau paling nggak setinggi lompatan smash karena Guntur satu-satunya pahlawan desa pelosok itu.*
Label:
alinea,
badminton,
hero,
king,
Lucky Marten,
pahlawan,
Rangga Raditya
Rabu malam
Coklat bubuk yang kudapat dari Tangerang telah ludes. Tak ada teman minum lagi malam ini. Teh, aku sudah bosan. Air putih sajalah. Sekalian mengurangi konsumsi gula.
Kuteruskan membaca artikel hasil download tadi sore di warnet.
Otak ini memang mesti istirahat. Bukannya dibawa tidur tapi malah melongok tulisan kawan di blog masing-masing dan catatan di FB.
Gerutuan Tarli soal GM kubaca pertama kali lalu oleh-oleh Zen dari Taman Sari dan Gunung Agung.
Wah, kangen Jogja tenan ki!*
Kuteruskan membaca artikel hasil download tadi sore di warnet.
Otak ini memang mesti istirahat. Bukannya dibawa tidur tapi malah melongok tulisan kawan di blog masing-masing dan catatan di FB.
Gerutuan Tarli soal GM kubaca pertama kali lalu oleh-oleh Zen dari Taman Sari dan Gunung Agung.
Wah, kangen Jogja tenan ki!*
Senin, Juni 29, 2009
Trialthon!!!
Ini nih sebenarnya ‘persiapanku’ mo ikutan trialthon di Bali "MRA Bali International Triathlon 2009", minggu pagi kemarin.
1. Empat bulan absen lari keliling kompleks Halim
2. Lima bulan bolos mengenggam dumble, mengangkat barbel, squat ‘n dead-lift
3. Bersepeda terakhir setengah tahun kemarin, itupun cuma 15 menit
4. Sukses naikin berat badan dari 57 jadi 62 kg dalam 3 bulan
5. Garis-garis di perut *bakalan sixpack*, udah hilang sama sekali
Lomba ketahanan fisik yang diikutin bejibun atlet Indonesia ampe luar, termasuk bule-bule penasaran, udah kelar.

Nengok result di situs lomba udah bikin nyengir garing. Apalagi ngeliat sepatu Diadora putih berselimut debu-nganggur-tak tersentuh di pojok kamar, feeling guilty banget!
Selamat buat Trialthoners! Ahh… tanpa aku, kalian nggak jadi punya lawan sepadan *masih berani sombong* yihaaa… :))
1. Empat bulan absen lari keliling kompleks Halim
2. Lima bulan bolos mengenggam dumble, mengangkat barbel, squat ‘n dead-lift
3. Bersepeda terakhir setengah tahun kemarin, itupun cuma 15 menit
4. Sukses naikin berat badan dari 57 jadi 62 kg dalam 3 bulan
5. Garis-garis di perut *bakalan sixpack*, udah hilang sama sekali
Lomba ketahanan fisik yang diikutin bejibun atlet Indonesia ampe luar, termasuk bule-bule penasaran, udah kelar.

Nengok result di situs lomba udah bikin nyengir garing. Apalagi ngeliat sepatu Diadora putih berselimut debu-nganggur-tak tersentuh di pojok kamar, feeling guilty banget!
Selamat buat Trialthoners! Ahh… tanpa aku, kalian nggak jadi punya lawan sepadan *masih berani sombong* yihaaa… :))
Senin, Juni 22, 2009
Gitu nggak boleh ya?
Kalo jamaknya seseorang jealous abissss kalo pacarnya jalan sama orang lain, temenku ini malah sebaliknya merelakan dan memberi ijin. Bukannya karena pengen punya legitimasi biar temenku juga bisa main belakang, tapi saking ndak tahunya. Maklum cintak pertamax, percaya total!
Ceritanya, waktu temenku, panggil aja namanya Juliet, masih kuliah di Jogja. Dia udah jadian sekitar satu semester sama cowoknya, sebut aja Romeo. Ada seorang cewek temen sang pacar, minta tolong padanya: mau ‘minjem’ cowoknya buat nemenin kondangan. Juliet dengan entengnya mengiyakan tanpa pretensi, tanpa cemburu, tanpa pamrih dan tanpa mengukur kemungkinan risiko. “Lha aku percaya aja tuh sama cowokku dan mereka kan emang temenan sejak SMA,” kilahnya padaku, polos.
Emang sih nggak ada kejadian aneh-aneh, setahu Juliet lah. Pokoknya pulang tepat waktu, utuh tak kurang tak lebih. Nggak ada yang terkikis karena lecet atau bertambah, misalnya cupang di leher ^_^.
Dia baru nyadar setelah mbak kosnya, maksudnya sesama penghuni kos tapi lebih tua setahun-dua tahun, nanyain Juliet waktu Romeo ‘dipulangkan’ ke kos Juliet.
“Siapa tuh cewek yang sama cowokmu di bawah? Emang kamu nggak jalan ama Romeo seharian?” tanya mbak kos yang nyamperin Juliet di kamarnya di lantai dua.
“Temennya cowokku, mbak,” terang Juliet tanpa memalingan muka dari PC, main game.
“Koq kayak dari kondangan, rapi banget?”
“Iya tuh!” jawabnya tetep enteng. “Temen SMA mereka ada yang nikah di Gedung Bimo Kotabaru.”
“Trus?”
“Apanya mbak?”
“Koq kamu nggak ikut?”
“Kemarin temennya Romeo ituh kan minta ditemenin. Romeo mau-mau aja asal aku ngebolehin. Ya… aku bolehin ajah!”
“Waaaa…. nggak boleh gitu, Dik!” mbak kosnya nyaris histeris.
“Lhaaa…. emang napa? Kan mereka dah ijin?” balas Juliet nggak kalah kagetnya tapi tetep aja innocent.
“Ya’e-lah! Bukan soal mereka dah ijin dan kamu emang ngebolehin. Ini soal harga dirimu Dik!”
Kali ini Juliet melongo, belum ngeh juga.
“Kalo temennya Kangmas Arjuna Romeo-mu minta dianter ngambil sampel bakteri di Kali Code, bolehlah. Kalo dia minta dikawal buat laporan ke polisi karena kecopetan, okelah. Lain soal, kalo pergi kondangan!!! Dua orang cowok-cewek yang dateng ke kondangan, di Jawa, di mata orang lain dianggap sebagai pasangan yang lebih dari sekedar ‘satu orang laki-laki bareng dengan satu orang perempuan’. Beginian nggak bisa disamain dengan ‘pendamping wisuda’ yang cuman tempelan. Waduhhh Dik-Dik!”
“Ooo, gitu ya Mbak, nggak tahu nih!” Juliet nyengir.
“Nah soal harga diri, bisa-bisa cewek itu juga udah nganggep dirimu tuh ‘nggak ada’. Mestinya kalian datang bertiga gitu kalo dia pengennya ditemenin. Toh, kalo itu resepsinya temen SMA, harusnya banyak stok temen cowok yang bisa diajak kondangan dong. Khawatirnya, kamu dianggap remeh!”
“Lha cowokku mau aja tuh,” kadar innocent Juliet belum abis-abis juga.
“Ya iyalah. Namanya cowok, keliatan ngegandeng cewek lain kan prestige, jewer aja dia! Sok baik tapi ngelaba!”
Juliet masih nyengir, manggut-manggut mulai (berusaha) ngerti. Ah, dikadalin gua!*
Ceritanya, waktu temenku, panggil aja namanya Juliet, masih kuliah di Jogja. Dia udah jadian sekitar satu semester sama cowoknya, sebut aja Romeo. Ada seorang cewek temen sang pacar, minta tolong padanya: mau ‘minjem’ cowoknya buat nemenin kondangan. Juliet dengan entengnya mengiyakan tanpa pretensi, tanpa cemburu, tanpa pamrih dan tanpa mengukur kemungkinan risiko. “Lha aku percaya aja tuh sama cowokku dan mereka kan emang temenan sejak SMA,” kilahnya padaku, polos.
Emang sih nggak ada kejadian aneh-aneh, setahu Juliet lah. Pokoknya pulang tepat waktu, utuh tak kurang tak lebih. Nggak ada yang terkikis karena lecet atau bertambah, misalnya cupang di leher ^_^.
Dia baru nyadar setelah mbak kosnya, maksudnya sesama penghuni kos tapi lebih tua setahun-dua tahun, nanyain Juliet waktu Romeo ‘dipulangkan’ ke kos Juliet.
“Siapa tuh cewek yang sama cowokmu di bawah? Emang kamu nggak jalan ama Romeo seharian?” tanya mbak kos yang nyamperin Juliet di kamarnya di lantai dua.
“Temennya cowokku, mbak,” terang Juliet tanpa memalingan muka dari PC, main game.
“Koq kayak dari kondangan, rapi banget?”
“Iya tuh!” jawabnya tetep enteng. “Temen SMA mereka ada yang nikah di Gedung Bimo Kotabaru.”
“Trus?”
“Apanya mbak?”
“Koq kamu nggak ikut?”
“Kemarin temennya Romeo ituh kan minta ditemenin. Romeo mau-mau aja asal aku ngebolehin. Ya… aku bolehin ajah!”
“Waaaa…. nggak boleh gitu, Dik!” mbak kosnya nyaris histeris.
“Lhaaa…. emang napa? Kan mereka dah ijin?” balas Juliet nggak kalah kagetnya tapi tetep aja innocent.
“Ya’e-lah! Bukan soal mereka dah ijin dan kamu emang ngebolehin. Ini soal harga dirimu Dik!”
Kali ini Juliet melongo, belum ngeh juga.
“Kalo temennya Kangmas Arjuna Romeo-mu minta dianter ngambil sampel bakteri di Kali Code, bolehlah. Kalo dia minta dikawal buat laporan ke polisi karena kecopetan, okelah. Lain soal, kalo pergi kondangan!!! Dua orang cowok-cewek yang dateng ke kondangan, di Jawa, di mata orang lain dianggap sebagai pasangan yang lebih dari sekedar ‘satu orang laki-laki bareng dengan satu orang perempuan’. Beginian nggak bisa disamain dengan ‘pendamping wisuda’ yang cuman tempelan. Waduhhh Dik-Dik!”
“Ooo, gitu ya Mbak, nggak tahu nih!” Juliet nyengir.
“Nah soal harga diri, bisa-bisa cewek itu juga udah nganggep dirimu tuh ‘nggak ada’. Mestinya kalian datang bertiga gitu kalo dia pengennya ditemenin. Toh, kalo itu resepsinya temen SMA, harusnya banyak stok temen cowok yang bisa diajak kondangan dong. Khawatirnya, kamu dianggap remeh!”
“Lha cowokku mau aja tuh,” kadar innocent Juliet belum abis-abis juga.
“Ya iyalah. Namanya cowok, keliatan ngegandeng cewek lain kan prestige, jewer aja dia! Sok baik tapi ngelaba!”
Juliet masih nyengir, manggut-manggut mulai (berusaha) ngerti. Ah, dikadalin gua!*
Fiksi
Was-was
Terakhir aku menelponnya bulan lalu dan kemarin, kukira ia di Jakarta, ternyata lagi di Jambi. Seminggu sebelumnya aku juga baru saja mendarat dari Riau bareng Mas-ku. Melayat bibi, tepatnya adik ayah mertuaku.
Setelah panggilan telponku tak diangkat, dia kirim sms sebagai balasannya.
Hoiii, sory ga keangkat. Kmarin msh di bndara, Jambi. Skrg dah sampe Cengkareng.
Kuterima pesan pendeknya pagi tadi. Seketika kutelpon dia begitu deru motor Mas-ku menjauh.
“Hai,” salamku ragu-ragu yang segera kututupi dengan bertanya, “ngapain ke Jambi, audit ya? Masih di PWC kan?” tanyaku menyebut kantor akuntan publik kondang itu.
“Iya tapi cuma empat hari koq. Eh suaramu renyah banget, lagi seneng apaan neh?”
Uh, dia yang kusakiti berulang kali, bertahun-tahun, masih saja bisa mengenali rasa-hati dari suaraku.
Mulut ini sudah mau ngeles tapi tiba-tiba saja tercekat. Samar-samar, aku seperti membaui aroma tubuhnya. Khas. Tanpa parfum. Hanya sisa sabun yang tandas tersapu air sehabis mandi. Laki banget!
“Ah biasa. Tiap bangun pagi kan harus hepi biar semangat,” bakat akting yang terasah selama di Bandung menyelamatkanku dari gelagepan.
“Harus itu. Eh ada apa neng?”
“Nggak koq. Cuma pengen tahu kabarmu aja. Baik-baik kan?”
Sepersekian detik dia tak langsung menjawab.
“Absolutely, I’m so fine. Ah kau ini neng, menelponku untuk memastikan aku baik-baik saja kan, he-he-he?”
Aku tahu ia 100% mencandaiku. Tak ada sinis apalagi nyinyir. Kuyakin juga tak ada lagi perih di seringainya. Sebaliknya pedih masih saja menghujam hatiku, menukik deras dan sejak obrolan di meja makan tadi pagi, kini berujung cemas.
Mas-ku bilang, dua mingguan kedepan bakal banyak lembur karena akan ada audit tahunan. Audit rutin sih, biasalah. Yang bikin dadaku ngilu seperti dipalu: akuntan publiknya dari PWC!
Waduh mereka bisa ketemu dong.
Ah, Mas-ku kan nggak mengenali Andi.
Tahu kalo dia di PWC juga nggak.
Lagian, belum tentu dia yang mengaudit langsung.
Tapi kalau iya?*
Terakhir aku menelponnya bulan lalu dan kemarin, kukira ia di Jakarta, ternyata lagi di Jambi. Seminggu sebelumnya aku juga baru saja mendarat dari Riau bareng Mas-ku. Melayat bibi, tepatnya adik ayah mertuaku.
Setelah panggilan telponku tak diangkat, dia kirim sms sebagai balasannya.
Hoiii, sory ga keangkat. Kmarin msh di bndara, Jambi. Skrg dah sampe Cengkareng.
Kuterima pesan pendeknya pagi tadi. Seketika kutelpon dia begitu deru motor Mas-ku menjauh.
“Hai,” salamku ragu-ragu yang segera kututupi dengan bertanya, “ngapain ke Jambi, audit ya? Masih di PWC kan?” tanyaku menyebut kantor akuntan publik kondang itu.
“Iya tapi cuma empat hari koq. Eh suaramu renyah banget, lagi seneng apaan neh?”
Uh, dia yang kusakiti berulang kali, bertahun-tahun, masih saja bisa mengenali rasa-hati dari suaraku.
Mulut ini sudah mau ngeles tapi tiba-tiba saja tercekat. Samar-samar, aku seperti membaui aroma tubuhnya. Khas. Tanpa parfum. Hanya sisa sabun yang tandas tersapu air sehabis mandi. Laki banget!
“Ah biasa. Tiap bangun pagi kan harus hepi biar semangat,” bakat akting yang terasah selama di Bandung menyelamatkanku dari gelagepan.
“Harus itu. Eh ada apa neng?”
“Nggak koq. Cuma pengen tahu kabarmu aja. Baik-baik kan?”
Sepersekian detik dia tak langsung menjawab.
“Absolutely, I’m so fine. Ah kau ini neng, menelponku untuk memastikan aku baik-baik saja kan, he-he-he?”
Aku tahu ia 100% mencandaiku. Tak ada sinis apalagi nyinyir. Kuyakin juga tak ada lagi perih di seringainya. Sebaliknya pedih masih saja menghujam hatiku, menukik deras dan sejak obrolan di meja makan tadi pagi, kini berujung cemas.
Mas-ku bilang, dua mingguan kedepan bakal banyak lembur karena akan ada audit tahunan. Audit rutin sih, biasalah. Yang bikin dadaku ngilu seperti dipalu: akuntan publiknya dari PWC!
Waduh mereka bisa ketemu dong.
Ah, Mas-ku kan nggak mengenali Andi.
Tahu kalo dia di PWC juga nggak.
Lagian, belum tentu dia yang mengaudit langsung.
Tapi kalau iya?*
Langgan:
Entri (Atom)


