Selasa, 17 Januari 2017

Persawahan merangkul kampung



Dari ketinggian baling-baling besi yang membawa kami dari Sidoarjo, Surabaya menuju Tuban, melewati Gresik dan Lamongan berbulan silam, sepanjang perjalanan penuh pemandangan sawah, ladang dan perkampungan penduduk.

Lalu mendaras doa, semoga tanaman subur, panen melimpah dan tata niaga hasil pertanian berpihak pada saudara-saudara kita para petani. aamiin :) .

Eh kok saya tiba-tiba membayangkan mungkin seperti inilah Tegal Centong-nya Mif dan Fauzia dalam novel 'Kambing dan Hujan' karya Mahfud Ikhwan he-he-he :). Lalu terbayang pula masjid utara dan selatan :)

#wonderfulindonesia #eastjava #surabaya #lamongan #tuban #wanderlust #ricefield #travelphotography #aerial #altitude #helicopter #jawatimur #sawah

Rabu, 11 Januari 2017

Belajarlah renang, tak peduli usia



Membaca koleksi majalah National Geographic Travel edisi lalu, saya merasa lebih beruntung.

Di salah satu artikelnya, si penulis mengaku menyesal tidak belajar renang sedari dulu. Ceritanya, pas ditugaskan memotret jajaran pulau-pulau Nusantara, dia hanya bisa duduk termangu di pantai sedangkan rekan-rekannya 'maen aer' di kala senggang.

Di ujung kisah, dia membulatkan tekad untuk belajar renang. Katanya, siapa tahu kelak kembali mengunjungi surga bahari negeri ini.

Alasan itulah yang juga mendorong saya untuk mengambil kursus renang, nun bertahun lalu. Jauh sebelum keluyuran ke lebih banyak sudut-sudut Indonesia.

Kampus maen aer saya ialah kolam renang Manggala Wanabakti, sebelah Senayan - Slipi - Palmerah. Kuliahnya sering pagi, kadang sore :)

Cukuplah bagi saya untuk bisa gaya dada dan gaya bebas. Jujur belum sampai advance seperti menyelam dan free-floating alias mengambang.

Dengan bekal renang level 'secukupnya' itu, puji syukur, saya mencicipi perairan gugusan pulau karang, Bair, di Maluku Tenggara. Juga di Manado dan pesisir Pulau Nemberela, Pulau Rote Nusa Tenggara Timur - NTT ini.

Maka, belajarlah renang. Tak peduli usia. Kita tak tahu kan kalau esok tiba-tiba berkesempatan ngetrip ke surga bahari NKRI :)

#wonderfulIndonesia

Rabu, 04 Januari 2017

Berbagi karena cedera.



Selama kurun waktu menikmati terbirit-birit lelarian, saya pernah beberapa kali cedera. Tidak parah memang, tapi tetap kudu seriyes meratapinya eh menanganinya. Masih cedera yang umum-umum aje kok, cedera yang biasa menerpa penggemar lari. 😊

Di sisi lain, pengalaman cedera justru memberi saya "kesempatan" untuk membantu rekan-rekan sepelarian yang mengeluhkan cedera yang sama atau mirip-mirip.

Paling enggak ada 2 pengalaman cedera dan begini terapi mandirinya, saya sarikan dengan bahasa sederhana.

1. Plantar fasciitis [ bukan asam urat 😀 ]
Jika kita bangun tidur di pagi hari lalu turun dari ranjang dan tumit serta telapak kaki terasa suuaakit sekali (terasa tertusuk-tusuk, panas, kemranyas) ketika menginjak lantai...

Jika setelah duduk lama di kursi lalu berdiri dan berjalan, juga terasa sakit yang sama sampai kita berjinjit-jinjit...

Itulah "plantar fasciitis". Penyebabnya karena otot betis yang terlalu tegang. Secara umum belum perlu obat, kita masih bisa melakukan terapi mandiri.

Selasa, 06 Desember 2016

Ayo lari (?)

















- Ini tentang alasan mengapa saya tidak pernah mengajak istri saya agar mau mulai berolah raga -

Saya mengenal lari sebagai aktivitas rutin sejak 1997. Saya rutin dan berusaha lari terjadwal karena merasakan betul murah dan manfaatnya. Tentu saja saya pernah vakum lari, toh tetap kembali mengamplas aspal :)

Oiya saya tipe pelari hore-hore. Podium dan status jawara bukan tujuan. Pokok'e hepi. Itu ideologi saya. Melebihi Pancasila :D

Saya lari ya lari saja, tidak ada yang mengajak-ajak. Apalagi jaman segitu, yang lari di sekitaran rumah di Jogja setelah subuh ya hanya 1-2. Pun begitu di GSP UGM. Bisa dibilang sepi jika dibandingkan dengan hiruk pikuk lelarian sekarang.

Saya mulai lari karena tergerak sendiri. Bukan karena omelan dokter, ingin kurusan, persiapan naik Cartenz, Everest atau lantaran kepingin menggigit medali Olimpiade :P

Senin, 21 November 2016

Drama Borobudur Marathon

Hari minggu kemarin saya ngukur panjang Tol Jagorawi pergi-pulang...

Jari-jemari pun jauh dari HP dan ternyata ada 'drama' di Borobudur Marathon di Magelang :D

Nah supaya gampang baca-baca pas woles, saya kumpulin dulu link postingan 'testimoni' dari grup FB Indo Runners :)

KOMENTAR
Oiya yang menarik bukan hanya di postingannya, malahan lebih 'mengharukan' lagi nyimak di kolom komentar yang sampai puluhan ... 60an lebih and still counting :)

Lomba Lari Borobudur Marathon
Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah 
Minggu 20 November 2016

LINK FB INDO RUNNERS
https://www.facebook.com/groups/MariLari.IndoRunners/permalink/10154737988473482/

https://www.facebook.com/groups/MariLari.IndoRunners/permalink/10154734676118482/

https://www.facebook.com/groups/MariLari.IndoRunners/permalink/10154737935053482/

https://www.facebook.com/angelmayor/posts/10209167501958713

https://www.facebook.com/groups/MariLari.IndoRunners/permalink/10154735141433482/

https://www.facebook.com/groups/MariLari.IndoRunners/permalink/10154734460848482/

Bonus wkwkwkkk : goo.gl/mrOk9i



#####


KOMPAS
btw, ini berita di harian Kompas Senin 21 November 2016, halaman 28


Protes Tak Terelakkan

Borobudur Marathon 2016 Diwarnai Pelari Salah Rute

MAGELANG, KOMPAS — Kejuaraan Bank Jateng Borobudur Marathon 2016 yang berakhir pada Minggu (20/11) siang diwarnai protes peserta. Protes disebabkan molornya jadwal start, rute lari maraton salah, minimnya pos hidrasi, dan ketidaksiapan panitia membagi medali.

Ribuan pelari sebenarnya menikmati pemandangan indah berupa pegunungan dan persawahan di Candi Borobudur, salah satu situs bersejarah dunia. Kejuaraan ini memperebutkan hadiah total Rp 3,2 miliar dan diikuti 18.353 peserta dari berbagai kategori, yakni ultra (120 kilometer), maraton (42,195 km), setengah maraton (21 km), 10K, dan 3K untuk tokoh masyarakat dan duta besar.

Sayangnya, kenikmatan berlari ternodai beberapa kekacauan yang terjadi sejak awal perlombaan. Waktu start lari maraton yang harusnya pukul 05.00 mundur ke pukul 05.38.

Kekacauan terjadi lagi saat peserta maraton yang sudah berlari 12 menit mengikuti rute lari yang salah dan akhirnya justru kembali ke garis start. Saat itu, para pelari sudah menempuh jarak sekitar 3 kilometer.

Pelari nasional Indonesia Asma Bara menuturkan, saat dirinya berlari, panitia memberi arah agar pelari berbelok ke kanan. Namun, kendaraan pengawal pelari justru berbelok ke kiri. Para pelari yang bergerak mengikuti kendaraan akhirnya salah rute. "Mood saya langsung ngedrop. Jengkel," katanya.

Seiring matahari yang kian terik, para pelari kepayahan. Apalagi, rute berlari melewati tanjakan dan turunan curam. Sejumlah pelari mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh. Pos hidrasi yang menyediakan minuman baru tersedia di KM 4 untuk pelari 10K.

Pelari setengah maraton menenggak minuman di KM 5. Pos hidrasi untuk pelari maraton bahkan baru ada mulai KM 6. Padahal, idealnya, pos hidrasi terletak di setiap jarak lari 2-2,5 kilometer. Karena haus, sejumlah peserta membeli minum atau meminta air minum dari warga.

Kekacauan juga terjadi saat pembagian medali. Jumlah panitia pembagi medali tak sebanding dengan ribuan peserta. Saking kacaunya, pagar pembatas roboh, sejumlah peserta terjepit dan pingsan. Panitia juga tidak memberi tanda pengambilan sehingga beberapa orang mengambil medali lebih dari satu.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah Budi Santoso mengakui, ajang lari jalan raya Borobudur Marathon 2016 ini unggul dari segi kuantitas peserta, tetapi masih kurang dalam hal kualitas. "Masih banyak kelemahan dan kekurangan dalam penyelenggaraan kali ini yang harus kami perbaiki untuk ajang Borobudur Marathon tahun depan," ujarnya.

Ketenangan Asma Bara berbuah manis. Dia tampil sebagai pelari tercepat kategori elite nasional maraton putra dengan catatan waktu 2 jam 45 menit 1 detik. Posisinya disusul Hamdan Sayuti (2 jam 49 menit 34 detik) dan Nicolas Albinus Sila (2 jam 50 menit 04 detik).

Di kategori elite nasional maraton putri, Yulianingsih menjadi pelari tercepat (3 jam 17 menit 35 detik). Peringkat kedua dan ketiga masing-masing ditempati Irma Handayani (3 jam 38 menit 42 detik) dan Rumini (3 jam 50 menit 50 detik). Sementara kategori internasional dan umum didominasi atlet-atlet Kenya.

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menuturkan, kecenderungan olahraga saat ini adalah industri dan pariwisata. "Hal itu membuat pemerintah sangat intens mendorong berkembangnya olahraga industri dan pariwisata di luar tugas utama kami meningkatkan prestasi olahraga," kata Imam, didampingi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. (EGI/DNA)

#borobudur #marathon #borobudurmarathon #jawatengah #lari #race #running #indorunners 10K 21K 42K HM FM

Minggu, 13 November 2016

Gadget freak

Saya berduka cita setiap ada mahluk hidup yang ngebet ingin mulai olahraga (apapun: sepeda'an, badminton, renang, lari, futsal, basket dll - dan sebelumnya ndak pernah melakukannya) kemudian PRIORITAS pertamanya adalah NGEBET membeli tools yang nggak penting-penting dan bukan yang mendasar...

Seperti khusuk mengumpulkan sepatu yang nggak mau di bawah 1,5 jeti, jersey di bawah 400 rebu- dapetnya 600 rebu, kacamata renang minimal 500 rebu (alasannya anak boss beli yang 700 rebu), sepeda lipat 2,4 juta... "biar latihannya nyaman... kalo sudah kekumpul gw bakal mulai workout, dude!"

Pas mampir ke rumahnya, empat bulan setelah dia mengumandangkan resolusi "gaya hidup sehat"... gerombolan must-have items itu sudah terbeli semua. Saya ikut bersuka cita, ndherek bungah...

Tapi segera terenyuh melihat sepeda lipatnya teronggok berdebu, sepatu rare-edition nganggur, kaca mata renang buram kecipratan bensin, jersey dipakai kalau pas nobar Liga Enggres doang ...

Tapi lumayanlah ... masih ada (kadang) terpakai: jam tangan GPS-watch 8 juta... itupun dia ngeluh terlalu bulky, gede, norak dan terasa berat ketika melingkar di pergelangan tangannya yang di-klaim: trained-at-IDR850rebu-per-month-gym... :D

#gymbunny

Kamis, 10 November 2016

PRESIDEN HILLARY (?) Kompas 9112016


Selamat pagi Kompas!

Sepertinya ada kekhilafan (fatal) pada harian Kompas yang turun cetak dan edar Rabu pagi kemarin 9 November 2016 sebelum pelaksanaan, dan yang dilanjutkan penghitungan suara, pemilihan presiden AS (yang kemudian dimenangi Donald Trump).

Di artikel box halaman pertama, dimuat artikel menarik: "Hillary Clinton Berpeluang Besar Menang" tulisan Pak Hamid Awaludin. Ini tentu artikel menarik dan juga diposisikan redaksi Kompas sebagai artikel -diharapkan- menarik. Lha wong ditaruh di box dan halaman pertama je :). Cetho! #politiktataletak

Sejenak saya langsung mencerna, artikel ini merupakan analisis MENJELANG detik-detik "coblosan/contreng/klik" Pilpres Negeri Paman Sam itu.

Mengapa saya yakin ini analisis MENJELANG pilpres? Alias ditulis sebelum coblosan. Ya karena, jelas-jelas judulnya tertulis "... berpeluang ..."

Oke fine.

ISI ARTIKEL
Nah... makjegagik ketika membaca isinya.

Lha kok eksplisit dan jelas-jelas (bukan lagi tersirat atau berupa analisis pra-pilpres) tetapi sudah memposisikan Hillary Clinton sebagai pemenangnya. Simak lekat-lekat 'stabilo' hijau.

Sekali lagi. Ini edisi Rabu 9 November. Artinya, hemat saya, seluruh materi/artikel koran disiapkan sebelumnya hingga deadline Selasa malam-Rabu dini hari. Termasuk artikel ini yang ditulis Pak Hamid Awaludin, mantan Dubes RI untuk Rusia dan mantan Menkum HAM.

Bisa jadi ini artikel yang "di-request" untuk menyambut pemenang pilpres AS (yang mungkin saja dengan asumsi eh harapan eh preferensi eh terkaan Hillary-lah yang menang :D )

BURU-BURU?
Saya sedikit tahu masa-masa keramat jelang deadline di media. Jadi saya duga mungkin rekan-rekan redaksi Kompas saking terburu-burunya sehingga terlewat memeriksa isi artikel ini.

Semoga ini terjadi lantaran faktor lupa atau buru-buru saja, dan bukannya menunjukkan bahwa pemenang pilpres AS yang 'diharapkan' adalah si ini dan bukan si itu. :)

Dengan usia Kompas yang sangat lama dan disegani, menjadi referensi informasi dan inspirasi, maka sebagai pembaca setia Kompas, sungguh saya berharap 'blunder' seperti ini tidak terulang. Karena kalau sudah telanjur edar... waduh berapa ratus-berapa puluh  ribu (atau sudah jutaan) eksemplar yang telah tersebar :)

Seandainya saja hal ini akan disanggah dengan menunjuk bahwa sudah ada pencantuman kata "berpeluang" pada judul, mohon niat tersebut diurungkan.

Please, jangan menjadikannya sebagai alasan pemakluman dan alasan pembenar atau 'pengurang kadar kekeliruan dan kesalahan nan fatal ini'. Jika keukeuh dengan sanggahan tersebut, maka sekalian saja mari kita kampanyekan: 'cukup baca judul, abaikan isi'.

Dan di Kompas cetak edisi Kamis, saya belum menemukan adanya semacam pernyataan koreksi dari redaksi Kompas. Atau bisa jadi sudah ada dan hanya saya saja yang kurang teliti membaca 32 halaman koran :)

- update: seorang kawan membagi potongan artikel dari halaman pertama ( juga sesama box) di Kompas edisi Kamis. Lihat foto. Sepertinya redaksi Kompas menyadari kekeliruan tersebut namun tidak menyatakan "mengkoreksi" dan menyebutkan bahwa artikel edisi Rabu turut 'meramalkan' :). 

- Tidak ada pernyataan pengakuan bahwa artikel itu mengandung kesalahan. Mungkin 'berlindung' dari judul yang menggunakan kata "berpeluang", hehehe.

- meramalkan? Waduhhh... itu bukan meramalkan, omm tante... itu jelas-jelas eksplisit dengan LANCANG memposisikan Hillary sebagai pemenang dan bahkan menyebut kandidat Partai Demokrat itu sebagai "Presiden Hillary".

***

Dengan cinta dan bunga.
Salam dari pasar kembang Rawabelong, tetangga Palmerah :)

Article on Facebook: https://goo.gl/Wkcxjp

#kompas #gramedia #fail #USelection2016 #hillary #clinton #trump #USpresident #press #media #headline

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails