Wednesday, December 12, 2018

Bayar pajak

Desember merupakan bulan bayar pajak, buat saya sih :) Tepatnya pembayaran pajak kendaraan.

Melongok besaran pajak di STNK, lumayan pula angkanya. Yang pasti 6 digit. Fyuhhh.

Untunglah, saya sudah mengalokasikan dana untuk pajak ini. Itu juga pakai pola menyisihkan besaran dana tertentu saban bulannya agar terasa ringan.

Misalnya nih, pajak yang kudu dibayar pada Desember ini Rp 1.800.000,- alias sejuta ya. Angka segitu memang relatif. Buat saya ya terhitung besar.

Maka, alih-alih baru menyiapkan menjelang pembayaran pajak, saya memilih mulai 'mencicil'nya sedikit demi sedikit dan ditaruh di rekening atau produk keuangan yang terpisah dari rekening dana untuk kebutuhan sehari-hari.

Jadi, duit 1.800.000 dibagi 12 = Rp 150.000. Sehingga setiap bulannya saya 'nabung' Rp 150 ribu. Pilihanya saya adalah menitipkannya di reksa dana. Bisa pula sih di rekening tabungan biasa, namun pastikan terpisah dari rekening harian ya, kalau lagi lupa bisa-bisa tabungan untuk pajak buat digesek-gesek di Indomaret dan Alfamart hehehe.

Nah, kerasa kan entengnya kan dengan menyisihkan setiap bulan Rp 150 ribu dengan harus langsung kontan menyiapkan Rp 1.800.000. Antara seratus lima puluh RIBU Vs satu koma delapan JUTA.

Jadi hanya dengan mengatur manajemen keuangan sederhana, kita bisa menyiasati beban finansial hehehe. Sekalian juga menerapkan kebiasaan menabung dan perencanaan yang lebih baik.

Salam super #eh :)

Saturday, December 1, 2018

Latihan "Interval Running" Lagi

Cilebut Fast Running Track :D

Sejak pertengahan November, saya kembali berlatih lari dengan menu interval running lagi. Sebelumnya, saya hanya lari biasa saja. Kecepatan konstan dan santai.

IR ini sejatinya sudah familiar bagi saya karena memang efektif untuk mendongkrak endurance, stamina dan juga pas untuk yang ingin mengasah kecepatan. Istilah lainnya, cakep untuk yang memperbaiki PB, personal best :)

Kembali menjalani lari pelan - lari cepat khas IR lantaran saya berencana mengikuti acara lari bersama yang dihelat almamater kampus di Ancol bulan Desember ini.

Tujuannya sih bukan untuk cepat-cepatan tapi untuk meningkatkan daya tahan agar bisa menuntaskan jarak 10K dengan sehat dan selamat :D. Alias, nggak kepayahan, nggak engap dan pastinya happy ending dengan medali penamat dan makan-makan setelah race.

Latihan IR saya lakukan di komplek rumah. Kebetulan ada beberapa jalur lurus 100an meter. Permukaannya beton yang masih baru. Sebagian kecil aspal. Yang harus diperhatikan adalah beberapa ruas terdapat pasir sisa pembangunan rumah. Bikin kepleset, atau paling tidak bikin nggak nyaman pas memacu pace.

Durasi total IR memang pendek, hanya 25 menit. Lima menit pertama berupa jogging untuk condisioning (bukan sebagai pemanasan ya, karena warming up saya lakukan terpisah yakni 10 menit sebelum sesi yang 25 menit).

Selanjutnya adalah mulai lari dengan pace relatif tinggi. Detailnya, pada jarak 100 m, saya tempuh 30-33 detik. Ini setara dengan pace 5:30 menit/km.

Kemudian berlari pelan sekitar 2-3 menit dan disusul lari cepat lagi. Begitu seterusnya sampai selesai durasi 25 menit.

Tentang manfaat latihan interval runnning atau juga disebut interval training ini, mbah Google tahu banyak. Di Youtube juga banyak bertebaran materi serta benefit latihan jenis ini.

Salam lari dari Bogor :)

ARTIKEL LATIHAN LARI
Program latihan lari bagi pemula, transformasi dari walker (pejalan kaki) menjadi runner, pelari :)
- Latihan pendukung, lari lebih cepat, lebih lama: Strength / Circuit Training ...
- Program latihan lari 5K
- Pemanasan dan peregangan sebelum lari dan olahraga

Thursday, November 22, 2018

Peta dan Jarak Antar Stasiun KRL Commuterline Jabodetabek

Penumpang KRL Jakarta Kota - Bogor - Inung Gunarba

Saya menyukai informasi peta karena menyajikan informasi yang bermanfaat untuk mengenali lingkungan sekitar dan juga, tentu saja,  membantu navigasi sehari-hari. Karena itulah saya juga merasa terbantu dengan peta KRL Commuterline area Jabodetabek, apalagi tersaji pula info jarak antar stasiun kereta bagi penumpang KRL seperti saya.

Dari paparan peta yang kini banyak terpampang di stasiun-stasiun, kita bisa mengetahui jarak dari stasiun satu ke yang lainnya. Lengkap, baik dari dan ke Jakarta Kota, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bahkan komplet pula stasiun dan jarak ke arah Banten, yakni Maja. 

Contoh informasi ialah jarak Bogor - Jakarta Kota totalnya mencapai +- 53 kilometer. Sedangkan jika dari Cilebut ke Gondangdia yakni 39 km.

Untuk jarak lainnya, kita tinggal menjumlahkannya jarak antar stasiun. Urutan stasiun yang dilalui juga mudah dipahami bagi pengguna KRL newbie hehehe.

Kelak, jika light rail train alias LRT Jakarta Depok Bogor yang lintasannya di sisi jalan tol Jagorawi, saya harap akan dibuatkan peta dan diintegrasikan dengan peta ini.

Sejauh ini, saya kurang tahu posisi stasiun pemberangkatan yang dari Bogor, apakah akan dibangun di Baranangsiang, Stasiun Bogor eksisting atau tembus sekalian di Tajur atau Ciawi. 

Salam roker dan anker :)



Monday, November 19, 2018

Bogor di November

Gunung Salak dilihat dari Cilebut

Namanya juga bulan yang berakhiran 'ber-ber', Bogor dan sekitarnya pun sudah jatahnya diguyur hujan. Di pagi hari dan sore, hawa udara terasa sejuk ketika angin dari kaki Gunung Salak mengalir.

Terlebih di malam hari, bikin selimut menjadi barang favorit. Kala keluar rumah, sarung dan sweater pas juga enak untuk dikenakan. Juga buff dan tutup kepala semacam kupluk outdoor.

Ditambah dengan senter, jadilah kayak di Puncak. "Villa, villa, villlaaaa-nya omm" :D :P

Yang saya bayangkan pula, nikmatnya hawa sejuk ini adalah kuah bakso yang menguar, jagung rebus maupun jagung bakar. Tentu saja, secangkir kopi Liong Bulan, kopinya Bogor. Sachetan seribuan :)

Selain itu, hawa sejuk ini sangat nikmat disesap dengan berlari pagi sepanjang trek Cilebut, Bojong Gede, Bilabong, tembus ke Cimanggu. Terus pulangnya nyangking nasi uduk dan pepaya california 10 ribuan.

Atau pulang-pulang, pendinginan yang cukup, bikin teh madu lalu lanjut bikin nasi goreng kornet telur ceplok. Salam lari pagi, dan sore juga ding :)


Friday, November 16, 2018

Sunset di Gorontalo

Matahari terbenam di Pantai Gorontalo - Inung Gunarba1113

Bertahun lalu saya jalan-jalan ke Gorontalo. Agendanya kerja tapi saya anggap rekreasi :D supaya dibawanya enak dan enteng.

Kata kawan yang menjemput di bandara Jalaluddin, "Jangan kaget dengan panas teriknya Gorontalo karena di sini hanya ada dua musim: panas dan panas banget!" hehehe

Begitulah, terletak tak seberapa di utara garis khatulistiwa dan di tepi laut, tepatnya Teluk Tomini, ga heran kota ini memang begitu gerah. Padahal saya berkunjung ke sana di bulan November yang sejatinya sudah masuk musim hujan.

Ah, abaikan soal terik matahari. Pokoknya saya ke sana tetap bersenang-senang menjelajah (baru sedikit) sudut Gorontalo.

Selain ke pusat kota, saya diajak pak bos makan-makan. Makan-makan apalagi kalau bukan menu ikan layaknya kota di pesisir ye kan?

Oleh kawan, kami diarahkan menyambangi sentra kuliner nasi kuning di tepi pantai. Berkendara 15 menit dari tempat acara kantor, kami ke Warung Makan Nasi Kuning "Selamat Pagi".

Kami ke sana di saat jelang petang. Pas sampai sana, matahari tengah bersiap pulang di garis horizon.

Cakep kah? Ya iya banget. Tempat kami makan menghadap ke Teluk Tomini yang perairannya tenang. Dengan semburat bias sinar matahari sore, memantul di air laut dan melukiskan langit yang gahar, saya (kembali) bersyukur diberi kesempatan menikmati eloknya Nusantara.

Semoga kelak saya bisa jalan-jalan lagi di kota ini, main ke Pohuwato dan Pulo Cinta :)

Thursday, October 18, 2018

Lubang Biopori, menggemburkan tanah, menyuburkan tanaman

Di petak halaman mungil rumah Cilebut, Bogor, saya membuat tiga lubang biopori di awal September kemarin. Kebetulan, saya mendapat pinjaman alat bor lubang biopori dari tetangga depan rumah.

Sependek yang saya tahu, fungsi lubang ini ada beberapa. Nah dari yang beberapa manfaat itu, yang paling utama ada 2 yakni untuk menyuplai makanan bagi zat renik di dalam tanah dan bisa pula sebagai peresapan air hujan.

Sedangkan kawasan perumahan saya tergolong memiliki cadangan air tanah yang baik sehingga tidak ada masalah dengan persediaan air tanah. Semoga, ke depannya kondisi ini terus berlangsung, aamiin :)

Maka, lubang biopori lebih berfungsi sebagai lubang untuk menggemburkan tanah dan menyuburkan tanaman. Setiap harinya saya memasukkan sampah organik dari dapur seperti sisa makanan seperti nasi (yang sedikit sih), kulit buah, potongan sayur mentah, sampah daun dan kertas yang sekiranya mudah terurai alias kertas yang tidak mengandung plastik.

Kedalaman lubang yang dibuat pun hanya 80 cm. Sedangkan rekomendasi pembuatan lubang yang banyak ditemui di website dan youtube mencapai 100 cm. Saya cukupkan 80 cm agar tidak sampai menembus muka air tanah.

Dengan kedalaman 80 cm pun, ternyata butuh waktu lama untuk memasukkan ketinggian sampah dapur agar bisa sampai penuh. Pada dua minggu pertama misalnya, sampah dapur hanya mencapai 20an cm dari dasar lubang. Padahal, perasaan, saya sudah memasukkan 'banyak' sampah dapur.

Yo wislah, saya tetap yakin nanti juga bakal ketutup semua lubang bioporinya. Sambil tetap memasukkan sampah-sampah yang bakal menjadi santapan zat-zat renik dalam tanah seperti cacing dkk yang nantinya bikin subur tanah, saya tutup lubang dengan bekas tutup kaleng cat yang sudah dilubangi untuk menjadi jalan bagi air hujan masuk ke lubang.

Agar tidak berbau, pada bagian atas saya benamkan daun-daun kering. Kadang pula batang-batang lunak tanaman hasil pemangkasan dan penyiangan.

Oya jika ingin membeli alat bor lubang biopori, harga pasaran di Toped Tokopedia, Bukalapak BL dan toko online lainnya berkisar Rp100-150ribu. Harga yang tak jauh berbeda juga ditawarkan di toko fisik seperti toko alat pertanian dan pertamanan.*

Sumber diagram



Tuesday, October 16, 2018

Jogging Track PTBA, Jalur Lari Asik di Tanjung Enim


Kabar bagus untuk penggemar lari dan jogging di Tanjung Enim. Di kawasan tambang batu bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan itu, kini sudah disediakan jalur lari atau jogging track. 

Lokasinya tak jauh dari Kantor Pusat PT Bukit Asam Tbk (PTBA), disamping persis masjid jami dan seberang taman. Buka tiap hari dari pagi hingga petang, masyarakat umum bebas masuk dan gratis. 

Jalur joggingnya variatif dengan kelokan kanan kiri dan juga tanjakan serta turunan yang masih ramah dengan dengkul :). Permukaannya dari paving block alias konblok. Rapi dan rata, bebas bikin kesandung. 

Kemarin saya dan keluarga ngeluyur kesini pagi jam 09.00. Matahari yang meninggi, tidak terasa terik karena dedaunan pohon sudah memayungi pengunjung. Rindang dan teduh. 

Selain memanjakan pelari dan pejalan kaki, trek ini juga dibuka untuk pesepeda. Tetap hati-hati ya karena kita tetap kudu berbagi dengan pengunjung lainnya. 


Jika lelah, beberapa kursi besi nan kokoh dapat menjadi tempat rehat sejenak sambil makan minum. Pastikan buang sampah di kantong plastik sementara, pasalnya - sampai Sabtu 13 Oktober 2018 - belum ada tong sampah di sini. Atau, bisa juga sampah kita bawa pulang. Ingat kan, kebersihan sebagian dari iman :)

Di beberapa sudut juga ada kandang hewan seperti kelinci, ayam dan merpati. Kabarnya, kelak ada lagi koleksi binatang lainnya karena tempat ini bakal ada semacam kebun binatang atau mini zoo. 

Pengen jogging di bawah naungan pohon rindang? Lari di sini saja: Tanjung Enim, Zoo & Jogging Track :)

Ayo dukung Tanjung Enim sebagai kota wisata!

ARTIKEL LATIHAN LARI
Program latihan lari bagi pemula, transformasi dari walker (pejalan kaki) menjadi runner, pelari :)
- Latihan pendukung, lari lebih cepat, lebih lama: Strength / Circuit Training ...
- Program latihan lari 5K
- Pemanasan dan peregangan sebelum lari dan olahraga