Friday, December 21, 2018

7 tanaman hias dalam ruangan penyerap polutan yang murah dan mudah didapat

Sirih gading di pot tempel. 

Iseng mencari tanaman hias untuk mengisi ruangan di rumah, saya memilih yang sekaligus dapat menyerap polutan atau racun. Selain itu, kalau bisa yang harganya murah dan mudah didapatkan di toko penjual tanaman hias sekitar Bogor.

Dari sekian banyak tanaman, saya mengerucutkan menjadi tujuh jenis tanaman. Ada yang berbunga dan ada pula yang lebih banyak berdaun rimbun.

Saya juga akan melakukan kombinasi memilih 3-4 tanaman untuk ditaruh di dalam satu ruangan. Ini untuk variasi tampilan dan juga mengoptimalkan fungsi penyerap polutan.

1. Sirih gading (Epipremnum aureum)
Sirih Gading 

Menyerap dan menetralisir:
a. Gas karbon monoksida
b. Formaldehid pada udara
 polutan dalam ruangan seperti senyawa formaldehida, xilena, dan benzena. Efek ini dapat mengurangi berat molekul zat pencemar dalam ruangan.

Penempatan di indoor: dapur, ruangan perokok, dekat jendela kamar tidur dan ruang kerja di pagi hari.


2. Peace Lily 

Menyerap dan menetralisir:
a. klorofom,
b. alcohol,
c. aseton yang banyak ditemukan pada alat-alat tulis kantor.
d. BTX: toluena
e. xilena (pada kertas, materi cetak, pernis, barang plastik)
f. benzena (deterjen, plastik, resin, ban, sepatu, pestisida termasuk semprotan anti nyamuk)
d. formaldehida (tripleks, karpet)
g. trichloroethylene (sabun cuci)

Penempatan: ruang kerja, kelas, rapat, ruang keluarga, ruang cuci, yang banyak perabotan.


3. Lidah mertua (Sansevieria trifasciata)

Menyerap dan menetralisir:
a. nikotin,
b. karbonmonoksida,
c. formaldehide,
d. trichloroethylene,
e. benzene
f. dioksin.
g. radiasi dari peralatan-peralatan elektronika yang ada di dalam ruangan.

Lidah mertua mengandung pregnan glikosid, bahan aktif yang berguna untuk mengurai polutan menjadi asam amino, gula, dan asam organik. Dengan demikian, polutan tersebut tidak lagi berbahaya bagi manusia.

Kelebihannya lagi, lidah mertua mengkonversi karbon dioksida menjadi oksigen di malam hari. Istilahnya, air purifier.

Jadi, lidah mertua bagus sekali ditaruh di dalam rumah tanpa mesti mengeluarkannya ketika hari sudah gelap.

Penempatan:
Ruang cuci (menyerap trichloroethylene pada sabun cuci dan bahan kimia lainnya), dapur, ruang tv, ruang keluarga, kantor, kelas, ruang rapat, kamar mandi.


4. Gerber Daisy (Gerbera jamesonii) atau herbras di Indonesia. 

Menyerap dan menetralisir:
a. formaldehida,
b. benzena,
c. trichloroethylene
d. Asap rokok

Penempatan:
Kamar mandi, kamar tidur, ruang mencuci, ruang keluarga, dapur.

Tanaman ini juga mampu menghasilkan uap air yang dapat membuat udara semakin segar di dalam ruangan.

Kelebihannya gerbera adalah sama dengan lidah mertua yakni mengkonversi karbon dioksida menjadi oksigen di malam hari.

Asiknya lagi, gerbera atau herbras ini merupakan tanaman hias yang berbunga cakep dan warnanya cerah. Setahu saya warnanya merah. Mungkin ada juga yang kuning dan ungu.


5. Spider Plant 
Menyerap dan menetralisir:
a. benzena,
b. karbon monoksida,
c. formaldehida,
d. xilena,
e. bahan kimia industri karet
f. bahan kimia percetakan.

Penempatan:
Di dapur, ruang kerja, kelas, ruang keluarga dan bermain (banyak mainan mengandung karet dan kimia).


6. Pakis Boston
Stomata yang terdapat dalam tanaman ini mampu berperan sebagai vacuum cleaner yang dapat menyedot berbagai kandungan racun seperti Xylene dari asap rokok.

Senyawa-senyawa itu dimasukkan ke dalam sistem metabolisme pakis boston lalu diubah menjadi zat yang bermanfaat.

Sangat disarankan untuk menempatkan dua pot tanaman ini di ruangan seluas 30 m².


7. Sri Rejeki
Tumbuhan aglaonema ini menyerap
asap rokok serta mikroorganisme lainnya.

Direkomendasikan oleh sebuah penelitian yang dilakukan FMIPA Unbraw Malang, tempatkan sri rejeki berdaun minimal 14 helai dan lidah mertua dewasa minimal berdaun 5 helai untuk menetralisir kandungan bahan berbahaya di dalam ruangan.


Padu padan pilihan
Kombinasi pilihan saya adalah menaruh sirih gading di meja dapur dan di atas kulkas.

Medianya berupa pot kecil berisi sekam padi dan botol kaca bekas kopi Nescafe yang diisi air. Kaca tembus pandangnya membuat akar sirih gading terekspos sehingga menghadirkan suasana segar

Lalu di ruang tv atau ruang keluarga ada herbras dan lidah mertua. Ingat, keduanya merupakan air purifier, pemurni udara karena menyerap karbon dioksida dan polutan lainnya lantas mengeluarkan oksigen termasuk di malam hari. Udara segar nan bersih sepanjang hari :)

Kemudian di jendela kamar, saya gantungkan sirih gading. Momen terbaiknya adalah ketika jendela kamar dibuka dan mengalirkan udara segar yang membelai daun-daun sirih gading. Best morning everyday.

Lanjut ke teras, giliran peace lili di pojok. Saya menyukai jenis yang berdaun lebar dan rada besar yakni peace lili mauna loa untuk halaman depan.

Nah di teras pula, saya tambahkan pula tanaman hias bunga krisan yang juga mampu menyerap polutan formaldehid, xylene dan mendaur ulang oksigen. Khusus krisan, tanaman ini membutuhkan paparan sinar matahari langsung sehingga kurang cocok ditaruh di dalam ruangan. Namun dengan bunganya yang cakep, krisan jadi pilihan untuk menambah koleksi.

Bunga krisan. 

Sedangkan di ruang tamu, pilihan favorit adalah peace lily jenis starlight yang berdaun banyak, lebih mungil dan satu rumpunnya dapat berbunga banyak.

Nah itu dia 7 tanaman hias untuk di dalam ruangan yang mampu menyerap polutan dan menjadi pemurni udara. Seperi disebut di atas, kita bisa bermain kombinasi beberapa tanaman agar rumah makin segar dan semarak, plus tentu saja lebih sehat. *

Wednesday, December 12, 2018

Bayar pajak

Desember merupakan bulan bayar pajak, buat saya sih :) Tepatnya pembayaran pajak kendaraan.

Melongok besaran pajak di STNK, lumayan pula angkanya. Yang pasti 6 digit. Fyuhhh.

Untunglah, saya sudah mengalokasikan dana untuk pajak ini. Itu juga pakai pola menyisihkan besaran dana tertentu saban bulannya agar terasa ringan.

Misalnya nih, pajak yang kudu dibayar pada Desember ini Rp 1.800.000,- alias sejuta ya. Angka segitu memang relatif. Buat saya ya terhitung besar.

Maka, alih-alih baru menyiapkan menjelang pembayaran pajak, saya memilih mulai 'mencicil'nya sedikit demi sedikit dan ditaruh di rekening atau produk keuangan yang terpisah dari rekening dana untuk kebutuhan sehari-hari.

Jadi, duit 1.800.000 dibagi 12 = Rp 150.000. Sehingga setiap bulannya saya 'nabung' Rp 150 ribu. Pilihanya saya adalah menitipkannya di reksa dana. Bisa pula sih di rekening tabungan biasa, namun pastikan terpisah dari rekening harian ya, kalau lagi lupa bisa-bisa tabungan untuk pajak buat digesek-gesek di Indomaret dan Alfamart hehehe.

Nah, kerasa kan entengnya kan dengan menyisihkan setiap bulan Rp 150 ribu dengan harus langsung kontan menyiapkan Rp 1.800.000. Antara seratus lima puluh RIBU Vs satu koma delapan JUTA.

Jadi hanya dengan mengatur manajemen keuangan sederhana, kita bisa menyiasati beban finansial hehehe. Sekalian juga menerapkan kebiasaan menabung dan perencanaan yang lebih baik.

Salam super #eh :)

Saturday, December 1, 2018

Latihan "Interval Running" Lagi

Cilebut Fast Running Track :D

Sejak pertengahan November, saya kembali berlatih lari dengan menu interval running lagi. Sebelumnya, saya hanya lari biasa saja. Kecepatan konstan dan santai.

IR ini sejatinya sudah familiar bagi saya karena memang efektif untuk mendongkrak endurance, stamina dan juga pas untuk yang ingin mengasah kecepatan. Istilah lainnya, cakep untuk yang memperbaiki PB, personal best :)

Kembali menjalani lari pelan - lari cepat khas IR lantaran saya berencana mengikuti acara lari bersama yang dihelat almamater kampus di Ancol bulan Desember ini.

Tujuannya sih bukan untuk cepat-cepatan tapi untuk meningkatkan daya tahan agar bisa menuntaskan jarak 10K dengan sehat dan selamat :D. Alias, nggak kepayahan, nggak engap dan pastinya happy ending dengan medali penamat dan makan-makan setelah race.

Latihan IR saya lakukan di komplek rumah. Kebetulan ada beberapa jalur lurus 100an meter. Permukaannya beton yang masih baru. Sebagian kecil aspal. Yang harus diperhatikan adalah beberapa ruas terdapat pasir sisa pembangunan rumah. Bikin kepleset, atau paling tidak bikin nggak nyaman pas memacu pace.

Durasi total IR memang pendek, hanya 25 menit. Lima menit pertama berupa jogging untuk condisioning (bukan sebagai pemanasan ya, karena warming up saya lakukan terpisah yakni 10 menit sebelum sesi yang 25 menit).

Selanjutnya adalah mulai lari dengan pace relatif tinggi. Detailnya, pada jarak 100 m, saya tempuh 30-33 detik. Ini setara dengan pace 5:30 menit/km.

Kemudian berlari pelan sekitar 2-3 menit dan disusul lari cepat lagi. Begitu seterusnya sampai selesai durasi 25 menit.

Tentang manfaat latihan interval runnning atau juga disebut interval training ini, mbah Google tahu banyak. Di Youtube juga banyak bertebaran materi serta benefit latihan jenis ini.

Salam lari dari Bogor :)

ARTIKEL LATIHAN LARI
Program latihan lari bagi pemula, transformasi dari walker (pejalan kaki) menjadi runner, pelari :)
- Latihan pendukung, lari lebih cepat, lebih lama: Strength / Circuit Training ...
- Program latihan lari 5K
- Pemanasan dan peregangan sebelum lari dan olahraga

Thursday, November 22, 2018

Peta dan Jarak Antar Stasiun KRL Commuterline Jabodetabek

Penumpang KRL Jakarta Kota - Bogor - Inung Gunarba

Saya menyukai informasi peta karena menyajikan informasi yang bermanfaat untuk mengenali lingkungan sekitar dan juga, tentu saja,  membantu navigasi sehari-hari. Karena itulah saya juga merasa terbantu dengan peta KRL Commuterline area Jabodetabek, apalagi tersaji pula info jarak antar stasiun kereta bagi penumpang KRL seperti saya.

Dari paparan peta yang kini banyak terpampang di stasiun-stasiun, kita bisa mengetahui jarak dari stasiun satu ke yang lainnya. Lengkap, baik dari dan ke Jakarta Kota, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bahkan komplet pula stasiun dan jarak ke arah Banten, yakni Maja. 

Contoh informasi ialah jarak Bogor - Jakarta Kota totalnya mencapai +- 53 kilometer. Sedangkan jika dari Cilebut ke Gondangdia yakni 40 km.

Ini foto peta tapi resolusinya kurang tinggi.
Untuk jarak lainnya, kita tinggal menjumlahkannya jarak antar stasiun. Urutan stasiun yang dilalui juga mudah dipahami bagi pengguna KRL newbie hehehe.

Kelak, jika light rail train alias LRT Jakarta Depok Bogor yang lintasannya di sisi jalan tol Jagorawi, saya harap akan dibuatkan peta dan diintegrasikan dengan peta ini.

Sejauh ini, saya kurang tahu posisi stasiun pemberangkatan yang dari Bogor, apakah akan dibangun di Baranangsiang, Stasiun Bogor eksisting atau tembus sekalian di Tajur atau Ciawi. 

Salam roker dan anker :)

https://jakartabytrain.com/the-maps/commuter-line-route-map, resolusi fotonya gedean.




Monday, November 19, 2018

Bogor di November

Gunung Salak dilihat dari Cilebut

Namanya juga bulan yang berakhiran 'ber-ber', Bogor dan sekitarnya pun sudah jatahnya diguyur hujan. Di pagi hari dan sore, hawa udara terasa sejuk ketika angin dari kaki Gunung Salak mengalir.

Terlebih di malam hari, bikin selimut menjadi barang favorit. Kala keluar rumah, sarung dan sweater pas juga enak untuk dikenakan. Juga buff dan tutup kepala semacam kupluk outdoor.

Ditambah dengan senter, jadilah kayak di Puncak. "Villa, villa, villlaaaa-nya omm" :D :P

Yang saya bayangkan pula, nikmatnya hawa sejuk ini adalah kuah bakso yang menguar, jagung rebus maupun jagung bakar. Tentu saja, secangkir kopi Liong Bulan, kopinya Bogor. Sachetan seribuan :)

Selain itu, hawa sejuk ini sangat nikmat disesap dengan berlari pagi sepanjang trek Cilebut, Bojong Gede, Bilabong, tembus ke Cimanggu. Terus pulangnya nyangking nasi uduk dan pepaya california 10 ribuan.

Atau pulang-pulang, pendinginan yang cukup, bikin teh madu lalu lanjut bikin nasi goreng kornet telur ceplok. Salam lari pagi, dan sore juga ding :)


Friday, November 16, 2018

Sunset di Gorontalo

Matahari terbenam di Pantai Gorontalo - Inung Gunarba1113

Bertahun lalu saya jalan-jalan ke Gorontalo. Agendanya kerja tapi saya anggap rekreasi :D supaya dibawanya enak dan enteng.

Kata kawan yang menjemput di bandara Jalaluddin, "Jangan kaget dengan panas teriknya Gorontalo karena di sini hanya ada dua musim: panas dan panas banget!" hehehe

Begitulah, terletak tak seberapa di utara garis khatulistiwa dan di tepi laut, tepatnya Teluk Tomini, ga heran kota ini memang begitu gerah. Padahal saya berkunjung ke sana di bulan November yang sejatinya sudah masuk musim hujan.

Ah, abaikan soal terik matahari. Pokoknya saya ke sana tetap bersenang-senang menjelajah (baru sedikit) sudut Gorontalo.

Selain ke pusat kota, saya diajak pak bos makan-makan. Makan-makan apalagi kalau bukan menu ikan layaknya kota di pesisir ye kan?

Oleh kawan, kami diarahkan menyambangi sentra kuliner nasi kuning di tepi pantai. Berkendara 15 menit dari tempat acara kantor, kami ke Warung Makan Nasi Kuning "Selamat Pagi".

Kami ke sana di saat jelang petang. Pas sampai sana, matahari tengah bersiap pulang di garis horizon.

Cakep kah? Ya iya banget. Tempat kami makan menghadap ke Teluk Tomini yang perairannya tenang. Dengan semburat bias sinar matahari sore, memantul di air laut dan melukiskan langit yang gahar, saya (kembali) bersyukur diberi kesempatan menikmati eloknya Nusantara.

Semoga kelak saya bisa jalan-jalan lagi di kota ini, main ke Pohuwato dan Pulo Cinta :)

Thursday, October 18, 2018

Lubang Biopori, menggemburkan tanah, menyuburkan tanaman

Di petak halaman mungil rumah Cilebut, Bogor, saya membuat tiga lubang biopori di awal September kemarin. Kebetulan, saya mendapat pinjaman alat bor lubang biopori dari tetangga depan rumah.

Sependek yang saya tahu, fungsi lubang ini ada beberapa. Nah dari yang beberapa manfaat itu, yang paling utama ada 2 yakni untuk menyuplai makanan bagi zat renik di dalam tanah dan bisa pula sebagai peresapan air hujan.

Sedangkan kawasan perumahan saya tergolong memiliki cadangan air tanah yang baik sehingga tidak ada masalah dengan persediaan air tanah. Semoga, ke depannya kondisi ini terus berlangsung, aamiin :)

Maka, lubang biopori lebih berfungsi sebagai lubang untuk menggemburkan tanah dan menyuburkan tanaman. Setiap harinya saya memasukkan sampah organik dari dapur seperti sisa makanan seperti nasi (yang sedikit sih), kulit buah, potongan sayur mentah, sampah daun dan kertas yang sekiranya mudah terurai alias kertas yang tidak mengandung plastik.

Kedalaman lubang yang dibuat pun hanya 80 cm. Sedangkan rekomendasi pembuatan lubang yang banyak ditemui di website dan youtube mencapai 100 cm. Saya cukupkan 80 cm agar tidak sampai menembus muka air tanah.

Dengan kedalaman 80 cm pun, ternyata butuh waktu lama untuk memasukkan ketinggian sampah dapur agar bisa sampai penuh. Pada dua minggu pertama misalnya, sampah dapur hanya mencapai 20an cm dari dasar lubang. Padahal, perasaan, saya sudah memasukkan 'banyak' sampah dapur.

Yo wislah, saya tetap yakin nanti juga bakal ketutup semua lubang bioporinya. Sambil tetap memasukkan sampah-sampah yang bakal menjadi santapan zat-zat renik dalam tanah seperti cacing dkk yang nantinya bikin subur tanah, saya tutup lubang dengan bekas tutup kaleng cat yang sudah dilubangi untuk menjadi jalan bagi air hujan masuk ke lubang.

Agar tidak berbau, pada bagian atas saya benamkan daun-daun kering. Kadang pula batang-batang lunak tanaman hasil pemangkasan dan penyiangan.

Oya jika ingin membeli alat bor lubang biopori, harga pasaran di Toped Tokopedia, Bukalapak BL dan toko online lainnya berkisar Rp100-150ribu. Harga yang tak jauh berbeda juga ditawarkan di toko fisik seperti toko alat pertanian dan pertamanan.*

Sumber diagram



Tuesday, October 16, 2018

Jogging Track PTBA, Jalur Lari Asik di Tanjung Enim


Kabar bagus untuk penggemar lari dan jogging di Tanjung Enim. Di kawasan tambang batu bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan itu, kini sudah disediakan jalur lari atau jogging track. 

Lokasinya tak jauh dari Kantor Pusat PT Bukit Asam Tbk (PTBA), disamping persis masjid jami dan seberang taman. Buka tiap hari dari pagi hingga petang, masyarakat umum bebas masuk dan gratis. 

Jalur joggingnya variatif dengan kelokan kanan kiri dan juga tanjakan serta turunan yang masih ramah dengan dengkul :). Permukaannya dari paving block alias konblok. Rapi dan rata, bebas bikin kesandung. 

Kemarin saya dan keluarga ngeluyur kesini pagi jam 09.00. Matahari yang meninggi, tidak terasa terik karena dedaunan pohon sudah memayungi pengunjung. Rindang dan teduh. 

Selain memanjakan pelari dan pejalan kaki, trek ini juga dibuka untuk pesepeda. Tetap hati-hati ya karena kita tetap kudu berbagi dengan pengunjung lainnya. 


Jika lelah, beberapa kursi besi nan kokoh dapat menjadi tempat rehat sejenak sambil makan minum. Pastikan buang sampah di kantong plastik sementara, pasalnya - sampai Sabtu 13 Oktober 2018 - belum ada tong sampah di sini. Atau, bisa juga sampah kita bawa pulang. Ingat kan, kebersihan sebagian dari iman :)

Di beberapa sudut juga ada kandang hewan seperti kelinci, ayam dan merpati. Kabarnya, kelak ada lagi koleksi binatang lainnya karena tempat ini bakal ada semacam kebun binatang atau mini zoo. 

Pengen jogging di bawah naungan pohon rindang? Lari di sini saja: Tanjung Enim, Zoo & Jogging Track :)

Ayo dukung Tanjung Enim sebagai kota wisata!

ARTIKEL LATIHAN LARI
Program latihan lari bagi pemula, transformasi dari walker (pejalan kaki) menjadi runner, pelari :)
- Latihan pendukung, lari lebih cepat, lebih lama: Strength / Circuit Training ...
- Program latihan lari 5K
- Pemanasan dan peregangan sebelum lari dan olahraga



Tuesday, September 18, 2018

Berkebun di Cilebut: belanja rumput murah, menanam mangga dan jambu kristal

Memanfaatkan sepetak halaman kecil di rumah Cilebut, saya mulai menanaminya dengan rupa-rupa tanaman. Kerennya, memulai hobi berkebun, gardening. Atau yang lebih keren lagi, katanya sih, urban farming hehehe

Jika merunut pola denah rumah aslinya, luasnya halaman depan adalah sekira 3 m x 4 m. Setelah menambah teras atau tepatnya memajukannya 1,5 m, maka sisa halaman untuk taman menjadi 3 m x 2,5 m. Oya yang 3 meter adalah sisi lebarnya.

Meski berkurang, masih lumayanlah daripada tidak ada halaman berupa tanah sama sekali. Beberapa tetangga memilih menghabiskan halaman dengan menyemen atau memasang keramik serta memayunginya dengan kanopi.

Saya dan istri memilih tetap mempertahankan beberapa meter halaman untuk taman. Tanaman inti berupa rumput, kemudian pohon buah dan bunga.

Jenis rumput yang dipilih adalah rumput gajah mini. Saya membelinya di daerah Arco, Sasak Panjang, Sawangan, Depok. Harganya Rp 20.000/meter. Rumput gajah mini terbilang mudah dirawat dan bandel. 

Jika menyukai rumput lain, bisa pula kita memilih jenis rumput yang lebih cakep dari sisi penampilannya yakni rumput jepang, swiss, babat / babad, dan golf. Harga di penanam atau petani rumput langsung di Arco dan sekitarnya, untuk jepang dan swiss yakni Rp 25.000/meter.

Sebagai gambaran, untuk luas halaman rumah Cilebut yang 3 m x 2,5 m tadi, hanya membutuhkan pembelian 4 meter rumput. Lima meter juga oke saja, sedangkan 4 meter sebenarnya sudah cukup.

Jadi selisih harga gajah mini dengan swiss atau jepang sejatinya tidak banyak kalau ditotal. Perbandingannya harga per meter adalah Rp 20.000 vs Rp 25.000. Kalau totalnya dengan beli 4 meter adalah Rp 80.000 vs Rp 100.000 alias cuman selisih dua puluh ribu doang :)

Oya, itu harga langsung di petani rumput ya. Coba intip harga di pedagang seperti di Toped atau BL, hehehe Rp 60-70ribu qiqiqi. Jadi kalau memang sempat berburu rumput langsung ke petaninya ya baguslah, sedangkan jika jauh dan tidak ada waktu, ya gapapa belanja di marketplace atau pedagang tanaman hias pinggir-pinggir jalan :)

Ini link lokasi Google Map tempat saya beli rumput gajah mini, tersedia juga rumput jepang, swiss dan golf. Penampakan rumah yang jual rumput di Google Map seperti ini, dia juga jual aneka tanaman hias:




Pohon Buah
Sementara untuk pohon jenis buah-buahan, saya menanam mangga chokanan. Sekarang tingginya baru 50 cm. 

Masih di halaman depan, si mangga ditemani pohon jambu kristal tanpa biji, anggur hijau dan pepaya. Untuk tanaman selain pepaya, saya membelinya di toko. Untuk pepaya, tumbuh dari biji.

Nah untuk anggur, ini spesial. Tanaman anggur merupakan tanaman yang di-rikues alias atas permintaan si Kaka, anak lelaki kami hehehe. 

Untuk tanaman bunga dan dedaunan, ada lavender, daun ungu, erfa, bambu air dan melati jepang. Tanaman yang disebut terakhir itu merupakan bonus gratis dari pembelian rumput dan media tanam di Arco :)

Hidroponik
Beralih ke lantai dua, coba-coba saya ber-hidroponik sederhana dan melakukan pembibitan untuk sayuran. Yakni, sawi, pakcoy, dan cabe rawit merah.

'Ilmu' hidroponik saya timba dari youtube dan artikel di google. Saya memanfaatkan kaleng cat bekas dan botol air mineral.

Dari botol air mineral, saya buat media tanam yang bisa self watering itu lho. Dengan memanfaatkan guntingan kain kaos, maka bisa membuat air dari bawah merembes ke media tanam. Lebih jelasnya pakai foto ya, nyusul dah fotonya :)

Salam urban farming, mari berkebun :D



Wednesday, September 12, 2018

September

Sampai di bulan September ini, beberapa proyek sedang saya lakukan. Proyek pengadaan lahan untuk apartemen, jual beli buldozer, atau jualan planet?

Proyek rumah saja kok. Nanam rumput gajah mini, nambahin tanaman buah di halaman mungil kami, nambahin adukan semen depan garasi, ngecat list tembok dan beberes rumah sehari-hari.

Nah, yang namanya proyek rumahan. ternyata nagih bener. Setelah selesai yang ini, muncul keinginan untuk nambah lagi yang lain. Bisa karena sejenis alias berurutan atau bener-bener lain daripada sebelumnya.

Seperti minggu lalu ketika kelar nanam pohon mangga chokanan, eh pengen nanam pepaya. Lalu lanjut anggur karena si Kaka meminta ditanamin tanaman rambat itu. Lha ini juga masih ada yang belum dipenuhi: nyari pohon apel hehehe.

Terus, setelah urusan nanam-nanam di halaman depan, maunya nerusin ke lantai 2: bikin tanaman sayur pakai hidroponik sederhana atau pakai cara biasa dengan memanfaatkan kaleng cat bekas.

Jadilah menebar benih sawi, pakcoy dan cabai rawit minggu lalu. Sekarang ketiganya sudah spread, sudah pecah kecambahnya. Bahkan tadi pagi, bakal daunnya sudah makin mengembang. Alhamdulillah :)

Kembali ke depan, barisan tanaman juga nambah lagi dengan daun ungu. Sebelumnya sudah ada tanaman hias brokoli, melati jepang, lavender, bambu air dan erfa. Sedangkan tanaman buah, selain mangga, pepaya dan anggur, ada pula jambu kristal tanpa biji sebagai tanaman pertama di rumah Cilebut :)

Salam berkebun dari Bogor. Salam nikmatnya udara sejuk dan pemandangan Gunung Salak :)

Monday, August 27, 2018

Baca buku, harus tuntas atau sebagian?

Ini pertanyaan untuk saya sendiri. Meskipun beberapa kawan juga menanyakan hal serupa.

Hemat saya, untuk novel atau karya sastra serupa, tentu lebih asyik kalau membaca dari awal sampai tuntas. Kecuali kumpulan cerpen dan puisi, bisa loncat-loncat.

Sedangkan untuk buku nonfiksi, selain dari bener-bener sejak halaman pertama, terkadang saya membacanya, ambil contoh "Jurnalistik Indonesia" karya AS Haris Sumadiria, dari pengantar, lalu bab pertama dan kemudian langsung beralih ke bab 5, 7, atau 8 sesuai materi yang saya butuhkan.

Catatannya, untuk membaca yang meloncat seperti ini, saya tetap membaca bagian pengantarnya. Ini berguna agar saya mengenal lebih dulu pembahasan yang disajikan buku terkait. Termasuk pula batasan pembahasan dan latar belakang penulisan buku.

Oya, saya jadi ingat dengan rencana membuat rak buku di ruang kerja di rumah. Koleksi buku sudah saatnya dirapikan dan dikeluarkan dari boks.

Maunya, saya ingin memakai rak kayu. Namun berhubung perlu menyiapkan dana lagi, rencana itu masih perlu menunggu lagi. Kepikiran juga untuk menyegerakan menaruh buku-buku berjajar di dinding.

Opsi lain dari membuat dan memesan rak kayu dari tukang kayu adalah membuat sendiri dengan menggunakan siku besi dan menaruh beberapa lembar papan kayu. Tetapi soal kerapiannya bakal kalah dibanding memakai rak kayu.

Ya, tunggu lagi nantilah. Sembari bersabar hehehe :)

Thursday, August 16, 2018

Sawi saus tiram 15 menit

Minggu-minggu ini, saya mulai belajar masak sendiri. Diajari istri, nyonya rumah alias bundanya Kaka, saya dikasih tutorial masak menu guampang: sawi saus tiram.

Cuma butuh bahan wajib yakni bawang putih, sawi putih atau hijau, saos tiram, air setengah gelas, dan garam, ditambah pula kalau mau royco sapi. Lalu ada pula tomat tapi opsional saja. 

Pertama, goreng irisan atau geprekan bawang putih sampai harum wangi-wangi sedap. Lalu masukan air setengah gelas, masukkan sawi yang sudah diiris-iris. Jangan utuh, itu mah buat makanan kambing. Kelinci aja maunya sawi diirisin dulu :)

Tabur garam dikira-kiralah. Lanjut royco dan saus tiram. Masukkan belahan tomat terakhir saja karena buah ini gampang lumer. Eh tomat itu buah atau sayur yo? :D

Oya apinya sedang saja. Lalu, tunggu sampai sawinya rada layu. Jadilah sawi saos tiram. Hanya butuh waktu 10-15 menit termasuk nyiapin bahan. 

Untuk lauk, bisa nggoreng telur ceplok atau didadarin. Beres! :)

Foto? ntar nyusul lah kalau bebikinan lagi +_+

Tuesday, July 31, 2018

Belajar Lari, Teknik Hip Power


Pagi tadi, jalur lari pagi di dalam kompleks. Tracknya jalan beton dan muter bolak-balik kayak gangsingan.
Membosankan? Iya banget.

Tapi, memang sengaja untuk tidak keluar alias tidak ambil jalur jalanan luar yang tentunya lebih variatif. Pemandangan dan konturnya beragam, plus godaan iman berupa aroma nasi uduk dan ayam kecap yang lagi dibakar di arang membara :)

Jalur seperti kompleks atau stadion, meski mbosenin, terhitung tepat untuk kita yang memang lagi ambil agenda memperbaiki teknik lari, postur ideal, koordinasi ayunan tangan, langkah kaki dan disiplin teknik napas.

Pagi tadi, "kurikulum" yang saya ambil fokus pada teknik hip power.

Lari dengan mengoptimalkan rotasi pinggul yang bermanfaat menghemat tenaga, memaksimalkan dorongan gravitasi dan ayunan alamiah serta memastikan ayunan tumit ke belakang-atas dan bukannya mengangkat lutut ke depan.

Konon, jika konsisten, ini akan memacu lari lebih cepat namun stabil dan tidak cepat lelah atawa hemat energi sekelas Euro 4 :D

Lumayan, sambil menyelesaikan kelas pagi, kelar juga lari 8++ km. Semoga lain hari lebih baik lagi. Yah namanya juga masih belajar :)

#hippower #morningrun #justdoit

- Program dan tabel latihan untuk pemula di artikel ini.
- Program lari 5K di postingan yang ini.
- Nah kalau yang ini, tips membuat video yang 'mendokumentasikan' jalur trek lari kita :)

Tuesday, July 17, 2018

Hujan Bulan Juli

Bukan Juni. Ini tentang hujan di bulan berikutnya, Juli.

Hujan sebulanan ini terasa deras. Terlebih udara Bogor yang memang dari sononya lebih sejuk dibanding Jakarta, membuat bulir airnya terasa segar di telapak tangan yang menadahnya.

Angin dari selatan, searah rumah saya menghadap juga menambah nuansa basah. Syukurlah, hujan turut membersihkan debu sekitar rumah.

Dan tentunya pula memasok air untuk pohon pucuk merah dan ketapang kencana yang ditanam di depan rumah. Tanaman erfa juga bakal semakin lebat daun-daunnya.

Derasnya hujan juga mengingatkan saya pada rencana menaburkan batu koral di depan teras. Tepat pada titik jatuhnya air tirisan atap.

Selain itu, ingin pula menanam rumput. Mungkin gajah mini yang perawatannya mudah atau bisa pula jenis rumput jepang dan swiss, asalkan siap-siap dengan karakter 'manjanya'. Kedua rumput itu perlu dirawat dengan pemangkasan karena bisa rada gondrong.

Sementara, gajah mini lebih sederhana. Rumput jenis ini tumbuh sejajar tanah. Kita tinggal rajin-rajin mencabuti gulma dan rumput liar, pasti akan tetap rapi.

Thursday, June 21, 2018

Karena Iklan Kecap

Dari sekian banyak pilihan merek kecap, pilihan saya hanya ada dua yakni kalau nggak ABC ya Bango.

Menurut saya, ABC, cenderung pas untuk dicocolkan pada masakan sayur dan nasi goreng. Sedangkan untuk Bango, entah mengapa, saya lebih menyukainya untuk dicucurkan di atas sate ayam dan sate kambing.

Soal rasa, saya susah membandingkannya. Keduanya manis. Yaiyalah namanya juga kecap :D

Mengapa saya mengidentikkan Bango sebagai kecapnya sate, sepertinya karena imaji iklan lawas Bango yang dipakai para pedagang sate masih kuat mengendap di memori.

Begitu iklan ABC, yang saya ingat adalah adegan mamah-mamah muda menuangkan kecap pada sayur sop atau apalah yang masih mengepul di atas kompor. Jadilah yang memiliki dua kecap favorit untuk penggunaan yang berbeda.

Salam kecap nomer satu! :D

Saturday, June 9, 2018

Botani Square

Pekan lalu menjadi kali pertama main ke mal Botani Square di Kota Bogor. Pusat keramaian ini ada di dekat Baranangsiang, adu pojok dengan Kebun Raya.

Sejatinya, saya dan istri pernah mencoba nongkrong di sini sebelumnya. Tapi 'gagal' karena keburu kelamaan mencari parkiran yang kosong.

Kemudian ke sini lagi dan dapat memarkir di basement. Itupun sebelah sonoan, kayaknya paling pinggir. Yeah, Botani Square memang selalu ramai. Yang belanja maupun yang mau nguliner.

Kali ini, kami bisa bertiga bareng Kaka. Jadi, setelah makan di footcourt (lantai berapa lupa), lalu lanjut ke Gramedia mencari buku resep masakan dan buku untuk si kecil.

Pulangnya sudah malam dan langsung kembali ke rumah. Esok hari, mungkin lokasi asyik Bogor lainnya akan kami jelajahi :)

Thursday, May 31, 2018

Pertama

Berselancar jari di gerbong KRL Cilebut ke Gondangdia, layar Oppo  memampangkan laman artikel ini.

--- Membaca Politik China di Afrika. Menjadi kepala halaman Opini, harian Koran SINDO, tepatnya di halaman tujuh hari Rabu ini 30 Mei 2018. ---

Segera aku berkabar kepada kuncen LIPI lantai 8, ternyata kau lagi "njajah desa milang kori", bak raja Jawa lagi sidak, ini kali ke Lamongan. Ngakunya riset. Bisa jadi nengok yang muda :D :P

Tak ngabari yo, unek-unek lisan yang kau paparkan sambil ngopi di Cilebut sana, hari ini menjadi abadi di atas kertas koran terbitan Kebon Sirih.

Ini yang pertama, katamu.
Baiklah, aku tunggu yang berikutnya.

Teruslah berkarya, Bung!

Mungkin esok lusa giliran tentang geliat pedagang rantau, kabar budaya  saudara-saudara kita di Baduy, telisik soal tradisi halal bihalal, atau juga kau ceritakan tentang negeri utara: bagaimana wajah agama dan spiritual di Korea Selatan, bisa pula tuturkan tentang muslim di China sana.

Aku tunggu :D

http://koran-sindo.com/page/news/2018-05-30/1/2/Membaca_Politik_China_di_Afrika


Sunday, May 13, 2018

Idealkah berlari 3 kali seminggu?

Nah ini dia :)

Saya sepakat dengan artikel Runner ID ini. Sekaligus memantapkan apa yang sudah dilakukan selama ini.

Terlebih pada paragraf 6.

Sampai kini, frekwensi lari saya kisaran 3-4 kali seminggu. Tidak atau belum perlu lebih.

Dan di antaranya, saya sisipkan cross training. Lazimnya saya melakukannya dengan circuit training, istilah lainnya bisa disebut circuit training, tabata atau HIIT high intensif interval training.

Bagus juga seperti kawan-kawan baik saya yang mengambil menu cross training berupa bersepeda, renang, yoga, freeletic, futsal, badminton dan lain-lain.

Pun begitu dengan menu latihan lari. Saya kombinasikan untuk memenuhi porsi:

1) speedwork berupa IR atau interval running di hari biasa,
2) berlatih kecepatan yang masih bisa diakomodir dengan varian IR/ tempo run, juga di hari biasa.
3) lalu longrun di akhir pekan.

Apa fungsi ketiganya?
- IR untuk membentuk endurance
- kecepatan untuk mendongkrak kekuatan
- longrun, anggap saja kesempatan memanen hasil speedwork sebelumnya. Juga ajang memperbaiki teknik dan sarana rekreatif. Dan tentunya menguji level endurance :)

Meski kadang bergeser-geser, jadwal lari saya seperti ini:
- selasa IR
- kamis IR atau main speed
- jumat CT meskipun tidak selalu saban pekan.
- minggu longrun.

Oya saya memang secara sadar tidak memilih berlari dan berolah raga setiap hari. Saya menetapkan, harus ada rest day di antara hari latihan. Maksimal olah raga yang berturut-turut adalah 2 hari, lalu harus ambil 1 hari off.

Run safely, percayalah pada proses. Ikhlaskan bahwa yang instan-instan hanyalah Indomie :D

- Panduan program dan tabel latihan lari untuk pemula dengan metode interval running

- Program dan tabel latihan untuk pemula di artikel ini.
- Program lari 5K di postingan yang ini.
- Nah kalau yang ini, tips membuat video yang 'mendokumentasikan' jalur trek lari kita :)

Saturday, May 12, 2018

Ramadan di Bulan Mei

Bulan ini bulan bertemu kembali dengan yang saya rindukan: ramadan.

Kembali lagi masa-masa bangun dini hari untuk bersiap sahur (sambil mengantuk), menunggu imsak (masih ngantuk) dan salat subuh (masih menahan kantuk) :)

Lalu bangun rada siang dan berangkat kerja. Ketika sampai pukul 5 sore, mulai menghitung mundur: menunggu adzan maghrib.

Malamnya salat tarawih. Sendirian. Juga menyempatkan ke masjid. Lalu berulang lagi perputarannya: bangun dini hari dan seterusnya.

Ramadan di bulan Mei.
Semoga diberi kesehatan dan kekhusyukan, aamiin :)

- Program dan tabel latihan untuk pemula di artikel ini.
- Program lari 5K di postingan yang ini.
- Nah kalau yang ini, tips membuat video yang 'mendokumentasikan' jalur trek lari kita :)

Sunday, April 29, 2018

Lari Jelang Puasa Ramadan

Source


Bulan puasa ramadan tinggal menghitung minggu, kira-kira pertengahan bulan Mei mendatang.

Biasanya, saya mengurangi frekwensi lelarian selama puasa meski saya sempatkan usai tarawih atau saya ganti dengan circuit training.

Nah, di minggu-minggu ini saya sempatkan untuk rada menaikkan durasi lari. Jika biasanya di hari biasa lari 30 menit, saya tambah dikit jadinya 40 menit. Ini setara 4 km.

Pada akhir pekan, yakni Sabtu atau Minggu, saya ambil longrun tipis-tipis. Durasinya sekira 50-60 menit atau 5 km ke atas.

Pengennya, satu minggu sebelum ramadan, saya ingin berlari 10K. Trek larinya sekitar rumah saja di Bogor, pagi-pagi sambil mengintip puncak gunung Salak dan dibuntuti mentari yang bangun :)

Oya, minggu-minggu ini saya juga makin termotivasi berlari. Pendorongnya adalah dua kawan saya barusan mengabarkan keberhasilan 'wisuda' lari 5K dan 10K.

Mereka menggunakan program interval-running dan tabel latihan yang pernah saya share yang kemudian berlanjut ke diskusi via WA. Alhamdulillah, berkesempatan berbagi semangat olah raga lari :)

- Program dan tabel latihan untuk pemula di artikel ini.
- Program lari 5K di postingan yang ini.
- Nah kalau yang ini, tips membuat video yang 'mendokumentasikan' jalur trek lari kita :)

Salam #marilari

Friday, April 27, 2018

Jalur rempah

Pulau Gunung Api Banda

Di salah satu lipatan Indonesia ini, saya kembali bersyukur berkesempatan menyesap agung dan moleknya nusantara.

Molek alamnya, agung jejak sejarahnya.

Dan, dari sekian perjalanan, terlebih saat melempar pandangan dari udara dan laut, tak jarang saya terkesiap karena seolah diingatkan untuk merawat harapan dan optimisme negeri ini.

Bukan sekali dua kali pula, tergerak bersenandung sepenggal gubahan Ibu Sud, 'Tanah Airku': ... Biarpun saya pergi jauh. Tidak kan hilang dari kalbu...

Dari Banda, saya akhirnya sampai pula ke Tual dan mencicipi masakan laut di sana. Tual merupakan  kota maritim dan industri perikanan.

Menyeberang dari Tual pada keesokan harinya, bersama seorang kawan lantas melancong ke gugusan pulau karang, Pulau Bair dan menikmati pantai Pasir Panjang, Nglur Boat.

= Pulau Gunung Api Banda =
Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku.
Tiga hari berlayar dari Ambon dengan KRI Surabaya 591 :)

Sunday, April 22, 2018

Permen Karet dan Via Vallen

Menjelang bulan Ramadan yang mulai pertengahan bulan depan, sayanya malah langsung teringat dengan momen lebaran :). Kudunya kan ingat ramadan ya idealnya ingetnya ibadah puasanya, tarawehnya, subuhannya dan lain-lain kan yak? :)

Ya begitulah. Saya ingatnya malah perayaan pascaramadan. Dan soal ramadan, saya langsung ingat mudik dan perjalanan nengok kampung.

Nah, soal jalan ke udik, saya biasanya mempersiapkan bekal yang salah satunya eh salah duanya adalah camilan dan playlist lagu MP3 di flashdisk untuk menemani perjalanan.

Untuk camilan, sejatinya ini bukan untuk mengisi perut karena biasanya saya dan keluarga sudah menetapkan sarapan sebagai SOP :). Camilan lebih sebagai upaya mengakali agar tidak cepat ngantuk atau menahan kantuk.

Meskipun begitu, tidak berarti saya melawan kantuk lho ya. Karena demi keamanan berkendara, 'obat ngantuk' yang paling utama adalah ya tidur cukup sebelum nyopir dan jika di tengah perjalanan berasa ngantuk berat, ya harus disempatkan tidur. Sepuluh menit, 20 menit, 30 menit cukup untuk mengembalikan kebugaran. Pokoknya, ngantuk (berat) jangan dilawan.

Nah gunanya camilan mah untuk level ngantuk yang masih 'bercanda', ngantuk tipis-tipis. Itung-itung bikin mulut sibuk ngunyah.

Camilan pilihan adalah kacang pilus, keripik tempe, keripik singkong dan juga permen karet. Khusus untuk permen, saya cocoknya permen karet dan bukan permen yang dihisap-hisap kayak Kopiko atau lainnya. Kudu permen karet karena bikin sibuk ngunyah.

***
Kalau untuk lagu, biasanya saya sudah hunting lagu-lagu favorit. Belakangan ini, playlist nomor satu saya adalah lagu-lagunya Via Vallen, juga Nella Kharisma. Juga lagunya NDX AKA dan Pendhoza :) Seperti Tokyo Nganjuk, Ra Kuat Mbok, Juragan Empang, Kelingan Mantan, Terminal Giwangan, Aku Cah Kerjo dan tentunya, Sayang :)

Lagu lainnya mah standar di perjalanan kayak lagu Indonesia yang hits mulai 2017-2018, lagu barat, RnB dan house mix :)




Sunday, April 15, 2018

New Balance atau League

Saya punya beberapa sepatu, termasuk sepatu lari. Untuk yang ini, yang paling sering saya pakai hanya dua: New Balance dan League.

Keduanya sama-sama ukuran 42 1/2. Bedanya, yang pertama biru navy dan yang kedua merah.

Meski sesama sepatu lari, tapi saya lebih menyukai League untuk lelarian. Sementara NB lebih sering menemani jalan-jalan dan ke kantor.

Ini lantaran League lebih empuk dibanding NB. Paling terasa pada sol bawah. NB terasa sekali lebih keras. League punya efek bouncing sehingga "membantu" saat kaki menjejak trek.

Selain itu, tali League lebih mengunci dan tidak gampang lepas. Beda sekali dengan tali NB yang sering buyar :/

Sunday, April 1, 2018

Kereta Bogor


Malam ini seperi kemarin, pulang berkereta pukul 10 malam. 

Setelah melewatkan satu kereta untuk berharap kereta selanjutnya lebih lega dan mendapat tempat duduk. Eladalah, lega sih iya tapi tetap tidak dapat kursi. 

Alih-alih keluyuran di Instagram atau Facebook, saya memilih ngeblog. Diawali dengan satu dua jepretan, lalu lanjut dengan deretan kalimat. 

Tentang apa ya? Gampang, tentang kereta saja. 

Sambil kedua telinga dibisiki Via Vallen bareng Cak Rul yang merajuk dengan 'Tokyo Nganjuk', jadilah satu artikel. 

Pada ujungnya, saya baru ingat: ini memangnya lagi menulis soal apa to? Oiya, soal membunuh waktu pada penggalan antara stasiun Gondangdia dan Cilebut. :)

Saturday, March 17, 2018

Libur


Hari minggu besok, tepat satu pekan saya vakum berlari pagi. Masalah pencernaan enam hari kemarin masih menyisakan begah dan rasa 'kagak enak'.

Padahal trek depan rumah hingga belakang sana sangat nyaman untuk lari thimik-thimik, interval running, hingga tempo run.

Bahkan ada beberapa ruas trek lurus 100 meter yang asoy banget buat sprint. Juga tanjakan dengan liukan kanan kiri di ujung kampung.

Mungkin ini waktunya untuk ngaso, bersyukur, merenung dan mengisi hari akhir pekan dengan: umbah-umbah dan ngepel 😀

Stay active, keep on moving. Alhamdulillah 😊

Friday, March 16, 2018

Tocquevillian: Komunitas dan Rasa Aman

Fenomena beberapa individu membentuk komunitas sejatinya sudah ada sejak zaman old. Namun, saya baru ngeh belakangan ini. Mungkin karena jenis kelompok dan unsur kesamaan yang membentuk kelompok lumayan dekat dengan saya, minimal saya menjadi pengguna jasa mereka.

Apa itu? Komunitas pengojek daring alias ojek online berdasar wilayah atau lebih spesifik lagi berdasar kesamaan tempat tongkrongan atau pangkalan.

Grab Puri Kembangan (Gepruk), Komunitas Gojek Monas (KGM), Cijantung Uber Community (CU-Com), Paguyuban Ojek Online Palmerah dan lain-lain adalah sebagian dari komunitas atau kelompok yang terbentuk karena kesamaan profesi dan titik lokasi.

Lantas, apakah mereka dibentuk (atau terbentuk) karena kesamaan identitas? Di permukaan, memang iya.

Di sisi lain, jika kita coba perluas lagi, kita bisa meminjam pendekatan sosiologis. Kelompok dan komunitas itu dapat disebut termasuk perilaku sosial Tocquevillian.

Istilah ini dipahami untuk menunjuk kepada lahirnya suatu asosiasi untuk memberi proteksi, rasa aman dan lebih jauh lagi mendorong kemandirian. Baik kemandirian posisi tawar maupun independensi terhadap kelompok lain maupun terhadap struktur di atasnya, misalnya pihak manajemen ojen online.

Sementara, 'kelompok lain' bisa jadi pengemudi ojek konvensional alias pangkalan. Bisa juga aparat dan kelompok informal lain: preman kampung setempat hehehe.

Wajar, jika saya coba meraba-raba dan berada di posisi mereka: bergabung dalam komunitas ojek online memberi rasa aman dan juga solidaritas. Ada rasa bahwa 'ada kawan-kawan yang selalu ada dan siaga membantuku."

Simbol
Berkomunitas juga mememerlukan simbol atau penanda identitas. Yakni, stiker yang tertempel di batok lampu depan, sayap motor samping, sepatbor depan maupun belakang.

Posisinya bisa di mana saja asalkan mudah terbaca. Namanya juga penanda identitas, layaknya pin nama di dada atau baju kerja.

Di luar ojek online, kecenderungan Tocquevillian juga dapat kita temui di klub atau komunitas lainnya. Ambil contoh klub otomotif, komunitas penghobi burung, mancing maupun paguyuban warga komplek perumahan tertentu :)

Untuk yang terakhir, selain sebagai identitas, juga memudahkan staf keamanan/satpam/ security kompleks mengenali dan mengidentifikasi lalu lalang kendaraan yang keluar masuk portal gerbang kompleks. Lagi-lagi, paguyuban dan komunitas bertujuan untuk 'menjamin' rasa aman :)


Wednesday, March 14, 2018

Tsingtao Beer: Menyesap bir Tiongkok di Tanah Kelahirannya


Perjalanan ke Qingdao beberapa waktu lalu lumayan panjang. Saya menyambangi beberapa pabrik produsen televisi, handphone, peralatan rumah tangga, dan juga pabrik otomotif produsen mobil Wuling, serta ke obyek wisata.

Dan, tentu saja mencicipi kuliner khas kota di Tiongkok atau China timur itu.

Salah satunya ialah bir Tsingtao.

Ada banyak referensi tentang sejarah dan perjalanan produksi bir ini. Bertebaran di Google.

Saat berkunjung ke sana, bir ini menjadi minuman kebanggaan tuan rumah, semacam Kadin atau asosiasi pengusaha.

Setelah sekian banyak urutan makanan pembuka dan makanan utama hingga penutup, lantas ujungnya adalah dituangkannya bir ini ke gelas kami.

"Bottom up, bottom up, bottom uuppp...!" teriak mereka menyemangati kami untuk menenggak hingga tandas. Ungkapan itu berarti agar kita menghabiskan bir di gelas tanpa sisa. Lalu, kawan sebelah akan menuangkan porsi kedua hehehe.

Ke Qingdao, angkat sekali lagi gelasmu kawan ( -- meminjam sepenggal bait 'Di Sayidan'nya Shaggy Dog -- ) :) :D

Sunday, March 11, 2018

Ketika saya berlari...

Olah raga lari telah menjadi kegiatan yang saya sukai. Secara umum, sudah jelas manfaatnya bagi kesehatan, pun begitu untuk menyegarkan pikiran dan mood alias suasana hati.

Dengan kata lain, lari menjadi salah satu sarana rekreasi saya. Selain makan dan jalan-jalan.

Saat berlari, saya menyukai melihat pemandangan di jalur lelarian. Tidak hanya alam tapi juga apapun yang ada di kanan kiri trek.

Meskipun yang saya sukai adalah pepohonan namun saya juga melihat di sisi jalur. Apapun itu.

Kucing yang lagi mandi matahari, ayam jantan yang nangkring di pagar, emak-emak (muda) yang lagi menyuapi baby, bapak-bapak yang lagi nyuci mobil dan lain-lain. Dan tentunya juga langit biru.

Indera dengar juga saya manjakan dengan memasang earphone tersambung ke HP. Lagu-lagu terbarunya Ed Sheeran, Rihanna, Ariana Grande menjadi favorit saya.

Jika butuh selingan, misalnya pada menit ke-30an, kadang saya sengaja melepas eaephone untuk mendengarkan suara alam. Desiran angin dan nyanyian daun-daun rumpum bambu.

Kala berlari, saya juga suka menyesap aroma khas pagi hari. Segarnya uap pagi, daun dan tanah basah sehabis hujan semalam.

Di lintasan yang dihimpit rumput tinggi atau cemara, saya juga sering iseng menyentuh daun dan batang muda pepohonan.

Juga aroma nasi uduk dan bakaran batok kelapa uda pemilik nasi padang bersiap membakar ikan atau ayam dagangannya. Maklum, jalur lari saya bukan stadion tapi trek kampung :)

Ketika jogging baik pagi maupun sore, saya juga suka sengaja menyapa sesama pelari meskipun belum atau bahkan tidak kenal.

Sekadar mengucap, 'mari Pak' atau 'lari omm?' menjadi ikhtiar untuk tetap menjadi manusia sosial dan waras yang bersilaturahmi, dan bukan pelari yang mengasingkan diri dari lingkungannya.

:)


Wednesday, March 7, 2018

Buku dan blog

"Suka menulis di blog, ojo lali membaca buku."

Itu pesan untuk saya sendiri siang ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dari Bogor, naik kereta. 

Begitu juga, sering browsing dan keluyuran di wall Facebook kala membunuh waktu, sempatkan pula membaca buku. 

Hari ini saya memilih buku berwarna putih berjudul "Mengenal Ilmu Politik" karya Ikhsan Darmawan. 

Buku, bagi saya, ketika banjir informasi seperti sekarang ini - dari internet, media sosial, grup WA - menjadi wahana untuk menyegarkan pikiran. 

Sekaligus pula, memperluas sudut pandang dan tentunya memperdalam ilmu. 

Membaca buku juga ikhtiar tetap menjadi manusia :)

Monday, March 5, 2018

Bogor

Dulu, saya mengenal kata "Bogor" sebagai sebuah kota di Jawa Barat yang identik dengan hujan, kebun raya dan asinan.

Itu saya ketahui ya hanya dari buku pelajaran geografi dan pengetahuan umum. Di luar itu, kota itu identik dengan Istana Bogor.

Sejurus dengan informasi yang makin marak di zaman internet, hal-hal lain terkait Bogor semakin memperkaya saya. Bogor adalah ujung dari jaringan kereta commuter line dari Jakarta, Depok, Citayam, Cilebut dan berakhir di kota tersebut.

Soal kuliner juga makin banyak yang saya tahu. Selain asinan, koleksi makanan Bogor juga bejibun: karedok, bakso, cemilan dan lain-lain. Soal bakso misalnya, sepertinya sama dengan bakso dari daerah lain namun menurut saya tetap beda lantaran hawa yang lebih sejuk dibanding daerah lain. Meskipun kala terik, Bogor ya bisa berasa panas hehehe

Kini, setelah saya pindah ke Bogor, tepatnya sih di Cilebut yang masuk di Kabupaten Bogor, semakin banyak pula "knowledge" saya tentang daerah tempat tinggal saya.

Satu tempat yang saya susuri ialah sentra tanaman hias, kebun bibit buah dan tanaman taman lainnya.

Akhir pekan pertama, saya ngeluyur ke arah Taman Bilabong hingga Jalan Kemang atau Jalan Baru yang tembus ke Jalan Raya Parung-Bogor. Mampir di toko bibit, saya pulang dengan menenteng pohon jambu kristal yang buahnya tanpa biji.

Di rumah, bibit setinggi 30an cm itu menemani empat pucuk bibit pohon pucuk merah yang saya boyong dari sentra tanaman hias di Rawabelong, Jakarta Barat. Jauh ye hehehe, itu saya beli pas pindahan bulan lalu.

Harga bibit pohon jambu Rp 30 ribu (saya tawar dari harga semula Rp 35ribu), sedangkan pucuk merah @ Rp20 ribu.

Bogor juga banyak terdapat tukang kayu yang menerima pesanan kusen, pintu, meja, kursi, kitchen set dan perabotan lainnya. Di sini banyak pula bengkel las besi, ini mungkin seiring semakin banyaknya perumahan di Bogor Raya: Kota dan Kabupaten Bogor.

Jangan tanya soal mal dan pusat perbelanjaan, di Kota Hujan ini berderet mal-mal baru. Paling ikonik tentu Botani Square, juga Lippo Mal. Juga BTM yang dekat dengan pintu utama Kebun Raya.

Sedangkan di Cibinong - ibukota Kabupaten Bogor, terdapat Cibinong City Mall dan lain-lain.

Satu jenis spot wisata incaran saya - dan yang saya sukai - adalah spot wisata alam. Untuk yang ini, Bogor punya koleksi buanyak. Sejurus empat penjuru angin, Bogor punya beragam wisata natural. Puncak dan Taman Safari adalah ikon utama, lalu Jungle Land dan beragam waterpark seantero Bogor Raya. Juga Pasar AhPoong di Sentul City.

Paling gampang, mencari alternatif wisata alam adalah dengan googling atau mengintip ke web wisata dan travelling :)

Saya sendiri, juga mulai mengincar beberapa spot wisata alam yang bakal saya dan keluarga mau sambangi. Meskipun belum bikin list, sepertinya incaran pertama adalah Pasar AhPoong, waterpark dan playground.

Satu lagi, jejalanan di Bogor terutama dekat rumah, juga pas menjadi trek lari pagi atau sore :)

Saturday, February 17, 2018

Tembakau

Yang segera melintas di ingatan saya tentang tembakau adalah kokohnya Gunung Sumbing di Temanggung.

Di hamparan daratan dari kaki dan punggungnya, tanaman tembakau dibudidayakan para petani.

Pemandangan tanaman tembakau, dedaunan hijaunya dan aroma pupuk menyergap ingatan saya. Ya, ingatan tentang tembakai memang tertanam sejak saya belia, sejak usia SD ketika sering diajak Ibunda menengok nenek di Temanggung.

Dari pinggiran desa Jampirejo, dari pematang sawah, dari tepi selokan, saya suka menyapu hamparan kebun tembakau dari hadapan saya hingga nun jauh di punggung gunung.

Pandangan saya berujung di puncak Sumbing yang kadang kala tertutup kabut dan jika beruntung terlihat puncak yang agung di ketinggian sana.

Ketika jalan-jalan di jalur-jalur persawahan, saya kadang meraba permukaan daun tembakau. Ada perasaan tenang di hati, mungkin mencoba menyesap ketelatenan para petani menanam emas hijau ini.

Begitu juga ketika bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2007, saya mendaki Sumbing bersama kawan kuliah, kembali saya menikmati lekat-lekat hamparan tanaman tembakau. Meskipun bukan perokok super aktif, saya merasakan bagaimana ribuan bahkan jutaan saudara-saudara petani Temanggung mengharapkan berkahNya dari tanaman ini.

:)


Sunday, February 4, 2018

Belanja Online

Belakangan ini, tepatnya sudah sekira setahun ini, saya semakin sering membeli barang dari secara online.

Dimulai dari membeli jam tangan dari 'Jual-Beli' di Kaskus, berlanjut hingga di zaman now yang makin marak dengan beragamnya marketplace.

Hingga kini, saya baru berbelanja dari dua marketplace: kalau nggak Tokopedia ya Bukalapak.

Soal harga adalah pertimbangan utama saya untuk membeli barang dari layanan ini. Pengalaman nih, saya pernah mendapatkan jam tangan Casio (spek biasalah, bukan G-Shock dkk) seharga Rp260an ribu ketika banderol di toko riil masih mencapai Rp 400 ribu.

Begitu juga dengan jemuran baju, di toko beneran saya dikasih harga Rp 350-450ribu dan ketika menengok ke Tokopedia, barang yang sama seharga Rp 265ribu. Ditambah ongkos kirim pun, harga total Rp 285 ribu, diantar sampai rumah hehehe. Ya pasti saya milih yang murah lah.

Namun tidak semua barang saya beli dari marketplace. Prinsip saya: barang yang wearable seperti pakaian dan sepatu, anti bagi saya untuk beli dari MP. 

Ini karena standar ukuran bisa macem-macem je, apalagi sudah banyak cerita kawan yang beli dari MP ternyata kecewa karena size-nya nggak tepat.

Satu lagi, meskipun sejatinya jarang belanja dari MP, keberadaan aplikasi Tokopedia dll juga menjadi sarana 'hiburan' buat saya. Apa itu? ya menjadi wahana window shopping. 

Pas nunggu kereta atau kerjaan, lihat-lihat barang di marketplace. Apakah ujung-ujungnya beli, lebih sering nggak. Sekadar tahu saja, oh ada ya barang kek gini. :)

Sunday, January 28, 2018

Silaturahmi

Ketemuan tanpa urusan.

Tinggal di Jakarta, menurut saya sih, menyimpan potensi risiko terasing dari sekitar. Kehidupan (bisa jadi) hanya berkutat di ranah pekerjaan. Hubungan personal yang berputar dengan rekan kerja yang sehari-harinya sudah menyoal pekerjaan.

Ini saya sadari dengan hati-hati. Saya sendiri bertekad saya kudu punya atau menjalin kehidupan sosial yang sehat. Sehat dalam arti wajar, atau seperti halnya kehidupan sehari-hari di Jogja atau pada umumnya lah. Yakni: silaturahmi dan berbincang-bincang tentang apapun.

Ketika tinggal di Rawabelong, Jakarta Barat, saya usahakan untuk menyambangi tetangga di akhir pekan untuk ngobrol rada lama. Segelas teh dan kopi menjadi teman berbincang.

Atau, pagi sebelum berangkat maupun petang sepulang kerja sekadar menyapa, 'piye kabare?' atau 'ngopi dulu lah'. Apapun bisa diobrolin meskipun saya sendiri berusaha untuk tidak (terlalu) banyak membicarakan orang alian nggosip. Maunya sih hahahahaaaaa.

Ketika tinggal di Cilebut, Bogor - saya pindahan akhir Januari ini - saya juga bertekad untuk menyempatkan mengunjungi kawan-kawan yang tinggal di seputaran Bogor. Silaturahmi, menanyakan kabar, ngobrol tentang yang kemarin, kini dan esok #ealahhh

Semangat 'ketemuan tanpa urusan' menjadi pendorong saya untuk menyapa tetangga dan kawan-kawan. Ini karena, saya pikir, silaturahmi adalah hal yang sehat dan perlu serta bahkan dibutuhkan.

Saya sendiri dan kita sebaiknya tidak perlu untuk menunggu adanya momentum urusan tertentu dan keperluan spesifik untuk bersilaturahmi. Just do it saja, demi menjaga kodrat sebagai manusia dan mahluk sosial hehehe

Salam :)




Wednesday, January 3, 2018

Perjalanan

Sudah lama saya tidak meniti perjalanan keluar kota. Berganti pekerjaan membuat saya tidak lagi berkesempatan ngeluyur ke lipatan-lipatan Indonesia.

Alih-alih ingin bepergian, hal ini justru mendorong saya untuk menggarap 'PR' yang belum saya garap. Yakni, menulis catatan dari tiap perjalanan yang saya susuri kemarin-kemarin.

Sayang rasanya jika pengalaman kesana kemari hanya diparkir di status Facebook dan Instagram, yang lebih untuk pamer #eh. Kok keliatan jujur banget yak hahahaaaa

Mulai dari mana ya? Saya bakal mulai dari yang ringan-ringan saja (lha emang ada jalan-jalan yang berat? ealah)

Sejatinya, sebagian besar perjalanan kemarin adalah perjalanan dinas tapi nantinya saya akan mengolahnya dengan ringan saja. Ditambah tentunya dengan unggahan foto-foto terkait agar lebih hidup.

Salam menulis dan blogging :)