Tuesday, August 22, 2017

Pengalaman Menaikkan Berat Badan Tanpa Obat Tanpa Suplemen

Dulu saya pernah kurus, berat badan hanya 43 kg padahal berat badan ideal ialah 60-62 kg. Defisit hampir 20 kg. Berat segitu ya terbilang cungkring. Keluhan saya, akibat terlalu kurus ialah mudah letih dan gampang sakit. Untuk itu, saya cari cara bagaimana bisa naik berat badan secara alami.

Waktu itu zaman masih kuliah, segera saya mencari referensi di internet, majalah dan nanya-nanya. Dapatnya beberapa pilihan seperti minum obat, herbal, suplemen makanan, makanan tambahan dan akupuntur.

Semuanya saya tepis. Untuk obat, saya ragu karena mempertimbangkan kemungkinan efek samping. Minum obat herbal begitu juga. Kalau mengonsumsi suplemen dan makanan tambahan, kendalanya kantong tipis hehehe. Harga produk suplemen tahu sendiri kan... mahal. Baik yang berbentuk susu bubuk, susu cair maupun ekstrak makanan.

"Perburuan" saya akhirnya berakhir di sebuah artikel di majalah. Sejatinya, artikel itu tidak membahas secara langsung cara menaikkan berat badan, melainkan berbicara tentang asupan karbohidrat dan kebutuhan kalori. Baik, saya sarikan kembali menggunakan bahasa atau kata-kata saya sendiri:

- Intinya, tubuh membutuhkan kalori sebagai sumber tenaga untuk beraktivitas sehari-hari. Sumber kalori berasal dari makanan yang mengandung protein, karbohidrat dan lemak. Idealnya, asupan makanan yang masuk ke tubuh memenuhi kebutuhan tenaga. Gampangnya: yang masuk sama dengan yang keluar. Nah jika ada selisih, maka sisanya akan disimpan sebagai cadangan lemak.

Dengan bahasa yang simpel versi saya, maka untuk menaikkan berat badan, saya perlu memiliki cadangan lemak. Yang berarti, makanan yang masuk ke tubuh saya melebihi kebutuhan tenaga saya. Lebih gampangnya lagi: gimana caranya agar saya bisa makan banyak dan lebih banyak.

- Masalah orang kurus: nafsu makan rendah
Oke, penjelasan awal sudah jelas ya. Tetapi seperti yang saya rasakan, masalah orang kurus adalah rendahnya nafsu makan. Meski laki-laki, saya dulu makan hanya sedikit. Bahkan tiap makan kurang berselera, nasi hanya separo, makan sayur dikit, malah makan daging ayam dan sapi pun hanya secuil-cuil. Jadi ketika ingin makan lebih banyak, ya masalahnya disitu lah... bagaimana mau makan banyak jika nafsu makan minim? Anda yang termasuk korps si kurus juga merasakan kan? hehehe.

- Maka, kita perlu "merekayasa" tubuh agar menjadi lapar dan "rakus". Bagaimana caranya padahal saya ogah minum obat penambah nafsu makan dan kawan-kawannya? Merujuk ke artikel di majalah, yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan fisik berupa olahraga yang nantinya merangsang rasa lapar. Dan, jenis olahraganya tidak sembarang, melainkan yang bersifat anaerobik, contoh konkret adalah melakukan latihan beban. Dan bukan olahraga aerobik seperti lari, sepeda, senam dan lain-lain.

Urutannya begini:
- latihan beban bikin capek dan letih > ketika capek dan letih maka kita lapar > ketika lapar maka kita ingin makan > apalagi jika kita lapar karena beraktivitas fisik yang intens, maka porsi makan kita juga menjadi banyak = inilah yang saya sebut "merakayasa" agar tubuh menjadi lapar :)

Latihan beban yang bagaimana?
Mungkin Anda akan bertanya, apakah mesti latihan beban di gym? boleh, asalkan kantong ada cukup untuk membayar biaya member perbulan yang bisa ratusan ribu saban bulan hehehe.

Jika belum ingin nge-gym karena faktor dana dan karena belum ada waktu, saya beri solusi yang esensinya sama saja. Lagian, saya memang tidak menyarankan latihan beban di gym jika masih bisa melakukan dan mendapatkan hasil yang sama jika berlatih di rumah.

Inti dari latihan beban di sini adalah gerakannya dilakukan pelan, pengulangan sedikit dan menggunakan beban maksimal yang mampu kita angkat.

Pilihan cara:
1. Prinsip wajib: lakukan pemanasan dan peregangan dengan berlari pelan di tempat 2-3 menit dan disusul peregangan ringan terutama di bagian tangah, lengan, bahu dan pinggul.
2. Berlatih beban dengan menggunakan berat tubuh sendiri.
- Push up sebanyak 5x, istirahat 1 menit (ini set pertama). Ulangi lagi (set kedua) dan ulangi hingga jumlah set  4-5 kali.
- jika sudah terbiasa, tambahkan pengulangan push-up menjadi 7-10x tapi pastikan istirahat tetap 1 menit dan jumlah set hingga 5 kali.

3. Tetap lakukan push up dan kombinasikan dengan latihan beban menggunakan alat sederhana, pilihannya begini:
- Beli dumble di toko alat olahraga sekitar rumah, ada juga di Mal. Bebannya 4 kg, 6kg-8 kg. Jangan terpaku pada merek, jika mau yang mahal ya monggo sih. Sebagai gambaran, merek biasa di toko olahraga pinggir jalan harga untuk dumble 4 kg sekitar Rp 50-60 ribu. Makin berat makin lebih mahal.

Tapi saya tidak terlalu mengharuskan beli alat yang berarti mesti ada pengeluaran kan? Untuk itu, ada tips membuat "dumble" memanfaatkan barang bekas di rumah. Begini:

- Ambil 2 botol minum air kemasan 600ml, isi air penuh dan tutup erat-erat. Masing-masing berat botol berisi air itu sekitar 600 gram. Satukan 2 botol tadi dengan isolasi. Jadilah "dumble" seberat 1,2 kg. Buat lagi sehingga Anda punya untuk melatih tangan kanan dan kiri.

Mau nambah berat "dumble"? isi dengan kerikil atau pasir. :)

Berlatihlah terus secara teratur 5kali seminggu, pastikan ada hari-hari istirahat. Jika makin lancar dan kuat push up dan latihan beban, lakukan push up dan angkat dumble sampai Anda tidak dapat mengangkat badan/ tubuh lagi. Itulah yang saya maksud dengan: mengangkat beban maksimal.

Selain push up, ada gerakan lainnya yang memanfaatkan berat badan sendiri (istilahnya: body weight) seperti chair-dip, leg swing, plank dll. Monggo googling untuk tahu pose/gerakannya.


Catatan:
Mungkin ada pertanyaan dari rekan-rekan perempuan: apakah latihan beban bisa bikin otot dan penampilan tubuh seperti lengan menjadi berotot seperti binaragawati?

Saya mahfum dengan pertanyaan ini, wajar kok jika ada yang khawatir otot lengannya "methekol", meminjam istilah jawa hehehe.

Saya pastikan tidak bakal seperti itu karena binaragawati mendapatkan otot begitu ya dengan bantuan obat dan sampai suntik hormon dan tentunya latihan beban extreme. Soal yang ini, silakan googling ya.

Nah kita kan tidak sampai begitu kan. Justru latihan beban ringan ini bikin lengan teman-teman cewek makin kencang dan ramping. Di jamin, tetep proporsional dan tidak sampai bikin tampilannya "ngeri" hehehe. peace.

Demikian tips cara menaikkan berat badan yang bisa kita lakukan tanpa mengonsumsi obat dan suplemen. Berat badan saya naik bertahap, aman dan natural menjadi 45 kg, merambat terus hingga tembus 50 dan bergerak sampai 60 kg.

Dampak positif dari menambah berat dengan olahraga ini adalah kita merasa segar, lebih bugar dan pikiran pun positif. Malah terpacu untuk menambah jenis olahraga seperti lari, renang dan bersepeda.

Salam sehat, salam olahraga :)


Sunday, August 20, 2017

Manado, Klapertart dan Kangen

Kaplertart (inung gunarba)


Menengok isi hardisk laptop, mata saya segera terpaku pada folder 'Manado'. Isinya penuh dengan foto-foto plesiran dan kuliner ketika beberapa kali saya menyambangi kota cantik di Sulawesi Utara itu.

Di sana, saya menyambangi beberapa tempat wisata dan belanja. Tentu saja juga tempat makan. Manado memang kota tujuan wisata yang komplet. Banyak spot wisata alam dan ragam makanannya memanjakan lidah, dari masakan laut, makanan berbahan sayuran hingga kue, termasuk bubur manado.

Nah saya sungguh beruntung ke Manado menyempatkan diri menyantap kue ikonnya Manado: klapertart. Lidahnya saya segera mengecap gurihnya kelapa dan olahan terigu dan bahan lainnya.

Selain makan di tempat, satu kotak klapertart juga saya bawa pulang ke Jakarta, oleh-oleh untuk istri dan anak saya. Meski tidak ikut ke Manado, icip-icip kue enak jangan sampai terlewatkan :)

Untuk urusan makanan laut, tempat-tempat makan yang saya datangi juga istimewa. Meski lupa namanya, di antaranya ada di tepian laut dan di tengah kota.

Pada kesempatan yang lain, saya juga pergi ke kota lain di Sulut yaitu Tomohon dan Bitung. Masakan khasnya juga enak. Paling saya sukai adalah masakan olahan dari sayur, entah apa namanya. Lha wong saya tahunya enak dan enak banget :D

Tak terasa, hampir dua tahun saya tidak lagi jalan-jalan ke Manado. Melihat foto-foto perjalanan membuat saya teringat ramai kotanya, pemandangan teluk Manado dengan latar belakang Pulau Manado Tua dan Bunaken di kejauhan dan jajaran nyiur pohon kelapa di pesisirnya.

Kapan lagi ke Manado ya? :)

Sunday, August 13, 2017

Wajah Segar: media massa, narasumber dan keterbaruan

Image source

Dua hari yang lalu, seorang kawan produser bertanya pada saya dan meminta informasi tentang nomer telepon narsumber. Televisi tempatnya bekerja ingin interview tentang analisis pasar modal.

Seminggu sebelumnya, teman lama saya yang kini menjadi editor di media online juga mengirim pesan Whatsapp serupa. Kantornya ingin menggelar diskusi tentang politik terkini.

Saya sodorin A, mereka bilang 'ada yang lain?' saya kasih B, mereka ogah.

"Wajah anyar! Layar gw butuh penyegaran. Kameramen gw sudah bosen. Reporter gw pengen dolan lebih jauh. Gw maunya wajah segar!"

Ya, saat ini media massa memang membutuhkan wajah-wajah segar para pengamat politik, ekonomi, sosial, budaya, religi, pendidikan, juga psikologi. Mereka ingin panelis/narasumber yang 'tidak itu-itu saja' :)

Wajah segar disini bukan berarti ganteng cakep, cantik lho ye. 'Wajah segar' itu kiasan untuk hadirnya narsum baru yang memberi pilihan alternatif bagi jurnalis :)

Jadi, sekarang saya mau merayu dan memprovokasi rekan-rekan akademisi, periset di lembaga penelitian dan praktisi apapun, please, jika menyukai berbagi ilmu dan gandrung menyumbang pandangan, saat-saat ini rekan-rekan saya produser dan redaktur serta reporter membutuhkan panjenengan. Mumpung masih 2017.

Sunday, August 6, 2017

Relive: cara membuat video tracking lari, sepeda dan trail

video

My track, my adventure :)

Aplikasi relive ini memanjakan kita yang doyan lari, bersepeda dan aktivitas luar ruangan lainnya karena video racikannya menampilkan visualisasi 3D dan pemandangan "mata burung".

Lebih jelasnya, putar saja contoh video lari saya sore tadi. Jaraknya 5K alias lima kilometer di rute perkotaan, Jakarta.

Jika kita berlari lebih jauh dan di trek yang medannya naik turun maka video relive lebih cakep. Penggemar sepeda, lari jarak jauh dan trail running yang bakal lebih kepincut pada aplikasi ini, karena ada visualisasi tingkat ketinggian/elevasi (trek naik turun).

Cara membuatnya mudah:

1. Intinya,  yang kita butuhkan adalah 2 aplikasi untuk diunduh yaitu relive.cc di Google Playstore atau iOS dan aplikasi sport tracker seperti endomondo, strava, garmin dll.

Nantinya, Relive bekerja dengan cara mengolah data trek di aplikasi sport tracker lainnya tersebut.

2. Setelah men-download, lakukan registrasi di Relive seperti biasa.

3. Pilih salah satu sport tracker yang biasa kita pakai. Biasa pakai Strava ya pakai Strava, begitu juga jika doyan endomondo :)

4. Berlarilah seperti biasa ditemani tracker kesayangan, endomondo, strava, garmin dll. Oiya, Relive menetapkan batas jarak minimal. Untuk lari, minimal 3 kilometer dan bersepeda 5 km. Sepertinya ini syarat yang mudah dipenuhi jika kita sudah doyan lari kan ya :)


Saturday, July 29, 2017

Membaca Cerita Lari Haruki Murakami






BUKU bergenre memoar ini menarik perhatian saya bukan hanya lantaran temanya yang bertutur soal lari, olahraga kegemaran saya, namun juga karena judulnya unik, "What I Talk About When I Talk About Running". 

Apa sih maksudnya? 

Awalnya saya menduga, penulis asal Jepang kelahiran 12 Januari 1949 ini menulis tentang uneg-unegnya ketika sedang berlari. Dugaan saya ternyata tak terlalu meleset, paling tidak menurut saya sendiri hehehe. 

Oya saya sebenarnya sudah lama mengidamkan membeli buku setebal 198 ini. Setelah melihat pertama kalinya di Gramedia Citraland Grogol, Jakarta, akhirnya saya mengempit buku ini di toko buku Togamas ketika pulang ke Jogja minggu lalu, 25 Juli 2017. 

Selama empat hari, memoar terbitan Bentang ini menemani saya ketika di ruang depan rumah, kamar, kedai Wikikopi dan akhirnya rampung pada penerbangan Jogja-Jakarta, Jumat malam. 

MENGAPA MEMILIH LARI? 
Haruki sepertinya memahami keinginantahuan saya, juga mungkin pembaca lainnya, apa sih yang ingin ia sampaikan, opo to yang pengen dia ceritakan. Dan juga pertanyaan mengapa dia berlari, apakah dia seorang penulis yang masa mudanya seorang atlet, hobinya lari, atau berlari sebagai terapi karena kondisi kesehatan? 

Tuesday, July 4, 2017

GANYANG SAMPAI AKAR-AKARNYA :D


Kemarin di toko pertukangan dan peralatan berkebun, ada omm-tante yang celingukan nyari cairan pembasmi rumput dan gulma. Sayangnya, stok habis. 

Andai mereka main FB, mungkin baca viralnya racikan omm Najib yang bikin anti rumput dari dapur rumah:

- cuka makan dicampurkan ke air dalam botol penyemprot (pehobi tanaman dan berkebun pasti sudah punya botol penyemprot ginian). 
- lalu tambahkan 3-5 sendok makan sabun cuci piring kek Mama Lemon atau Sunlight, kocok hingga merata dan jadi cairan pekat/rada kental/ lengket.
- semprotkan ke rumput/gulma di halaman/pekarangan. Boleh beberapa hari, pagi oke sore monggo. 
- efeknya bakal kelihatan dalam 5-7 hari kemudian. Rumput yang tak diinginkan keberadaannya akan mengering dan mati. Saatnya mencabuti dan ganyang sampai akar-akarnya :D

Note: kok bisa? omm Najib bilang, cuka punya sifat kayak asam asetat yg "tidak bersahabat" dg banyak tanaman pengganggu. Sedangkan cairan sabun berfungsi melekatkan asam dr cuka tadi ke tanaman. 

#NKRIhargamati #rumputjugaya

Wednesday, May 24, 2017

Lagi: ga semua pelari harus jadi marathoner :)

Ini satu lagi artikel bagus tentang lari. 

Sumpah, ini memang artikel copas. Sumber atau link tersemat di bawah.

Soal copasan, bukan itu intinya. Sebelumnya bahkan saya kumpulkan artikel tentang hal-ihwal tentang mengikuti marathon.

Saya posting di blog karena ini penting bagi saya sebagai pengingat, sebagai inspirasi, sebagai lecutan...

Lecutan penyemangat berlatih lari? Bukan! Justru lecutan untuk menahan ego, menahan ambisi. Sehingga ketika berlatih tetap pakai perencanaan matang.

Kata kawan: berlatih dengan "3 ter-" yaitu terencana, terukur dan teratur.

Saya ogah mengikuti, misalnya marathon 42 km hanya bermodal beberapa kali pernah lari 10 km. Itu nekat dan ngawur. Sontoloyo :D

Dari banyak sumber referensi baik artikel maupun tuturan atlet/pelatih/pehobi, persiapan mengikuti marathon yang jaraknya membentang 42 km ialah minimal 4 bulan. Itupun sebelumnya telah memiliki kemampuan lari yang cukup. 

Tuesday, May 9, 2017

Aplikasi watermark foto LOGO LICIOUS


Watermark atau tanda air sudah familiar bagi penyuka fotografi. Watermark lazim disebut sebagai upaya untuk menandai, mencantumkan identitas dan juga mencegah foto tidak digunakan atau di-copy paste sembarangan.

Meskipun demikian, diskusi perlu tidaknya watermark selalu menarik. Beberapa fotografer profesional bahkan tidak menyisipkan watermark. Lho kok begitu? Ya karena mereka postingnya hanya di instagram. Nah di IG netizen tidak bisa copas, paling mungkin ialah screen-shot saja.
Akun IG canonphoto dan national geographic, misalnya, juga tidak ber-watermark. Meskipun masih ada foto mereka yang bertanda air nama si fotografer.

Di sisi lain, akun komunitas foto Geo Nusantara selalu menggunakan watermark logo mereka.
Nah dari sini saja, saya ambil kesimpulan bahwa watermark tetap diperlukan dan bermanfaat. Saya mah ambil positifnya saja hehehe.
###


Di jaman serba Android dan iOS seperti sekarang, aplikasi watermark juga menjadi kebutuhan untuk melengkapi koleksi perangkat lunak di gadget.

Di antara buanyaknya aplikasi serupa, saya menyukai LOGO LICIOUS sebagai aplikasi pilihan.

Keunggulannya...
Pertama, bisa menggunakan logo custom baik jpg dan png. Kita bisa bikin di photoshop dulu. Simpan di HP dan tinggal load.

Kedua, jika kita belum bisa atau tidak punya logo sendiri, aplikasi ini juga memungkin kita bikin watermark sendiri yang sederhana.

Ketiga, berbeda dengan aplikasi lain yang mesti mengetik ulang kata-kata watermark jika kita menggunakan di foto berikutnya, maka Logo Licious memberi fasilitas template.
Jadi, watermark seperti di nomor 2 bisa disimpan menjadi template. Jadi sudah hampir seperti logo custom. Tinggal plek :)

Keempat, ada fasilitas meluruskan logo sehingga presisi 90 derajat. Rata, tidak miring-miring, kecuali jika kita sengaja miring.

Kelima, dilengkapi fasilitas lainnya seperti aplikasi pada umumnya yaitu opacity/ mengatur transparan atau pekat, horizontal atau vertikal, perbesar perkecil dan bisa save serta share.
Keenam, ini yang bikin saya sukai lagi: tidak ada iklan dan bisa dipakai offline alias ga perlu koneksi data.

###
Saya sendiri sudah memiliki file logo sendiri yang custom, namun juga sering membuat teks watermark.

Di antara sekitar 30an font, favorit saya ialah font Mosh Thin 100.
Selain itu, font Bimbo, Nobile, ubuntu, digital, scipts (tulisan latin) juga menarik untuk rekan-rekan gunakan.

Salam jepret :)
IG: inung gunarba

Wednesday, April 5, 2017

Playlist teman lari April 2017


Bagi saya, lari itu (kadang) butuh moodbooster. Deretan lagu siap putar adalah salah satu cara saya mendongkrak semangat, sekalian sebagai pace booster.

Saya memang menyukai jenis musik yang nge-beat dan tentunya easy listening. Lagu-lagu anyar juga menjadi pilihan, makanya saya ngintip chart lagu di radio. Mana saja lagu yang hitz.

Nah untuk April, ini lagu lari saya:

- Side to Side, Ariane Grande ft si mbak Nicky Minaj (ini lagu buat start :) )
- Closer, Chainsmoker
- Dont let me down, Chainsmoker
- Alone, Marshmello
- Pillowtalk, Zayn
- Heathen, Twenty on pilot. Ini ost suicide squad
- One call away, Charlie Puth
- Let me love you, Justin Bieber dj snake
- We dont talk anymore, c.puth ft dedek selena gomez
- Sing me to sleep, lagune alan walker
- This what u came for, calvin harris rihanna
- How to love, cash cash ft dek sofia reyes
- By your side, jonas blue
- Cheap thrill, sia (ini buat finish strong)

#runbeat

Oiya, meski memakai earphone kala jogging, saya tetap berprinsip safety first. Makanya, volume musik terbilang rendah. Sekadar terdengar saja sehingga masih bisa merespon dengan cepat deru lalu lintas, lengkingan klakson, dan tentunya sapaan tetangga :)

Friday, March 17, 2017

Biru hijau Tembagapura

Tembagapura, Papua, Indonesia


Selepas baling-baling racikan Rusia memenangi pertarungan melawan gravitasi, kami segera dilambungkan melompati barisan kabut yang mengapung di sekitar landasan.

Pemandangan segera beralih dari putih pekat, lantas samar-samar lanskap semakin membiru dan kemudian menghijau. Detail perbukitan yang memeluk Tembagapura semakin jelas ketika kami menjauh dari selimut kabut.

Tak lama berselang hanya tersisa rona biru di ujung sana, mungkin itu bercak-bercak kabut yang terpapar sinar matahari pukul 07.45 yang mulai menghangat. Sebaliknya hijau rimba dataran tinggi Papua makin membentang.

Saya beruntung masuk ke kabin Mi-171 belakangan sehingga kebagian kursi paling pinggir dekat jendela kanan. Jadi, ketika si bongsor meliuk mengarahkan moncongnya menuju Mimika, saya segera bertatapan dengan Tembagapura di bawah sana.

Lensa Tamron sapujagad 18-270mm sigap menangkap citra lipatan bumi yang menyimpan cadangan jutaan ton emas. Juta. Ton. Emas. Gold, bukan pasir :). Juga tembaga alias copper.

Helikopter Mi-171 Turboshaft, Airfast Indonesia
Bagi saya, nama Tembagapura seperti magnet yang menarik keingintahuan sejak kecil.

Menyukai pernak-pernik geografi pada kelas 4 SD, di benak saya kota ini sudah identik dengan pertambangan logam mulia meskipun belum pernah melihat seperti apa itu emas. Sedangkan tembaga, saya sudah tahu barangnya saat itu: untuk kabel listrik :)

Kini, isi perut bumi di sekitar Tembagapura dan siapa-siapa yang berhak menggenggamnya kembali menarik perhatian, mengundang pergunjingan dan dibawa ke meja perundingan.

Apapun itu, salam untuk Pak Jonan dan kawan-kawan pekerja di Freeport :).

FB https://goo.gl/XJR1Xe
Artikel perjalanan ke masjid bawah tanah Freeport di Kompasiana

#papua #freeport #aerial #lanskap #tembagapura #grasberg



Negeri di atas awan

Thursday, March 16, 2017

Latihan itu nggak pernah bohong

Dulu, di umur 20-awal 30an - sebelum mengenal teknik lari yang baik dan benar, kecepatan lari saya mentok di pace 7 sampai 7:30 menit per km. Napas pun sering tersengal dan sehabis lari terasa capek.

Setelah gaul di komunita lari online seperti Indorunners, Run of Indonesia, Runner id dll, saya semakin banyak tahu dan mempraktekkan beragam teknik seperti posture, cara bernapas, langkah kaki, hingga jenis-jenis latihan lari.

Paling terasa ialah cara bernapas perut, strenght atau circuit training dan latihan interval running. Selain itu ialah pengetahuan, pencegahan dan penanganan cedera.

Itu semua memberi manfaat yang banyak dan konkret. Bahkan di usia yang justru bertambah, jarak dan kecepatan lari malah membaik.

Salah satu indikatornya ialah dengan mencoba lari effortless.

Lari ini dilakukan dengan run at my own pace. Misalnya, pagi tadi saya sengaja lari tanpa banyak melihat pencatat kecepatan, melaju dengan pace "natural" saya sendiri.

Larinya ya lari saja. Tidak terlalu pelan. Kuncian speed-nya adalah tidak sampai ngos-ngosan dan ikuti ayunan kaki. Itu saja.

Dan hasilnya, ini kecepatan lari effortless untuk jarak 5K = 33menit, pace 6:36 menit/km :)

Sepanjang lelarian saya bernapas dengan perut, bukan dada.

Pola napasnya ialah 2-3 yaitu menarik napas/ inhalebdalam dua langkah dan mengeluarkannya/ exhale dalam tiga langkah. Pengaruhnya, tidak tersengal, suhu tubuh stabil dan tidak lekas lelah.

Let's train smart, eat right (liberally wkwkwkk), sleep enough, fight hard, race fun :D

FB https://goo.gl/iSH2T4

#proudindorunners #kagamarunners #prepareSegerRun #ancol16April

Monday, March 13, 2017

Menjajal truk bongsor di lipatan Papua


Ketika jalan-jalan sejenak ke kawasan tambang emas dan tembaga Freeport, Papua beberapa waktu lalu, salah satu perhatian saya segera tertuju pada sosok bongsor truk kepala kuning- berbadan oranye ini.
Inilah Western Star truck, sepertinya tipe 4800 atau 4900. 

Produsen kendaraan ini memiliki spesialisasi memproduksi  angkutan berat untuk industri tambang, perkebunan, hutan dan bisnis lain yang bermedan ekstrim.

Rasa penasaran saya karena moda ini baru melihat pertama kali dan tentu jauh berbeda dengan kendaraaan angkut lain di Indonesia pada umumnya. Terutama sekali lantaran menggunakan hidung yang didalamnya tertanam mesin bertenaga sangar.


Kalau anak saya, menyebut mainan truk yang memiliki hidung semacam ini dengan nama "truk Amerika".
Di Freeport, truk ini digunakan sebagai alat transportasi para pekerja dan tamu.

Ketika melongok ke kabin pengemudi, saya surprise dengan jenis transmisi yang dipakai: matic bro!


Penjelajah dataran tinggi dengan kontur jalan tanah, kerikil, dan lumpur hujan ini ternyata menjejalkan transmisi matic. Seperti jepretan saya, tombolnya adalah N, P, D dan R.

Ssttt... di beberapa unit, kaca jendelanya dilapis dengan plat besi setebal sekitar 1 cm. Staf yang mendampingi kami mengangguk ketika saya bertanya apakah hal ini karena pertimbangan keamanan :)


Monday, March 6, 2017

Juragan Roti :)

Begini ya...

Dua hari lalu, di sore yang sejuk,  bocah 6 tahun ini tiba-tiba bilang: "Kaka mau punya bisnis.  Tiga bisnis: jualan es krim,  juice dan roti!"

Entah dari mana ide itu. Mak bedunduk saja muncul.

Kami tertawa. Bukan menertawakan.  Kami tertawa karena bersyukur dengan asertifnya Kaka. Dia punya keterbukaan dan keberanian say & act something.

Dan, tentu kami mendukung "business proposal" itu.

Pertimbangannya, kami mengapresiasi spontanitas Kaka.  Juga kemampuan mengungkapkannya, ini sesuatu yang berharga.

Sebaliknya,  jika tidak diakomodir, si bocah bisa malas untuk menghamburkan celetukan,  imajinasi dan kata-kata ke depannya.

Nah, dengan 10 donat keju yang sehari-hari memang dibuat oleh bundanya, jadilah si bocil kami menjalankan bisnis pertama. Titip jual di warung nenek, berjarak dua rumah.

Lain hari mungkin roti labu kuning,  bolu kukus,  cake mocca dll sesuai "produksi divisi cake and bakery" Flamboyan Catering :D

Dan sore ini Kaka mengambil hasil dagangan.  Dari 10 roti,  sembilan terjual. Alhamdulillah :)

Untuk apa uangnya nanti?
"Ditabung.  Beli Lego kapal selam."

He-he-he.  Baiklah Nak!  :)

https://goo.gl/2IXFo5

Friday, March 3, 2017

Cerita saya: berhenti merokok :)

Saya sudah berhenti membakar tembakau tiga tahun 2 bulan.

Meski tak lagi jadi perokok, saya masih bisa mengingat nikmatnya Dji Sam Soe. Ingat nama, tak lupa rasa :D 😍

Ceritanya, saya mula berhenti pada Desember 2013 :). Secara "teknis", dulu spontan berhenti saja. Stop. Mak ceklik. Sudah :)

Tapi, kalau diingat-ingat, tetep ada prosesnya. Seperti halnya perokok yang akhirnya berhenti, jamak jika alasan dan latar belakangnya berbeda-beda tiap orang.

Saya sendiri lebih banyak didorong oleh pertimbangan risiko kesehatan ke depannya dan juga pengaruh buruk ke keluarga serta bocah. Meskipun tidak merokok di rumah, tapi residu di baju dll tetap terpapar ke mereka.

Sekali lagi, alasan seperti ini belum tentu berlaku untuk perokok lain. Bisa jadi perokok lain bisa menerima, bisa juga malah akan tersinggung :)

Sebagai mantan perokok, saya bisa memahami bahwa pembahasan soal habit merokok (dan wacana berhenti atau mendorong seseorang berhenti merokok) menyentuh hal ini: ego :)

Karena sudah terkait ego dan hal-hal lainnya yang (mungkin) sama rumitnya -medis dkk-, saya makin yakin hal ini butuh proses.

Salam kretek Indonesia ;) #lho

Ditulis ulang dari status FB saya https://goo.gl/ECgQ9t

Monday, February 27, 2017

#LATEPOST #THROW BACK #LAWASAN


Selain memosting foto terbaru, gress dan aktuil, ada juga yang sengaja memilih mengunggah foto setelah berselang beberapa bulan. Bahkan berjarak setahun lebih.

Sebagian kita segera berkomentar membabi buta: kok foto lama? Pamer ya? Ga bisa move on? ...

Sependek yang saya tahu, memang ada yang mengunggah foto lawas karena memang baru nemu file foto di antara 'timbunan' di hardisk atau memory card.

Selain itu, tak jarang pula yang menunda postingan karena persoalan sensitivitas. Misalnya, contoh konkret, kawan saya ketika main ke pabrik senjata di Bandung pas lagi ramai-ramainya kasus pembelian alutsista dari Eropa. Padahal pelor-pelor kaliber besar itu bisa dibikin di dalam negeri.

Sekilas tidak masalah memosting pose memanggul senapan serbu buatan Kiaracondong, tapi dia tidak melakukannya karena mempertimbangkan hadir sebagai siapa dan bersama siapa.

Nah mencermati momentum, dia hanya mengunggah secangkir kopi dengan latar booklet perusahaan pembuat senjata yang dibuat blur, bokeh, hitung-hitung lebih artistik dan motografis lah :). Itu saja sudah cukup untuk mengabarkan kegiatannya di sabtu sore itu.

Dalam beberapa kesempatan, saya juga melakukan hal yang sama. Pertimbangannya tetap by case tapi prinsipnya sama: sensitivitas dan berpikir lebih jauh.

Bagi yang belum familiar dengan kepekaan seperti ini mungkin bakal mengernyitkan dahi. Tetapi yang terbiasa dengan salah satu tool komunikasi massa dan media, yaitu Analisis Efek, saya yakin memahaminya.

Salam senin siang dari lipatan Indonesia :)

Sunday, February 5, 2017

Transformers! Bukan Superman.



Senang ketika seorang kawan lama mengirim kabar: baru saja wisuda lari 5K, pagi ini di trek ujung Jogja yang hiruk pikuk namun sejuk. Usianya seumuran saya, siap menyambut empatpuluh :D

Seperti pelari bijak lainnya, proses latihan yang sekitar tiga bulan menandakan seorang running-enthusiast bukanlah Superman, karena ini bukan kuat-kuatan. Ngotot-ototan. Bukan semalam ingin lari dan pagi ini nekat langsung ngibrit di trek.

Transformer.
Yeah seorang pelari yang bijak adalah Transformer.

Ini karena dengan sadar menjalani latihan terprogram, terukur dan bertahap untuk melatih seluruh bagian diri - jantung, paru-paru, metabolisme, otot, sendi, pikiran, ego, dan kepercayaan diri.

"Mereka" berbenah dan berubah seiring kebutuhan aktivitas fisik yang meningkat. Hasilnya 'sakses' melaju lima kilometer nonstop bahkan dengan pace yang lebih baik dibanding sesi lari sebelumnya yang jaraknya lebih pendek.

Finished strong, finish in one piece, all Transformers! :D


Image: Transformer angry bird :P

Thursday, February 2, 2017

Telemarketing

Ini cara jitu bikin telemarketer / marketer / marketing bank berhenti dan kapok menelpon kita lagi. 

Ditawari aneka produk finansial seperti kredit tanpa agunan, kartu kredit, asuransi dll merupakan hal biasa. Wajarlah karena mereka sedang memburu penjualan produk dan menghimpun konsumen atau nasabah sebanyak mungkin.

Tapi kalau terlalu sering, sehari bisa tiga kali, ya kadang berasa terganggu. Tak jarang, kita sudah menolak tawaran Bank Anu, tapi esok hari telemarketer dari bank yang sama menelpon lagi. Hanya beda penelpon.

Nah kini adek-adek yang dulu nawarin pinjaman tanpa agunan, kartu kredit dll via nelpon... kini memperbanyak 'platform' dengan menghubungi lewat WA.

Nomor-nomor kontak dilihat dari sumber yang sama: database nasabah yang diperjualbelikan.

Bedanya, dulu nomor itu ditelponin. Sekarang nomor disimpan dan kirim WA penawaran pakai wifi kantor, kos-kosan, kantin dll.

Awalnya, agar mereka tidak berlama-lama memaparkan produk, maka saya menjawab bahwa saya tidak punya kartu kredit.

Btw, tawaran kartu kredit, tambahan plafon pinjaman, KTA dll lazimnya mensyaratkan kepemilikan kartu kredit.

Tapi sudah berkali-kali saya bilang saya nggak punya kartu kredit kok pada nggak percaya to? Artinya data saya belum dihapus dari database mereka.

Belakangan saya pakai cara paling jitu yang bikin mereka kapok nelpon. Jika mereka dari Bank XXX, ya saya jawab: "Lho saya juga kerja di Bank XXX cabang kota ABC!" 

Sebut aja salah satu kota besar, Jakarta Bandung Surabaya Jogja Makassar Medan dll dsb.

99% persen nama kita akan dihapus dari database prospek mereka, di-blacklist, ndak ditelpon/WA lagi, karena SOPnya ndak boleh nawarin ke karyawan/internal. Sependek yang saya tahu lho :)

Kalau masih nelpon ya berarti masuk hitungan yang 1%, ingin ta'aruf ;) #uhuyyy

Monday, January 23, 2017

Interval running, cara jitu tingkatkan kecepatan lari

Peningkatan speed dan juga endurance dapat dilatih dengan berlatih speed work seperti interval running, Tempo run, fartlek, hilly dll.

Pemahaman umum ttg interval running adalah "Secara spesifik, latihan ini meningkatkan ambang batas laktat (lactate threshold) yang penting bagi kemampuan kita berlomba secara cepat. Dan, karena dilakukan dalam sistem interval, latihan ini memberikan kita periode istirahat sehingga membuatnya lebih nyaman untuk dilakukan dibanding lari secepat-cepatnya (all-out) dalam interval yang lebih pendek dan lebih dinamis dibanding tempo run panjang yang membosankan." Sumber Dunia Lari, link di bawah.

Coba susun lagi jadwal latihan. Jika biasa lone-running, ambil 2-3 kali sesi weekday untuk speedwork dengan interval running.

Beberapa kawan ada yang pakai pola awal IR 3menit jogging dan 30detik faster run. Kita dapat membuat kombinasi lain. Monggo perbanyak referensi, banyak kok di Google.

Lalu gunakan sesi weekend utk longrun.

Contoh jadwal latihan seperti ini:
Senin rest day/off
Selasa IR
Rabu IR
Kamis Cross-Training https://goo.gl/bi95JC
Jumat IR
Sabtu rest day/off
MINGGU LONGRUN

###

Ini sedikit saya lampirkan referensi.
- interval running, apa itu?

- cara tingkatkan performa lari

- interval: metode piramida

- interval pendek/ short interval

- long interval

- menang Bali Marathon dengan latihan interval

- Circuit Training, efektif perkuat lari dan bakar kalori

Satu lagi: "Percayalah pada proses!" :)

Salam mari lari.
Postingan dan komentar di FB group Indorunners.

Saturday, January 21, 2017

Lari dengan hydrobag, perlu persiapan apa saja?



Pemenuhan kebutuhan hidrasi (sederhananya: air minum) saat berlari sangat penting dan wajib. Intensitas lari terutama jarak jauh sangat menguras energi, stamina dan cairan tubuh.

Pada event lari misalnya, standar penyediaan water station adalah tiap 2,5 km. Dari sini saja menunjukkan dengan gamblang bahwa hidrasi sangat diperhatikan.

Oleh karena itu, penyuka lari juga mesti menyiapkan bekal air. Salah satu caranya ialah dengan membawa hydroback, sering juga disebut hydropack.

Wujudnya tas punggung dengan desain compact, dilengkapi beberapa kantung untuk membawa kelengkapan lain seperti snack/nutrisi gel, HP, uang, kunci dll.

Saya sendiri juga memiliki hydrobag walaupun tidak selalu saya pakai tiap latihan. Jika hanya berlari jarak 5 km ke bawah dengan estimasi waktu tempuh 30-40 menit, saya tak membawanya.

Lain halnya jika lari 10 km ke atas seperti tadi sore. Bawaan saya ialah air putih 1 liter dalam water bladder/ kantung air, 1 botol kecil isotonik 330 ml (setara kaleng Pocari Sweat), snack, jas hujan kecil dan HP.

Alih-alih ingin berbagi tentang jenis-jenis produk hydrobag, kali ini saya ingin sharing tentang persiapan atau lebih tepatnya konsekuensi berlari dengan hydrobag. Saya sarikan poin demi poin.

1. Perlu latihan beban yang menyasar penguatan otot dada, bahu dan lengan.

Jangan terpaku hanya pada berat hydrobag ketika dalam keadaan kosong. Produsen atau brosur produk ini biasanya hanya mencantumkan berat hydrobag saat kondisi kosong.

Misalnya 350 gram untuk hydrobag mahal seharga Rp 1,5-2,5 juta), 450 gram yang impor dari China Rp 450 ribu atau hydrobag saya Nordend seri B271 Rp 198 ribu berat kosongnya 600 gram (termasuk water bladder kosong lho ya yang harganya Rp 80 ribu).

Kita harus memahami berat riil ketika dibawa lari. Saya timbang dengan timbangan digital dan mengisi hydrobag dengan 1 liter air (kapasitas maksimal 1,5 liter), 1 kaleng isotonik, HP, jas hujan tipis, snack BengBeng, kunci rumah, beratnya mencapai 2,6 kg. Hydrobag yang mahal pun juga saya coba, selisihnya tidak banyak: 2,3 kg.

Sekilas berat segitu terasa enteng. Ya enteng kalau sampeyan bawa dari ruang tengah ke ruang depan rumah sampeyan. Atau dicantelin di motor. Berat segitu itu ya mesti sampeyan bayangkan dibawa oleh punggung selama berpuluh menit bahkan berjam-jam.

Untuk itulah, saya sarankan melakukan latihan tambahan. Jika kita terbiasa lari maka sudah kenal dengan strength training atau circuit training.

Nah tinggal tambahin menu push-up, chair dip, bicep curl serta tricep curl. Dua yang disebut terakhir adalah latihan menggunakan dumbel.

Menu tersebut efektif mendongkrak kekuatan  dan fleksibilitas otot dada, lengan dan bahu. Berat dumbel cukup 5-8 kg saja.

Santai saja, latihan 5-7 kali selama 2 minggu sudah cukup untuk mempersiapkan diri berlatih dengan membawa hydrobag.

2. Adaptasi.

Ada baiknya kita tidak langsung berlari jarak jauh jika pertama kali menggunakan hydrobag.

Sempatkan lari 5 km atau paling jauh 10 km untuk membiasakan diri.

Adaptasi ini juga untuk menemukan settingan yang pas seperti rentang tali pengait, tali bahu maupun membiasakan diri mengakses kantung-kantung sembari berlari.

Termasuk pula membiasakan diri minum dari water bladder menggunakan pipa selang :)

Selamat berlari! Salam sehat :)

Btw, artikel review produk hydrobag merek Nordend pada link ini.

Jelajah Morowali, Sulawesi. Jalur Darat dan Udara.

Matahari terbit di site SMI, Morowali

Salah satu pulau cantik negeri adalah Sulawesi atau dikenal juga dengan nama Celebes. Saya jatuh cinta dengan pulau ini dan ingin suatu ketika bisa menyusuri beberapa penggal jalur daratnya.

Keinginan saya itu mulai muncul semenjak kecil ketika membaca (almarhum) majalah Jakarta-Jakarta. Waktu itu salah satu artikelnya berupa esai-foto tentang ekspedisi mobil offroad menembus Trans Sulawesi.

Berpuluh tahun kemudian, mimpi saya kesampaian juga. Berangkat dari Ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari dengan tujuan Kawasan Industri PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di desa Fatufia, pesisir Bahodopi, Morowali di Sulawesi Tengah. 
Peta lokasi Morowali

Acaranya ialah peresmian pabrik pemurnian dan pengolahan nikel yang bakal dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan turut dihadiri Menteri Perindustrian Saleh Husin.


Wednesday, January 18, 2017

Bekal traveling: 15 obat andalan



Salah satu bekal wajib yang mesti dibawa ketika melakukan perjalanan adalah obat-obatan.

Lantas bagaimana menentukan jenis obat?  Simple saja, yaitu: obat yang biasa kita konsumsi.

Selain itu, bawa pula obat yang jarang kita minum namun tetap penting sebagai antisipasi. Untuk saya, jenis obat ini ialah obat untuk gangguan pencernaan dan alergi.

Lho kok pencernaan dan alergi? Apakah saya pernah mengalami dua masalah ini? Alhamdulillah belum dan tidak pernah.

Namun, spirit saya adalah antisipasi. Ini berangkat dari pemikiran bahwa kendala pencernaan (lugasnya saya sebut saja diare/mencret) tentu merepotkan di kala jauh dari rumah.

Tidak hanya saat jalan-jalan, ketika di rumah atau di tempat kerja pun, ketika sakit perut maka kita sangat was-was. Kalau meleduk pas lagi meeting atau ketemu pelanggan??? #jackpot #amsyong

Begitu juga dengan alergi. Perubahan lingkungan, cuaca, jenis makanan-minuman di tempat yang dikunjungi dan penurunan daya tahan karena perjalanan jauh, juga berpotensi kita terkena alergi.

Di luar itu adalah obat-obatan yang biasa kita konsumsi. Istilahnya: obat harian, seperti sakit kepala, masuk angin, dan flu.

Nah inilah obat yang lazim saya bawa, baik ketika keluyuran ke lekuk-lekuk cantik Indonesia maupun saat ke negeri seberang nan jauh.

Urut dari kiri ke kanan:
1. Tolak Angin
2. Bodrex Extra
3. Bodrex Migra
4. Puyer 16
5. Decolgen
6. Fatigon putih (untuk capek)
7. Vegeta (memperlancar BAB, begah)
8. Promaag
9. Sangobion
10. Cheng Sie Lung (obat sariawan)
11. Fresh Care
12. Balsem Lang
13. CTM (obat alergi)
14. Lopamid (obat diare)
15. Hansaplast / plester


BODREX DI JEPANG

Salah satu pengalaman bagaimana bermanfaatnya membawa obat ialah saat di Jepang. Ketika acara kantor selesai, masih di lokasi pekerjaan, tiba-tiba sakit kepala menerjang. Nyeri yang hebat terasa mencengkeram tengkuk dan kepala belakang. Leher terasa kaku. Kepala seolah dihimpit penjepit raksasa.

Untung agenda acara hari itu telah selesai. Di mobil sepanjang jalan hingga menjelang masuk ke hotel, saya terus menyandarkan kepala.

Di kamar, air dalam botol segera dijerang di water-jug untuk membuat teh hangat. Kantong obat warna hijau pun segera saya bongkar, satu biji tablet Bodrex Extra segera meluncur di tenggorokan.

Sambil istirahat dan menyempatkan mandi air panas, 20 menit kemudian nyeri sakit kepala mulai mereda yang mengantar saya tidur malam.

Paginya, saya bangun dengan segar bugar. Turun ke restoran hotel untuk sarapan dan tentu saja ngopi :)

Kambing dan Hujan. Tentang cinta dan NU - Muhammadiyah :)



Ini novel, roman tentang cinta anak muda, masa lalu yang menyesakkan dan pergulatan NU-Muhammadiyah di sebuah desa Jawa Timur yang diberi nama kisah, Tegal Centong.

Sudah lama saya tidak membaca novel, terakhir membolak-balik halaman karya sastra jenis ini ialah pertengahan 2015, "Anak-anak Revolusi"-nya Budiman Sudjatmiko.

Novel berikutnya ialah karya Mahfud Ikhwan ini yaitu "Kambing dan Hujan". Saya membacanya dengan bangga, pertama karena novel ini adalah pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014. Kedua, karena penulis adalah kawan saya di komunitas persma UGM, sedikit beda angkatan. Juga di media yang bertetangga, dia di Balairung, saya di Bulaksumur. Hehehe :)

Membaca novel ini, saya seperti tersedot di dalam alurnya. Yeahhh tentang dua anak muda yang bertaut cinta dan ingin menikah. Miftah Abrar dan Nurul Fauzia. Yang lelaki alumni jurusan sejarah dari perguruan tinggi di Jogja, si perempuan lulusan Fakultas Adab, kuliahnya di Surabaya.

Sayang, perbedaan paham agama yang dibalut pula dengan beda masjid, yang disebut Mahfud sebagai Masjid Utara (Muhammadiyah) dan Selatan (NU - Nahdlatul Ulama) menjadi penghalang dan sekaligus menggerakkan cerita menjadi berdenyut dan menghentak.


Sepanjang cerita, terus terang saya juga merasakan takut dan was-was, bagaimana jika hubungan mereka pupus dan gagal menikah.

Asemmm tenan. Di tengah cerita misalnya, ketika keluarga Fauzia kedatangan tamu seorang pengusaha dan politisi muda atau juga saat Pak Nashrullah bertamu ke keluarga Miftah untuk 'menjodohkan' putrinya.

Saya sempat khawatir, syukurlah Mahfud tidak memanjang-manjangkan drama ini :)

Semua memang berakhir happy ending. Namun tuturannya tidak datar. Saya suka ini.

Yang lebih saya sukai ialah momen pertemuan Pak Iskandar dan Pak Fauzan di rumah Pakdhe War. Dialognya mengalir deras, cepat dan 'nyata'.

Saya sempat merutuki dialog itu (hal 343-346). Saya merutukinya lantaran mengapresiasi jeniusnya Mahfud mengemasnya, juga (ini yang sebenarnya) karena saya lega kekhawatiran sepanjang membaca roman tidak terjadi.

KOPI
Ada beberapa kutipan yang bagi saya terbilang mengena. Seperti 'jangan menyuguhkan kopi dengan menyiramkan ke muka.' (Hal 167 dan ditegaskan lagi di hal 178).

Itu merupakan kiasan bahwa memberi nasehat pun mesti dilakukan dengan empati. 'Bukankah sebaik-baiknya nasehat adalah nasehat yang disampaikan dengan baik pula.'

Pada halaman lain juga dikatakan 'cara kadang tidak kalah pentingnya dengan tujuan' (hal 166).

PERSETERUAN dan DRUMBAND
Soal persaingan NU dan Muhammadiyah juga disajikan menarik. Alih-alih bergaya orasi dan jualan satu sama lain, Mahfud menuturkan perbedaan keduanya dengan lincah dan ringan.

Semua ikon perbedaan dituturkan dengan jenaka. Saya pun seperti diingatkan kembali pada olok-olokan khas seperti diucapkan kawan di kampung dan antar aktivis kampus.

Begitu pula tentang shalat subuh dengan qunut dan tanpa qunut, bacaan niat shalat, juga puasa, tahiyyat (kalau saya tidak keliru hehehe), tahlilan, shalawatan, kenduri, ziarah kubur, adzan dua kali saat shalat Jumat dll.

Ada pula tentang keberadaan bedug dan tongkat untuk khotib di masjid. Juga soal 'dikit-dikit bid'ah, dikit-dikit bid'ah' dan 'pendangkalan serta pembelokan akidah'.

Saya juga ngakak ketika olokan sampai juga pada sindiran menyoal sekolah di lingkungan paham yang berbeda itu: 'jangan sampai jadi murid yang tidak bisa berhitung dan lemah dalam ilmu pasti'. Yang lalu dibalas: 'jangan mau kalau bisanya cuma drumband'. Wkwkwkwkkkk... :D

RAMADHAN dan LEBARAN
Seperti yang saya ketahui dan rasakan, ikon perbedaan NU dan Muhammadiyah lainnya dan sekaligus menjadi hal klasik (dan berulang) ialah penentuan 1 Syawal sebagai penentu dari hari raya idul fitri dan sekaligus hari terakhir puasa, plus tarawih terakhir.

Sebagai ikon 'utama', soal lebaran ini ditempatkan dengan pintar sebagai alur cerita di ujung-ujung roman, mulai bab III hal 229. Kembali lagi hangatnya perbincangan penentuan  1 Syawal apakah dengan hisab Muhammadiyah) dan rukyat (NU) mengemuka.

Kegalauan perbedaan 1 Syawal juga dipoles secara personal. Ada kejujuran yang terpendam bahwa sebenarnya kedua 'kubu' lebih menyukai jika Lebaran jatuh pada hari yang sama.

Tentu sejuk kan jika gemuruh takbir yang meramaikan langit desa dikumandangkan sejak maghrib yang sama. Tak ada satu merayakan lebaran sedangkan saudaranya masih puasa. Tak ada sindiran haram karena masih berpuasa di hari raya.

Novel ini, roman terbitan Bentang Pustaka Yogyakarta ini, saya bayangkan memang cocok dibaca di bulan Ramadhan. Ada nuansa yang pas, atmosfer yang teduh dan hisapan cerita yang menjerat kita untuk terus dan terus meniti tiap kata tiap jengkal kalimat.

Saya sendiri merampungkan 373 halamannya dalam 3 hari. Awalnya mengira akan selesai selama sepekan dan menargetkan paling cepat dalam empat hari. Alhamdulillah, ternyata lebih lekas lagi :)

Nah, Anda ingin teman bacaan sastra yang cerdas, menghibur, membuka wawasan, pikiran terbuka, ringan tapi tidak enteng-enteng belaka?

Yang bisa membuat dada berdegub, merasakan sesak oleh himpitan cinta dan harapan yang digantung? Juga cerita yang nyaris membuat menangis dan sekaligus terbahak? Roman ini dapat menjadi sahabat Anda :)

#kambingdanhujan #roman #novel

Catatan: roman ini juga menjadi koleksi perpustakaan rumah kami, semoga kelak anak kami juga membaca-menikmati hasil karya kawan Ayahnya, aamiin :)




Tuesday, January 17, 2017

Persawahan merangkul kampung



Dari ketinggian baling-baling besi yang membawa kami dari Sidoarjo, Surabaya menuju Tuban, melewati Gresik dan Lamongan berbulan silam, sepanjang perjalanan penuh pemandangan sawah, ladang dan perkampungan penduduk.

Lalu mendaras doa, semoga tanaman subur, panen melimpah dan tata niaga hasil pertanian berpihak pada saudara-saudara kita para petani. aamiin :) .

Eh kok saya tiba-tiba membayangkan mungkin seperti inilah Tegal Centong-nya Mif dan Fauzia dalam novel 'Kambing dan Hujan' karya Mahfud Ikhwan he-he-he :). Lalu terbayang pula masjid utara dan selatan :)

#wonderfulindonesia #eastjava #surabaya #lamongan #tuban #wanderlust #ricefield #travelphotography #aerial #altitude #helicopter #jawatimur #sawah

Wednesday, January 11, 2017

Belajarlah renang, tak peduli usia



Membaca koleksi majalah National Geographic Travel edisi lalu, saya merasa lebih beruntung.

Di salah satu artikelnya, si penulis mengaku menyesal tidak belajar renang sedari dulu. Ceritanya, pas ditugaskan memotret jajaran pulau-pulau Nusantara, dia hanya bisa duduk termangu di pantai sedangkan rekan-rekannya 'maen aer' di kala senggang.

Di ujung kisah, dia membulatkan tekad untuk belajar renang. Katanya, siapa tahu kelak kembali mengunjungi surga bahari negeri ini.

Alasan itulah yang juga mendorong saya untuk mengambil kursus renang, nun bertahun lalu. Jauh sebelum keluyuran ke lebih banyak sudut-sudut Indonesia.

Kampus maen aer saya ialah kolam renang Manggala Wanabakti, sebelah Senayan - Slipi - Palmerah. Kuliahnya sering pagi, kadang sore :)

Cukuplah bagi saya untuk bisa gaya dada dan gaya bebas. Jujur belum sampai advance seperti menyelam dan free-floating alias mengambang.

Dengan bekal renang level 'secukupnya' itu, puji syukur, saya mencicipi perairan gugusan pulau karang, Bair, di Maluku Tenggara. Juga di Manado dan pesisir Pulau Nemberela, Pulau Rote Nusa Tenggara Timur - NTT ini.

Maka, belajarlah renang. Tak peduli usia. Kita tak tahu kan kalau esok tiba-tiba berkesempatan ngetrip ke surga bahari NKRI :)

#wonderfulIndonesia

Wednesday, January 4, 2017

Berbagi karena cedera.



Selama kurun waktu menikmati terbirit-birit lelarian, saya pernah beberapa kali cedera. Tidak parah memang, tapi tetap kudu seriyes meratapinya eh menanganinya. Masih cedera yang umum-umum aje kok, cedera yang biasa menerpa penggemar lari. 😊

Di sisi lain, pengalaman cedera justru memberi saya "kesempatan" untuk membantu rekan-rekan sepelarian yang mengeluhkan cedera yang sama atau mirip-mirip.

Paling enggak ada 2 pengalaman cedera dan begini terapi mandirinya, saya sarikan dengan bahasa sederhana.

1. Plantar fasciitis [ bukan asam urat 😀 ]
Jika kita bangun tidur di pagi hari lalu turun dari ranjang dan tumit serta telapak kaki terasa suuaakit sekali (terasa tertusuk-tusuk, panas, kemranyas) ketika menginjak lantai...

Jika setelah duduk lama di kursi lalu berdiri dan berjalan, juga terasa sakit yang sama sampai kita berjinjit-jinjit...

Itulah "plantar fasciitis". Penyebabnya karena otot betis yang terlalu tegang. Secara umum belum perlu obat, kita masih bisa melakukan terapi mandiri.