Saturday, January 21, 2017

Jelajah Morowali, Sulawesi. Jalur Darat dan Udara.

Matahari terbit di site SMI, Morowali

Peta lokasi Morowali


Salah satu pulau cantik negeri adalah Sulawesi atau dikenal juga dengan nama Celebes. Saya jatuh cinta dengan pulau ini dan ingin suatu ketika bisa menyusuri beberapa penggal jalur daratnya.

Keinginan saya itu mulai muncul semenjak kecil ketika membaca (almarhum) majalah Jakarta-Jakarta. Waktu itu salah satu artikelnya berupa esai-foto tentang ekspedisi mobil offroad menembus Trans Sulawesi.

Berpuluh tahun kemudian, mimpi saya kesampaian juga. Berangkat dari Ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari dengan tujuan Kawasan Industri PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di desa Fatufia, pesisir Bahodopi, Morowali di Sulawesi Tengah. 

Acaranya ialah peresmian pabrik pemurnian dan pengolahan nikel yang bakal dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan turut dihadiri Menteri Perindustrian Saleh Husin.

Let's go!
Titik perbatasan Sulteng-Sultra



Tugu/patok perbatasan

Kehangatan anggota TNI. Api unggun sudah dipastikan mati dan tidak meninggalkan bara sebelum kami melanjutkan perjalanan.

Foto dulu dengan para penjaga NKRI. #hormat


Meski tidak seganas perjalanan tim ekspedisi di majalah tersebut, tetapi jalur jalan yang kami lalui masih berupa tanah yang diperkeras. Pajero 4x4 kami kadang mesti berjalan merayap.

Salah satu puncak perjalanan ialah ketika kami mencapai titip perbatasan Provinsi Sultra dan Sulteng. Lokasinya di tengah hutan. Bersama kami ialah rombongan anggota TNI AD yang juga menuju lokasi yang sama dengan kami.

Liukan jalan dataran tinggi sejak di perut Sultra melewati perkampungan, perkebunan, hingga pegunungan. Beberapa kali melintasi pemukiman lalu kembali masuk ke rimba belantara.

Setelah delapan jam terguncang-guncang, sampailah kami di PT SMI. Ini kawasan industri terpadu yang mengolah nikel menjadi stainless steel. Pabrik ini berdiri untuk meningkatkan nilai tambah nikel.

Hitungannya, harga bahan mentah nikel USD 30 per metrik ton. Jika diolah menjadi bahan setengah jadi (pig iron) maka harga jualnya melejit 40 kali hingga menjadi USD 1.300 per metrik ton. Apalagi jika diolah menjadi barang jadi harganya USD 2.800 per metrik ton atau lebih 70 kali dibanding ketika hanya bahan mentah.

Artikel beritanya ada di sini 

SUNRISE
Setelah bermalam satu hari, paginya saya sempatkan jalan-jalan di sekitar tempat menginap, masih di lokasi utama.

Beruntunglah momen sunrise saya nikmati sedari belum terbit hingga merekah. Sebelum sarapan, berfoto dulu dengan helikopter Bell 249 warna silver. Menurut petinggi SMI, inilah tipe heli Bell tertinggi. Daya jelajah jauh dan mampu terbang malam.

Pesawat udara berbaling-baling inilah yang mengantar saya kembali ke Kendari menjelang siang he-he-he. #pamer :D

Nah jika dengan jalur darat, waktu tempuhnya 8 jam, bahkan rombongan di belakang saya sampai 9 jam, dengan helikopter hanya 45 menit J

Selama perjalanan udara, saya manfaatkan kesempatan emas untuk memaksimalkan kamera DSLR Canon D700 dan Blackberry.

Lanskap pesisir dan jajaran pulau-pulau terekam di memory card. Ketika melintasi pemukiman nelayan, saya menarik napas panjang… seolah saya dapat merasakan aura kerja keras saudara-saudara kita mengarungi laut, berteman dengan dalamnya perairan serta ganasnya ombak. Semoga hasil laut senantiasa melimpah, aamiin J

Salam jelajah Sulawesi

Inung Gunarba, 28-29 Mei 2015

Siap ngojek Helicopter Bell 249 :)

My shadow and Helicopter Bell 249

Take off :)

Gugusan pulau Sulawesi Tengah - Tenggara

Kampung nelayan pesisir timur Sulawesi

Kampung nelayan pesisir timur Sulawesi

Persawahan Sulawesi Tengah - Sulawesi Tenggara

Sabana dekat bandara di Kendari - Sulawesi Tenggara

2 comments:

  1. Kampung halaman ku Morowali. Sudah lama tidak tengok kebun kelapa hhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheheee... pesona sulawesi memang cantik. begitu juga dengan potensi alamnya :)

      Delete

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails