Wednesday, November 4, 2015

SURYA PRO

 

Semalem mimpi saya uenak poolll. Mimpi ngudud kretek filter paling nikmat sedunia: Surya Pro. 

Dulu, ini rokok tengahan saya, di antara Dji Sam Soe atau Gudang Garam Filter International yang berat namun aroma tembakaunya kuat dan A Mild nan ringan tapi,bagi saya, mbakonya berasa terlalu 'pabrik'. 

 Pada rajangan tembakau di bujur batangnya yang langsing, ga sebohai Gudang Garam Filter, biasanya saya mencuri baunya sebelum membakarnya. 

 Oya, jika ada korek api 'jress' sy memilihnya dibanding korek gas atau malah Zippo sekalipun. 

Lagi-lagi, perkawinan bakaran kayu pada korek dengan tembakau berasa beda. Pokok'e beda. Soal rasa jangan diurai dengan logika ya heheheee... 

 Sayangnya, dalam mimpi itu saya memaki-maki semesta. 

Setelah makan gudeg, nyruput es teh manis gula batu dan menarik satu batang yang lantas terjepit lembut di bibir... tak juga nemu korek. 

 Di saku celana, baju, tas, nggak ada korek. 

Minjem ke kawan? ndilalah nurut skenario dalam mimpi itu saya satu-satunya aktor. 

 Saking gondoknya, saya ngelilir, tepatnya separo bangun. Ada rasa 'sepet' di rongga mulut. Bibir atas separo mengulum bibir bawah. 

Persis seolah sudah nggeget sebatang rokok namun tak jua nemu korek. Sepet. Gondok. Nyebahi. Njelehi.

 Untungnya, kantuk jam 14.30 meninabobokkan kantung mata lagi. 

 Untungnya pula, saya tak perlu mbingungi nyari rokok beneran seperti masa-masa jadi perokok: malam-malan terbangun, keluar kamar, di teras rumah Jogja, menengadah mengukur jarak dengan bintang-bintang dan menjentikkan jari, menghembuskan asap kelabu. 

 Di Jogja kala itu, tak ada yang sepekat dan sesunyi, namun hangat, yang menyamai malam-malam berselimut bebakaran nicotiana tabacum... 

 Untunglah, bagi saya merokok sudah menjadi bagian masa lalu. Tak lagi saya rindukan. 

 Sedangkan dari tembakau, percikan kangen masih ada, kepada aroma lembaran tembakau yang dijemur, ditumpuk, dikarung dan ditimbang. 

Juga bentangan kebun 'emas hijau' di lembah yang menjepit sungai di belakang Jampirejo, Temanggung, kampung halaman almarhum Ibunda. 

 Rindu juga pada lanskap tembakau di kiri kanan jalur pendakian saya ke Sumbing belasan tahun lalu. 

 Lho kok dari mimpi jadi kangen beneran pada kabupaten mungil di Jawa Tengah itu? Yo ra ngerti, namanya aja melamun nggedyabah :) 

 Eh apa kabar ya tahu ketupat dan bakso di pasarnya? Oya masihkah Temanggung sedingin dulu, menembus tulang menggeretakkan geraham? :)  

Inung Gunarba | Dikirim dari BlackBerry Q10 saya.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails