Saturday, February 18, 2012

Wartawan Bego

Siapa yang kerja jadi jurnalis? + Saya.

Siapa yang bego?
+ Saya!

Jadi, posting ini bukan pengen menuding si anu - si itu adalah wartawan bego?
+ Enggak.

Waa... !
+ Lho kok kecewa?

Kirain mau maki-maki di blog tentang wartawan bego. Enggak asik nih postingannya.
+ Ooo... Ya monggo klik website lainnya :D

+++
Saya mah nulis kali ini memang karena buwat jadi pengingat reminder beberapa poin. Pengingat bagi saya sendiri yang masih butuh banyak belajar.

Kalau enggak perlu belajar, mungkin saya sudah cocok jadi kebo. Wartawan kebo! Qeqeqe Yang saya maksud wartawan kebo ini saya sendiri lho.

Kalau ada yang enggak perlu belajar lagi, mungkin memang sudah jadi wartawan top markotop hohoho.
#eh, tuh kan. Baru mulai aja dah ketauan bleguk kan, nulis 'buat' aja ketulis buwat. Dan enggak pake bahasa baku. :D

+++
Musim
Sekarang saya bekerja jadi wartawan ditugaskan di rubrik atau desk Korporasi. Lebih tepatnya menulis dan liputan tentang perusahaan yang telah menjadi emiten. Sederhananya, sudah memperdagangkan sahamnya di bursa saham.

Simpelnya lagi, terlihat di belakang namanya tertulis 'Tbk'. Alias terbuka. Misalnya, Astra International Tbk, Adaro Energy Tbk, Krakatau Steel Tbk, dll.

Setahu saya, isu korporasi juga ada musimnya. Seperti awal tahun ini, tema berita berkisar soal realisasi pendapatan dan laba tahun lalu. Serta target tahun ini.

Lantas, ada tidaknya pembagian dividen kepada pemegang saham. Jika ada, berapa persen dari laba bersih. Jika tidak ada, apa alasannya. Biasanya manajemen beralasan karena masih butuh dana untuk operasional dan pengembangan usaha alias ekspansi. Buat tambahan modal, gitu deh.

Kuartalan
Dalam pembuatan laporan keuangan, perusahaan membuat laporan itu per empat bulan. Biasa disebut kuartal atau quarter.

Saya mesti ingat-ingat, jadi setiap menjelang atau memasuki masa terakhir kuartal, kinerja perusahaan bisa dita nyakan ke direktur utama, dirkeu, sekretaris perusahaan atau investor relation.

Misalnya kuartal pertama setiap tahun terdiri dari bulan Januari, Feb, Maret dan April. Di bulan Januari saya bisa minta informasi target pendapatan dan laba kuartal pertama. Apapun kondisinya, baik naik-stagnan-turun, bisa ditanyakan selanjutnya.

Begitu juga jika menjelang akhir kuartal, misalnya akhir April atau awal kuartal kedua, mungkin realisasi kinerja bisa dikorek-korek.

Dan begitu seterusnya hingga kuartal keempat atau terakhir. Selain itu, untuk kuartal kedua, istilah yang digunakan lebih sering; semester pertama.

Sepanjang empat kuartal, realisasi penggunaan belanja modal bisa ditanyakan pula.

Follow-up
Alias penelusuran. Padanan kata yang gampang seperti itulah.

Buwat eh buat saya, di luar isu musiman, saya mesti mengikuti progres emiten. Rencana perusahaan, jadwal pelaksanaan, nilai investasi, juga target kontribusinya pada pendapatan.

Dari situ, setiap ada kesempatan bertemu dengan direksi perseroan tertentu, segera bisa ngobrol. Dan dijamin bakal selalu aktual karena berangkat dari berita sebelumnya.

Misalnya, Desember tahun kemarin, PT ABCD ingin membangun 2 apartemen lagi. Kebutuhan modal 1,5 triliun rupiah namun sumber dana belum ditentukan apakah pinjaman bank atau menerbitkan obligasi/surat utang.

Nah, ketika bertemu langsung atau via telpon pada Januari atau Februari, saya bisa meminta update apakah sudah mendapat komitmen dari bank. Berapa bank, domestik atau luar negeri. Jika ada beberapa, apakah pakai konsorsium 2-3 bank. Berapa bunganya, dan tenornya / jangka waktunya.

Juga jika obligasi, berapa nilainya, akan diterbitkan kapan. Plus jika rights issue alias menerbitkan saham baru, berapa saham yang dilepas, berapa persen dari total saham yang ada, berapa target perolehan dana. Apakah sudah ada penjamin pelaksana emisi? Ada berapa calon?

Selain itu, soal utang, saya juga sering disarankan banyak kawan untuk mencermati nilai utang sebuah perusahaan.

Bisa dilihat di laporan keuangan terakhir, isu soal utang bisa menjadi bahan berita. Tentu saya harus konfirmasi ke pihak perusahaan.

Misalnya ketemu langsung pada sebuah pertemuan, coba saya tanyakan soal berapa utang yang jatuh tempo bulan depan atau dalam waktu dekat.

Berapa yang akan dicicil atau malah sekalian dilunasi. Dari bank mana dan dulu untuk apa?
Bagaimana pembayarannya, apakah dengan membayar memakai uang kas atau mencari pinjaman baru. Gali lubang tutup lubang.

Jika iya, berapa perbandingan bunganya. Apakah lebih rendah? Berapa tingkat bunga yang diharapkan.
Ini berlaku juga jika perusahaan memiliki obligasi yang jatuh tempo.

+++
Hoss... Hosss... Capek juga saya membuat catatan untuk pengingat ini.

Baeklah.. Baiklah, saya break duyu. Agar ingat, berikutnya saya akan bikin catatan tentang isu berita perseroan terkait pengaruh harga komoditas dan regulasi. Juga soal sharing pengalaman yang sayan peroleh dari kawan-kawan jurnalis yang lebih berpengalaman.

Misalnya soal 'mentok dalam interview karena isunya nggak klop' dan 'pilihan kata dalam wawancara' plus 'jika narasumber memilih irit bicara'. Pokoke next lah...

+++
Powered by Telkomsel BlackBerry

2 comments:

  1. wah mas,, klo aku di posisi mas inung bakalan kabur duluan ga nyampe satu hari jadi wartawan,,, hmmm... yo wes,, aku milih tetap jadi fasilitator wae lah,, biarin gaulnya sama emak2 n bapak2 yang polos n lugu tapi kritis,,wkwkwk.. semangaaaat!!! :)

    ReplyDelete