UP-DATE 3 Maret 2015
Alhamdulillah, Kaka sudah berusia 4 tahun 3 bulan, dan hingga kini tidak ada lagi bercak putih seperti ketika dia bayi :)
UP-DATE Agustus 2011:
Alhamdulillah, setelah kami memeriksakan Kaka ke Bu Dokter Ari Muhandari Adhie, spesialis kulit di RS Ibu dan Anak "Harapan Kita", Jl S Parman/Slipi, Jakarta, bercak putih di wajahnya akhirnya hilang. Beliau adalah dokter ketiga tempat kami memeriksakan putra kami itu.
"Berikut info RS Harapan Kita, no. telepon direct Klinik Kulit dan Kelamin:
Tentu saja ini melegakan karena pengobatan di dokter pertama tidak berbuah hasil. Dokter itu memberi masukan agar kami mengoleskan Setelah kami mengoleskan Shampo Selsun Blue yang sejatinya untuk ketombe.
Bagaimana kami akhirnya ke dokter Ari? Referensi dokter ramah ini kami dapatkan dari dokter anak yang praktik di Kemanggisan. Beliau memberikan resep salep Ezzera Cream dan body lotion untuk bayi. Hasilnya, bercak di badan berangsur hilang.
Sayangnya, bercak putih pada wajah tetap bergeming. Enggan menyingkir dari alis, samping hidung dan depan kedua telinga. Kami mulai khawatir (lagi).
Nah untuk yang di wajah, dokter yang kedua ini memang memaparkan beberapa kemungkinan. Artinya, obat-obatan sebelumnya belum tentu bukan tidak manjur tapi mesti ditelisik penyebab pasti bercak putih. Karena selama ini lebih cenderung berupa hipotesa.
Oleh karena itu, dengan bijak beliau juga memberi referensi agar kami memeriksakan Kaka ke teman sejawatnya, ya bu Dokter Ari itu yang di Harapan Kita..
Selang semingguan, kami periksa ke Dokter Ari di rumah sakit milik pemerintah itu. Beliau memaparkan dengan gamblang. Sederhananya, bercak putih pada bayi dimungkinkaan karena alergi yang nantinya terkait dengan exim.
EXIM dan ASMA
Exim kelamin? Eits, nanti dulu, exim ada macam-macam, memang ada yang berhubungan dengan exim kelamin dan kasus pada bayi kebanyakan lebih ke non-kelamin.
Nah kecenderungan exim non-kelamin juga beragam, ada yang implikasi ke pernafasan dan menjadi asma atau ke gangguan kulit kayak bercak putih.
Disini, faktor genetik banyak berperan, nggak mesti lewat jalur langsung orangtua kandung, bisa ditengarai dari saudara kita, nenek kakek sampai paman bibi.
Dokter Ari bilang, karena faktor genetik, maka kita mesti menyadari hal ini dan upaya penyembuhannya mesti cermat.
Beliau bilang, karena faktor inilah maka secara medis hanya bisa melakukan upaya pengurangan, syukur sembuh atau bercak hilang total. Kerajinan dan ketekunan ortu sendiri menjadi kunci.
Beliau itu juga menuturkan, beberapa hal yang perlu kita cermati apakah garis keluarga kita membawa faktor genetis exim, bisa dilihat dari salah satu atau gabungan tanda-tanda fisik.
Paling kentara, adakah kerabat kita yang menderita asma? Juga, apakah ada yang sering bersin di pagi hari. Lalu, bulu alis yang jarang juga menjadi penanda.
Benar juga, kakak kami salah satunya terpapar asma, keponakan kami juga. Seorang yang lain rajin bersin di pagi hari. Jelas sudah dan kami mengangguk-angguk :)
Pada bayi, selain bercak di beberapa bagian wajah secara acak, biasanya bercak melingkar di sekitar/depan kedua telinga. Persis seperti pada Kaka.
KEBERSIHAN RUMAH
Beliau juga mengingatkan, agar kebersihan rumah dijaga terutama rajin-rajin menyingkirkan debu. Periksa sudut-sudut rumah dan ventilasi udara yang biasanya debu tidak begitu terlihat.
Untuk bayi, jangan biarkan air mata dan keringat menempel terlalu lama. Sering-sering ganti bajunya jika sedang banyak keringat. Bulir keringat dan airmata ternyata juga menjadi media bercak putih menjalar.
Pula, segera seka dengan kain kering dan bersih. Pastikan pakaian si dede diseterika
tanpa pewangi/pengharum setrika usai dijemur kering, jangan hanya dilipat.