Minggu, 03 April 2011

Bercak Putih pada Bayi

UP-DATE: Setelah kami mengoleskan Shampo Selsun Blue seperti masukan dari dokter yang pertama kami temui, bercak putih tak juga hilang dari badan Kaka. Sedangkan setelah berganti salep Ezzera Cream dan body lotion untuk bayi, bercak di badan berangsur hilang. Ini masukan dari dokter kedua yang praktik di Kemanggisan.

Sayangnya, bercak putih pada wajah tetap bergeming. Enggan menyingkir dari alis, samping hidung dan depan kedua telinga. Kami mulai khawatir (lagi).

Untuk yang di wajah, dokter yang kedua ini memang memaparkan beberapa kemungkinan. Artinya, obat-obatan sebelumnya belum tentu bukan tidak manjur tapi mesti ditelisik penyebab pasti bercak putih. Karena selama ini lebih cenderung berupa hipotesa. Oleh karena itu, dengan bijak beliau juga memberi referensi agar kami memeriksakan Kaka ke teman sejawatnya, Dokter Ari, spesialis kulit di RS Harapan Kita, Slipi, Jakarta.

Selang semingguan kami periksa ke Dokter Ari di rumah sakit milik pemerintah itu. Beliau memaparkan dengan gamblang. Sederhananya, bercak putih pada bayi dimungkinkaan karena alergi yang nantinya terkait dengan exim.

Exim kelamin? Eits, nanti dulu, exim ada macam-macam, memang ada yang berhubungan dengan exim kelamin dan kasus pada bayi kebanyakan lebih ke non-kelamin. Nah kecenderungan exim non-kelamin juga beragam, ada yang implikasi ke pernafasan dan menjadi asma atau ke gangguan kulit kayak bercak putih.

Disini, faktor genetik banyak berperan, nggak mesti lewat jalur langsung orangtua kandung, bisa ditengarai dari saudara kita, nenek kakek sampai paman bibi.

Dokter Ari bilang, karena faktor genetik, maka kita mesti menyadari hal ini dan upaya penyembuhannya mesti cermat. Beliau bilang, karena faktor inilah maka secara medis hanya bisa melakukan upaya pengurangan, syukur sembuh atau bercak hilang total. Kerajinan dan ketekunan ortu sendiri menjadi kunci.

Dokter ramah itu juga menuturkan, beberapa hal yang perlu kita cermati apakah garis keluarga kita membawa faktor genetis exim, bisa dilihat dari salah satu atau gabungan tanda-tanda fisik. Paling kentara, adakah kerabat kita yang menderita astma? Juga, apakah ada yang sering bersin di pagi hari. Lalu, bulu alis yang jarang juga menjadi penanda.

Benar juga, kakak kami salah satunya terpapar asma, keponakan kami juga. Seorang yang lain rajin bersin di pagi hari. Jelas sudah dan kami mengangguk-angguk :)

Pada bayi, selain bercak di beberapa bagian wajah secara acak, biasanya bercak melingkar di sekitar/depan kedua telinga. Persis seperti pada Kaka.

Beliau juga mengingatkan, agar kebersihan rumah dijaga terutama rajin-rajin menyingkirkan debu. Periksa sudut-sudut rumah dan ventilasi udara yang biasanya debu tidak begitu terlihat.

Untuk bayi, jangan biarkan airmata dan keringat menempel terlalu lama. Sering-sering ganti bajunya jika sedang banyak keringat. Bulir keringat dan airmata ternyata juga menjadi media bercak putih menjalar.

Pula, segera seka dengan kain kering dan bersih. Pastikan pakaian si dede diseterika tanpa pewangi/pengharum setrika usai dijemur kering, jangan hanya dilipat.



Menurutnya, sekali lagi, jika bayi kita mengalami bercak karena exim maka hal itu akan terus dialami hingga usia 1,5-2 tahun dan setelah itu hilang sendiri. "Ya memang begitu, sikap kita terima saja. Tapi kan kita juga ada usaha, mudah-mudahan bisa membantu," pesannya.

Bisa juga, tambah beliau, bercak dan gangguan lainnya akan berlangsung hingga usia 15 tahunan, SD hingga sekitar SMP. Bukan menakut-nakuti, tapi ini agar kita siap dan tetap berusaha.

Lantas, beliau memberi resep obat yang bukan bikinan pabrik. Di apotek RS, kami menunggu beberapa waktu karena resep itu memang perlu diracik. Berupa salep untuk bercak putih dan salep untuk gigitan nyamuk yang ternyata jika dibiarkan akan mempercepat gangguan exim.

Beliau mencontohkan, kaki atau tangan anak-anak yang bentol-bentol berwarna gelap bekas gigitan nyamuk yang membekas hingga lama. Itu sejatinya terpapar exim kulit tapi orangtuanya kurang memerhatikan dan hanya mengira karena gigitan serangga semata.

Hasilnya?
Alhamdulillah yah, setelah pemakaian dua minggu, obat bekerja efektif. Bercak mulai memudar. Dan setelah minggu ketiga, benar-benar hilang.

Kami sendiri menangkap pesan beliau, kenali penyebab bercak putih jika bayi kita mengalaminya. Pengalaman kami, gangguan exim yang biasanya karena faktor genetis adalah penyebabnya, Langkah penyembuhannya selanjutnya berdasar dari hal itu. Dan resep Dokter Ari ternyata manjur. Sekali lagi, itu masih juga ditambah kepedulian dan kerajinan kita, orang tua buah hati. Bukan cuma kepekaan si Ibu bayi tapi juga Buuaapaknya qeqeqe



Cerita sebelumnya::
Ini bermula dari kami mencoba memeriksakan Kaka ke dokter anak di bilangan Kemanggisan untuk mendapat second opinion. Selain praktik di rumah, beliau juga dinas di RS Harapan Kita. Sebelum menentukan obatnya, Bu Dokter menanyakan detil Kaka, misalnya apakah belakangan ini banyak berkeringat.

Memang iya sih dan itu, menurutnya, membuat kulit bayi jadi lembab oleh keringatnya sendiri. Artinya, bercak putih Kaka bukan suatu masalah berat. Kami lihat, Bu Dokter terbilang bijak. Karena dia menelisik penyebabnya, baru kemudian memberi solusi. Resep yang ia berikan adalah salep Ezzera Cream, fungsinya sejatinya lebih untuk moisturiser bagi kulit bayi yang sensitif. Alhamdulillah, setelah dioleskan tipis-tipis selama 5-7 hari, berangsur bercak putih berkurang dan kontrasnya makin tidak lagi pekat. Ezzera mulai bekerja efektif di punggung karena bercak pada bagian itu yang pertama hilang.

Lebih dari itu, kulit punggung Kaka kembali halus dari sebelumnya terasa kering dan seperti bersisik. Alhamdulillah. Oya, update ini diposting karena artikel ini, seperti terlihat di statistik, banyak di klik kawan-kawan blogger. Juga terlihat dari keyword yang dipakai untuk menuju artikel ini seperti 'bercak putih bayi' dll.

So jika sebelumnya, kami mendapat resep Shampo Selsun Blue, maka sharing soal Ezerra ini semoga bisa membantu para bunda-ayah yang mungkin mengalami masalah yang sama pada dedek bayi :) +++  

Berikut ini, potingan sebelumnya, nama rumah sakit dan dokter pemberi resep Selsun Blue sengaja kami hilangkan untuk menghindari intepretasi yang bias :)

Semingguan ini kami sempat bingung sedikit cemas. Pasalnya, muncul bercak-bercak kecil warna putih di beberapa bagian tubuh si anak lanang Kaka 3,5 bulan. Di ujung pencarian solusi, muaranya adalah saran dokter untuk menggunakan shampo anti ketombe :)

Awalnya, Bunda Titi yang memergokinya muncul di belakang telinga. Lantas dagu. Sempat hilang namun lantas menjalar pelan- pelan di beberapa bagian punggung. Tidak merata memang. Meski Kaka tidak rewel, misalnya merasa gatel, tetap saja kami mesti waspada yang dibalut was-was. Informasi dan referensi. Bunda Titi sigap memencet E63-nya untuk browsing. Selancar via opera dan google yang lantas hinggap di beberapa milis dan blog.

Sayang, hasilnya nihil. Kalaupun ada kurang spesifik. Para Bunda yang berbagi curhat dan pengalaman pun mengalami hal yang sama pada putra-putrinya namun solusinya belum ketemu. Atau, belum pas. Biasanya, ketika kami butuh informasi seputar perawatan bayi, searching kanan-kiri sudah mendapat pencerahan. Mungkin, kali ini memang perkecualian. Positifnya, bisa jadi kali ini kami yang perlu share jika menemukan solusi bagi bercak putih pada bayi.  

Periksa ke dokter Sabtu kemarin, 2 April 2011, akhirnya kami meluncur ke rumah sakit tak jauh dari rumah di bilangan Asofa, selemparan batu dari Rawabelong. Odometer di motor paling-paling mengukur jarak 800 meter. Dari dokter spesialis yang praktik hari itu, menurutnya, itu lebih disebabkabn oleh jamur yang terhitung wajar muncul pada bayi di negara tropis seperti kita.

Alih-alih memberi resep obat jamur kayak Kalpanak atau salep 88 *buat bayi gitu loh* Pak Dokter menyarankan kami mengolesi dengan Selsun Blue. "Apaan tuh, Dok?" tanya kami berlidah dialek Betawi setelah setahun tinggal di Asofa, Kebon Jeruk. "Shampo. Untuk Ketombe. Ini mengandung sulfur untuk menghilangkan jamur." "Ooo."

Kalau sampeyan denger 'ooo' kami yang melongo, pasti menangkap ragu dan tanya. Karena faktor kompetensi pak Dokter-lah akhirnya kami pun mendengarkan analisis dan masukannya. Soal Selsun Blue yang shampo untuk ketombe pun kami terima.

Tentu di benak ada sedikit rencana untuk mencari seken eh second-opinion. Malam itu juga, kami dapatkan sampo itu di apotek di ujung Jl Berdikari setelah mentok ngubek-ubek Alfa Midi Kemandoran-Rawabelong. Tentu, kami sengaja nggak keluyuran ke 7 Eleven di seberangnya.

Nyari obat buat anak kok disambi nongkrong qe3 Esoknya, kami nelpon Mbak Warih, kakak kandung perempuanku yang tinggal di kampung halaman Jogja. Dia juga bekerja sebagai analis kesehatan di laboratorium Puskesmas. Olala, minimnya referensi yang selama ini bikin kami ragu dan cemas akhirnya dikuatkan oleh mbak Warih.

Ia mengiyakan bahwa Selsun Blue bisa untuk mengatasi bercak putih akibat jamur pada bayi. Ia juga bertutur, ketika tugas praktik di RS Sarjito, mbak Warih sempat bertanya pada kawannya yang bertugas di Poli Anak rumah sakit itu.

Jawabannnya pun sama. Malah, mereka juga mengoleskan sampo itu ke badan bayi yang dirawat di sana jika mengalami hal yang sama. Penggunaannya sendiri, menurut saran Dokter yang diamini oleh mbak Warih, dioleskan tipis sebelum mandi menggunakan tangan, dibiarkan selama 10 menit lantas dimandikan tanpa sabun. Semoga ini berhasil. Amien.

(Note: ternyata belakangan, pengobatan memakai sampo ini tidak berpengaruh. Bercak putih tetap ada, dan hilangnya setelah kami periksakan ke Bu Dokter Ari di RS Harapan Kita. Makanya, saya tulis "UPDATE"nya di bagian atas.)

Salam.
@inung_gnb

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails