Showing posts with label Tanjung Duren. Show all posts
Showing posts with label Tanjung Duren. Show all posts

Wednesday, October 8, 2008

"Halah...masih dolan-dolan kesini koq!"

Itu kata Cutiq si kucing arab (baju kotak-katok, berkacamata), tadi pk 7 pas pamitan di lantai 4, sarang para kalong Tanjung Duren. Lantas, alumni Unsoed ini cipika-cipiki ama Mafie dan Astrid (berjilbab hitam dan atunya pink).

"Bye-bye, see u nextime, nextdoor!" ujarnya padaku, tanpa cipika-cipiki :)) dan kami berjabat tangan komando sebelum farewell jeprat-jepret. Ciaoo....

Thursday, September 25, 2008

Kalong Tanjung Duren


Yupiieee... kalo Batman bin kalong van kelelawar meluncur dari sarang begitu petang berganti pekat, kelelawar Tanjung Duren ini baru ninggalin markas selepas tengah malam pergantian tanggal.

Ketika lampu-lampu jalan hanya menerangi aspal basah, laju Espass kami pun sendirian menguasai lebar ruas jalan. Di tengah mata yang menyipit saking terlalu intim dengan MS word, Mozilla Firefox dan YM serta Message PopUp, kami melaju dari kantor di belakang Taman Anggrek mengarah ke Bekasi Barat. Sebenarnya, ini perjalanan biasa setiap hari Rabu dan Kamis, hari deadline tabloid Gaul. Kami berenam, penghuni ruang redaksi lantai 4, udah jadi prosedurnya diantar ampe rumah masing-masing. Tapi, malam itu kami punya rencana lain...Sahur di McD 24 jam di Pangkalan Jati, 01.33--02.37 wib. Yihaaa...

Monday, September 22, 2008

Telepon dari Pasar Minggu



"Hallo Nung, aku Hendra," repet seseorang dengan dialek Batak di speaker Motorola-ku, pagi menjelang siang ini. "Masihkah di majalah sawit itu?" lanjutnya sebelum aku bertanya siapa 'Hendra'. Rupanya dia, tepatnya Pak Hendra, kenalanku di JCC pas liputan Sampoerna Agro Expo, April silam.

“Gini Nung, aku sekarang mengelola majalah bulanan perkebunan. Kita butuh teman-teman redaksi buat bikin ramai nih,” katanya sambil menyebut sebuah departemen di kawasan Pasar Minggu, pemangku majalah itu. Kujawab bahwa aku sudah tidak lagi nongkrong di Cibubur, kantorku dulu. Juga tak lagi bergelut dengan harga CPO yang membumbung pada angka $1300/ton dan lantas bummm… rubuh di kisaran $700/ton dalam selang 3-4 bulan.

“Saya sekarang di tabloid remaja,
Gaul, di Tanjung Duren. Arah Grogol, Jakarta Barat, Pak,” jawabku setelah dia bertanya kemana sekarang aku berlabuh. “Jauh banget kamu pindah,” lidah Bataknya makin nyaring dan disambung dengan tawa hahaha. Mungkin maksudnya ‘jauh’ adalah soal perbedaan ranah media, tapi juga bisa menyoal jarak antara Cibubur-Tanjung Duren yang dari ujung ke ujung. “Sering ketemu artis kau!” celotehnya dan kujawab, tiap hari lah Pak! Tak terasa lidahku mendadak Batak. Tapi gagal total, jangankan lidah, seumur-umur bibirku saja belum pernah menjangkau bibir bidadari Batak. Hmm… mendadak curhat nih!

“Ya itulah, kapan-kapan kalau Inung ada waktu mainlah ke kantor yang di Pasar Minggu ya! Lantai 3 gedung B,” undangnya yang aku iyakan. Kubilang juga, aku akan baca majalahnya dulu biar nanti ngobrolnya lebih cair. Di ujung sana, Pak Hendra menunjuk beberapa toko buku besar tempat majalah itu ikut menyesaki outlet majalah dan koran. “Nanti bisa lah kau bikin wawancara perkebunan sama artis-artis itu ya,” katanya sebelum menutup perbincangan ramai kami. Siap komandan!!!

Hmm, bulan puasa ini memang penuh berkah.

Semoga menjadi rejeki, haiyaaa....

Tuesday, September 16, 2008

I'm here now!!!

Di sini lah kini, di sisi barat Jakarta yang nihil langit biru, bahkan biru muda pun sekalipun. Terlapis oleh asap menggantung. Jangan tanya sunrise, kutunggu selepas sahur sabtu kemarin pun yang ada hanya semburat oranye. Jangan harap pula keelokan matahari tenggelam datang tiap petang. Tapi, kalau memang beruntung, kadang kala bulat-merah-merona-menjilat begitu cantik di tepi horizon.

Disini pula, kusapa dunia dari dinginnya lantai empat. Setelah naik tangga lapis tiga yang bikin lututmu gemeretak, selamat datang di dunia yang ramai, dunia yang tak benar-benar lelap.***